My Secret Life

My Secret Life
Bab 39: Keputusan dari pilihan terbaik


__ADS_3

"Queen." panggil Justin dengan serius.


"Jika mereka bisa di andalkan, biarkan mereka melakukan perintah ku tanpa mu. Keputusan ada di tanganmu, bibi Nora siapkan makan malam." ucap Asfa meninggalkan semua orang tanpa memberikan kesempatan seorang pun mengeluh.


Mendengar itu Justin berfikir sesaat dengan sekilas melihat arah belakang sana dimana anak buah nya berdiri, memang biasa nya semua atas perintah nya dan dilakukan secara pribadi oleh anak buahnya tanpa dirinya. Tapi setiap tugas yang mampu membangkitkan jiwa iblis nona muda nya pasti lah bukan hal sepele, di pandangi nya satu persatu makhluk yang seumuran dengan nona muda nya. Semua terlihat kalem tanpa mata jelalatan, tapi satu makhluk yang terpisah terlihat berbeda dengan kilatan kelam mata hitamnya yang menggambarkan kelicikan didalam diri makhluk itu.


"Kalian bawa ke empat anak ini ke mansion queen, dan tinggalkan satu makhluk ini bersama ku." ucap Justin dengan tegas sembari mengangkat pemuda yang memiliki bekas luka merah melingkar di lehernya.


Terlihat ke empat anak buah nya mengikuti perintahnya tanpa menjawab membawa keempat makhluk yang ntah akan di apakan oleh queen nya, sedangkan langkah Justin menuju satu ruangan yang terlihat tertutup dari segala sisi.


"Di kunci? Bagaimana ini? " gumam Justin yang melihat pintu itu tidak bisa di buka nya.


"Biar saya bukakan tuan." ucap seorang wanita yang ternyata sudah ada di sampingnya.


Ceklek...


"Bi bisa buatlah jahe anget, rasa nya sangat lelah akhir-akhir ini." pinta Justin sebelum menutup pintu yang sudah terbuka.


"Tentu tuan, akan saya sajikan bersama makan malam." jawab Nora membungkuk badan dan pergi.


"Siapa kalian sebenarnya? Apa kalian tidak tahu siapa aku! " bentak pemuda itu yang mencoba memberontak dari genggaman Justin.


Hening......

__ADS_1


"Hey lepaskan aku! Aku putra dari pemilik pondok ini, berani...." seru pemuda itu yang terhenti karena sentuhan cinta.


Plaaaak.... Bruuug.....


Satu tamparan yang lebih keras hingga tubuhnya tersungkur mencium marmer dengan rasa perih yang mengalirkan cairan hangat dari sudut bibirnya, yah satu tamparan itu yang membuat sudut bibir pemuda itu sobek. Suara menggema itu juga terdengar di dalam kamar Asfa namun gadis itu memilih menikmati air hangat dengan aroma mawar untuk merilekskan jiwa iblisnya yang masih bertarung di dalam jiwa nya.


"Jangan bermimpi tinggi sebelum kaki mu menghilang untuk berpijak di bumi." ancam Justin setelah menarik paksa tubuh pemuda itu untuk duduk di kursi dan di ikat dan di lakban dengan kasar.


Terlihat sorot mata yang siap memberontak namun tak ada rasa kasihan tapi yang ada rasa ingin membunuh pemuda itu ketika telinga nya kembali mengingat ucapan seenaknya dari makhluk tak tahu diri itu. Dengan keras di tutup kembali pintu itu sembari menguncinya kembali, langkah nya kini menuju ke kamar utama di mana kamar queen nya berada.


Tok... tok... tok....


Sudah berapa kali ketukan namun tetap tidak ada jawaban, hingga tangan itu memilih untuk berhenti dan menunggu queen nya di tempat yang pasti akan di datangi nya, terlihat bibi Nora masih sibuk menyiapkan beberapa masakan dengan semangat dan senyuman.


"Silahkan di minum tuan." ucap bibi Nora yang ternyata menyadari keberadaan Justin di meja makan.


"Baik tuan, apa nona muda masih dingin tuan? Bagaimana kesehatan nona muda? " tanya balik bibi Nora yang terlihat jelas kesedihan terpancar di mata nya.


