
"Siapa itu The Mafia Phoenix?" tanya Abhi dengan serius.
Alvaro terdiam sejenak. Menimbang apa yang akan diceritakan pada Abhi. Tapi satu hal pasti, hanya Asfa yang berhak mengatakan semua jati diri keluarga Phoenix pada Abhi. Alvaro menghela nafas. "Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Bersabarlah. My doll akan mengatakan disaat yang tepat."
"Apa kalian keluarga misteri? Tidak kamu, tidak Asfa. Sama saja membuat ku tenggelam dalam pertanyaan tanpa jawaban." tukas Abhi menggelengkan kepala.
"Terkadang apa yang kita lihat hanyalah topeng, anda pasti akan terkagum dengan Queen. Itu pasti." ucap Rania yang tidak rela, queennya di ragukan.
Perbincangan Alvaro, Abhi dan Rania terhenti. Ketiganya seakan sepakat diam tanpa melanjutkan perdebatan yang tak berujung. Berbeda dengan wajah Asfa, wajahnya sangat serius menatap wanita muslimah di ruangan kerja bernuansa eropa. "Apa arti semua ini?"
"Nak, dengarkan nenek dulu. Duduklah!" tukas Nenek Ara merangkul Asfa agar duduk di tempatnya kembali.
Tuan Luxifer hanya menjadi pendengar, tanpa berniat untuk ikut campur. Terlebih melihat ibu mertuanya, pasti akan mendapatkan masalah besar dari Asfa.
Nenek Ara mendudukkan Asfa agar duduk bersamanya. "Mungkin ini tidak adil untukmu. Tapi ini yang terbaik untukmu nak. Nenek yang membawamu ke jalan ini."
Sebuah map polos diserahkan nenek Ara, Asfa menerima map dan membukanya. Sejenak matanya hanya fokus, hingga detik selanjutnya. Mata Asfa membola sempurna, hatinya bergemuruh. Ada pedang terasa menusuk jantungnya tanpa ampun.
Inikah yang sebenarnya terjadi? Dunia dan hatinya dipermainkan. "Jangan hubungi aku lagi! Dan tarik semua CCTV anda! Atau aku sendiri akan menghilang dari pandangan anda!"
Ancaman tingkat tinggi seorang Xifer muda. Suara itu bukan lagi hanya sebuah intimidasi, tapi suara itu adalah boom waktu. Sudah pasti keputusan harus diambil dengan tepat, tuan Luxifer yang mendengar ultimatum Asfa langsung bergegas menarik map di tangan putrinya.
Dua menit kemudian...
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan! Anda..." tukas tuan Luxifer menghela nafas dalam.
Tidak ada lagi yang bisa merayu Asfa, jika keadaan diluar kendali dan batas aturan gadis bintang di langgar. Maka hanya satu kemungkinan terakhir, yaitu memberikan apapun yang Asfa inginkan. Tanpa syarat dan tanpa penolakan.
Asfa pergi meninggalkan ruangan kerja, tanpa menengok ke belakang. Membiarkan papa Luxifer dan nenek Ara memutuskan awal masalah dari kehancuran hati putri keluarga mereka.
"Selama ini aku memberikan hak penuh pada Asfa atas hidupnya. Tidak sekalipun aku membuat putri ku merasa dibedakan dari kakaknya Varo. Aku menerapkan pada kedua anakku, untuk bertanggungjawab pada keputusan mereka. Kenapa anda, membuat keputusan sebesar ini dan tanpa pemberitahuan? Bukankah anda tahu jika Asfa memiliki darah Naura? Putri tercinta anda!" tutur tuan Luxifer dengan menahan amarah dan rasa sakit di hatinya.
Sebagai seorang menantu yang menolak bantuan ibu mertua. Sudah pasti hubungan kedua insan itu tidak harmonis, tapi jika menyangkut Asfa dan Varo. Sudah pasti keduanya siap mempertaruhkan nyawa ketika bahaya menghadang. Tapi masalah kali ini, bukan bahaya dari musuh.
"Aku tidak ingin Asfa jatuh ke tangan orang yang salah. Dia baik dan bisa menjadi pasangan yang tepat untuk putri sedingin Asfa. Hati Asfa tidak seperti gadis pada umumnya! Apa kamu ingat bagaimana Naura? Percayalah, Abhi pria yang tepat." jelas Nenek Ara dengan menatap tuan Luxifer.
Helaan nafas begitu dalam. Pejaman mata tuan Luxifer seakan tak cukup meredakan emosi dan jalan fikiran di kepalanya. Membantah ibu mertua salah, diam pun salah. "Bebaskan Asfa dari pengawasan anda! Jika anda merasa Naura ada pada Asfa. Anda tahu keputusan yang terbaik. Tenang saja, aku akan menenangkan Asfa."
"Jangan biarkan Varo tahu hal ini! Aku tidak mau, Varo membawa Asfa jauh dari kita. Sekeras-kerasnya Asfa, Varo lebih keras kepala." tegas tuan Luxifer.
Nenek Ara mengangguk, tanda setuju. Naura memilih pasangan yang tepat, Luxifer sangat memahami dan mengenal kedua belahan jiwa putrinya itu. Ada rasa haru terhadap Luxifer, dimana selama bertahun-tahun tidak memberikan perbedaan antara Asfa dan Varo.
"Aku akan menyusul Asfa, tolong jaga diri Anda. Tahan Varo dan istrinya selama seminggu di sini." pinta tuan Luxifer.
"Pergilah, aku akan menjaga Varo dan Rania." jawab nenek Ara dan membiarkan Luxifer keluar dari ruangan kerjanya.
Aku berdo'a agar Tuhan mempersatukan kalian. Tuhan lengkapilah keluarga kami dengan cinta kasih, kebahagiaan putra dan putri kami. Harta dan tahta ini hanyalah ilusi, senyuman putra putri kami menjadi nyawa kami. ~ batin nenek Ara dengan menengadahkan kedua tangan ke atas, membasuh tangan ke wajahnya setelah berdoa meminta kebahagiaan.
__ADS_1
Tuan Luxifer memandang ruangan makan yang kosong. Villa yang hanya dijaga diluar bukan di dalam, membuat tuan Luxifer kebingungan bertanya pada siapa.
"Pa? Mana Asfa?" tanya Alvaro yang baru keluar dari lorong perpustakaan.
"Bantu papa mencari Asfa! Tanyakan pada penjaga luar, apa ada penerbangan heli atau kendaraan apapun yang meninggalkan villa lima belas menit lalu," jelas tuan Luxifer membuat Alvaro cemas.
Alvaro mengangguk. Bergegas melangkahkan kaki meninggalkan villa. Hampir saja langkah kakinya melewati ambang pintu. "Papa hutang penjelasan pada Varo!"
...~~~...
.
.
. ***hay readers 😘
.
.
. Othoor cuma mau bilang, kalau karya My Secret Life masih dalam tahap revisi ya.
. Setiap bab yang udah othoor revisi pasti ada tulisan (Bab ke berapa plus pesan othoor otomatis yang selalu sama kaya dibawah ini 👇***)
__ADS_1