"Aku baik bi, lihatlah kaki ku masih bisa berjalan sendiri." jawab Asfa yang sudah menuruni anak tangga tanpa suara langkah kaki.


Kebiasaan nya melepaskan alas kaki selalu muncul dimana saja tanpa suara membuat siapapun harus waspada jika hafal dengan kebiasaan nomer satu dari nona muda nya itu, terlihat Justin masih menikmati minumannya dan bibi Nora yang berdiri tidak jauh dari Justin memandang kedatangan nona muda nya.


"Maafkan aku jika mendiamkan bibi selama ini, tapi ku harap bibi tenang dan jangan khawatir kan aku. Aku akan menjadi kuat untuk melindungi diriku sendiri dari dalam dan luar." ucap Asfa menggenggam tangan bibi Nora untuk menyalurkan perasaan sayangnya.

__ADS_1


Greeeb...


"Bibi merindukan non yang ceria dengan segala kejahilan seperti dulu.Hiks.. hiks.. " ucap bibi Nora memeluk Asfa dengan sesengukan.


Hanya elusan bahu yang diberikan Asfa tanpa sebuah jawaban karena permintaan bibi Nora tidak mungkin dapat dikembalikan, setelah tenang bibi Nora mulai menyiapkan makan malam special. Menu hidangan yang biasa di hidangkan olehnya, ayam panggang dengan sambal cabe hijau, tumis brokoli hijau dengan suwiran jamur di tambah udang tepung goreng yang crispy menjadi pelengkap nasi merah.


"Wah special dinner, ayo kita makan bersama." ajak Asfa dengan semangat.


"Bibi mau kemana? Queen mengajak kita berdua, bukan hanya aku. Silahkan duduk bi." ucap Justin menyiapkan kursi satu lagi yang ada di dekatnya.


"Apa bibi khawatir dengan pemuda itu? " tanya Asfa tanpa menatap bibi Nora.


"Non." ucap bibi Nora seakan tercekat karena fikiran nya terbaca.


"Duduk dan makan!" perintah Justin tanpa menaikkan suara nya karena dapat di rasakan aura queen nya kembali terganggu.


Awal yang manis namun berakhir dengan makan malam yang bisu, hanya sesekali terdengar dentingan sendok dan garpu. Terlihat jelas wajah tanpa ekspresi menyelimuti wajah Asfa, bahkan selera makannya terlihat menghilang. Hanya tiga suap dan gadis itu sudah menyelesaikan makan nya, dan beranjak menghilang ke dalam kamar nya.


Hingga beberapa saat terlihat kembali sosok nona muda nya turun dengan aura dingin yang lebih pekat, terlihat satu tangannya menggenggam sesuatu. Langkah kaki nya terhenti dan membungkuk di hadapan bibi Nora, Justin ingin protes namun satu jari tanda diam dari queen membuat nya menjadi patung pancoran.


"Jika dia berharga, ambil dan pergilah sejauh yang kalian bisa! Jika mata ini melihat kalian meskipun hanya siluet bayangan kalian maka tidak ada ampunan lagi untuk kalian! Anggaplah ini balas budi ku karena bibi telah merawat ku dengan cinta seorang ibu." ucap Asfa dengan menyerahkan sebuah kunci mobil yang ada di garasi dan sebuah flashdisk ke tangan bibi Nora.


Terlihat jelas mata bibi Nora berkaca namun antara iya dan tidak terlihat wanita itu ragu, sedangkan queen nya kembali meninggalkan ruang makan. Melihat kepergian queen nya , Justin ikut meninggalkan meja makan namun langkah nya terhenti sebelum menginjakkan langkah di tangga pertama.

__ADS_1


"Anda lebih tahu hukuman atas pelecehan dan segala jenis pelanggaran di dalam naungan tuan besar. Kali ini queen masih berbaik hati, lihatlah apa yang queen berikan pada anda dan putuskan apa yang benar menurut anda." ucap Justin memperingati bibi Nora.


Dengan langkah Justin menghampiri nona muda nya membuat bibi Nora bergegas masuk ke dalam kamar nya menyambar sebuah laptop yang sudah lama menemani waktu kesepiannya, tanpa gemetar di masukkan flashdisk itu ke tempat nya. Dengan beberapa klik akhirnya beberapa video dengan bukti lainnya terpampang jelas, satu persatu di lihat nya setiap video.


__ADS_2