
Melihat situasi yang tidak berguna, bahkan perdebatan hanya menguras emosi dan tenaga, satu menit ruangan hening hingga wanita bertopeng bangkit dari tempat duduk nya dan itu sukses membuat bulu kuduk tamu delegasi asing merinding. Semakin lama membuat mereka ingin segera berlari dari situasi skot jantung saat itu, dan lihat lah pria yang membawa bencana masih terlihat diam tanpa kata meskipun wajahnya mulai memucat.
"Kembalilah ke negara kalian! Kerjasama sama batal! " ucap Queen dan membuka map di atas meja.
Terlihat lembaran kertas emas itu menjadi satu tumpukan tipis namun berkilau, sesaat queen menunjukkan kontrak kerjasama yang bisa di pastikan akan membuat siapapun memiliki keuntungan berlimpah tapi sebentar lagi semua itu tidak akan berguna meskipun air mata darah di keluarkan.
"Duke, siapkan." perintah queen tanpa melihat siapapun selain kontrak kerjasama di tangannya.
"Ten minute." jawab Justin dan keluar dari ruangan.
"Bagaimana dengan pengajuan kami? Bukankah kita semua sudah sepakat?" tanya wanita dewasa yang juga tamu delegasi asing.
"Ekhem.Apakah anda amnesia? Baru beberapa detik kalian meminta kontrak kerjasama baru." jawab queen dengan nada sinis.
"Bukan itu maksudnya kami, kami hanya ingin... " sambung pria paruh baya yang wajahnya sangat gusar.
"Stop! I don't care what you all decision! Your all choose make new contract, Right?" ucap queen dengan nada yang lebih mengintimidasi.
Bersamaan dengan itu terlihat pria dengan masker dan topi sudah mendorong masuk sebuah alat, wajah-wajah tegang terlihat tapi masih tidak paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga langkah kaki queen berdiri tepat di atas, terlihat satu tangan kanannya mengatur suhu alat di depan nya.
"Duke siapkan deportasi untuk para tamu ku. Blacklist mereka selama dua tahun! " perintah queen yang langsung di jawab dengan bungkukan badan Justin.
"Maaf nona, apa maksud anda dengan ini? Kami hanya meminta membuat kerjasama baru bukan membuat masalah." sergah pria paruh baya yang semakin pucat wajahnya.
"Kalian telah menyinggung orang yang salah, seperti nya kalian tidak menyadari masuk ke perusahaan siapa. Silahkan kembali ke tempat tinggal kalian atau polisi akan membawa kalian ke meja hijau." jawab Justin dengan tegas.
__ADS_1
"Apa anda tidak punya hati? Bagaimana bisa anda memutuskan secara sepihak? " ucap Raymond dengan berdiri dari tempat nya duduk.
"Kenapa anda diam saja? Apa anda tidak menganggap kami? " ucap Raymond lagi semakin mendekati queen.
Empat langkah kaki lagi maka Raymond akan sampai di depan queen yang hanya memandang alat pemanggangan di depannya, tapi tentu fokus nya tidak akan terlupakan. Satu tangan nya memberikan isyarat pada Justin untuk menghentikan langkah Raymond, dan benar saja pria itu langsung berjalan dan berdiri menutupi queen nya.
"Jangan halangi aku! " ucap Raymond dengan nada emosi.
Wajah itu masih samar meninggalkan bekas lebab namun tidak mengurangi sisi garis oriental nya, Justin yang merasakan tangan ada di pundak nya segera mengikuti arahan tangan yang meminta nya untuk bergeser. Kali ini terlihat queen maju mendekati Raymond dan berdiri di samping Justin, empat lembar kontrak di serahkan ke assisten nya.
"Lakukan! " perintah queen dan mempersilahkan Justin yang menyelesaikan keinginan nya.
"Sttt! Open your eyes. " ucap queen dengan satu telunjuk di bibir nya meskipun tertutup topeng.
Hawa panas itu bukannya menyurut tapi semakin menjadi membuat ruangan seperti suasana konser dadakan, tidak ada yang bisa bergerak dengan apa yang di lakukan oleh Justin. Pria itu telah memanggang kontrak kerjasama yang memang terbuat dari emas asli dan secara otomatis kini lembaran emas itu berubah menjadi lelehan.
"CONGRATULATIONS for the best contract." ucap queen setelah bertepuk tangan.
"Anda mempermainkan kami! " seru Raymond dengan tanduk di kepala nya.
"Kalian seorang pembisnis dan hanya menjadi wakil, tapi sikap kalian seperti pemilik perusahaan? Hormati mereka yang menghormati mu, bukankah itu pepatah paten?" ucap queen dengan santai dan berjalan kembali ke tempat duduknya.
"Hello mister Asley, Mister Damond and Miss Riska, i hope my gift already coming to your company. " ucap queen yang ternyata sudah membuat sebuah panggilan selama beberapa menit sebelum contract menjadi lelehan emas.
"Of course queen, thanks very much. Beautifull gift, we all very excited." jawab miss Riska.
__ADS_1
"But now i waiting the new contract. Come to my county, meeting in my company." ucap queen mengundang pimpinan perusahaan yang menjadi tempat kerja ketiga tamu delegasi asing.
"Why not, we will coming soon." jawab ketiga nya serempak dan panggilan berakhir dengan queen memutuskan sambungan telepon.
Bruuug....
Satu wanita dewasa langsung terjatuh pingsan setelah mendengar hal itu, karena memang panggilan di lakukan dengan loudspeaker maka semua nya mendengar. Pastinya kini karir ketiga tamu delegasi asing akan terancam hancur setelah berjuang dengan banyak pengorbanan, terlihat satu pria paruh baya yang masih terdiam sejak awal langsung bangun dari tidur dan bersimpuh di bawah kaki queen meminta pengampunan.
"Ampuni saya queen, saya memiliki istri dan anak. Berikan saya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan saya. Saya mohon." pinta pria itu dengan mengatupkan kedua tangannya di atas kepala.
"Tuan Muller, anda salah orang. Mintalah bantuan pada orang yang membuat kontrak itu terbuang sia-sia." jawab Queen dan bangkit dari duduk nya.
"Setiap perbuatan akan ada pertanggungjawaban, silahkan lakukan tanggungjawab anda Vano Raymond." ucap queen yang sejenak berdiri tepat di depan pria muda itu dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku salah, ku kira kamu gadis kecilku yang baik hati tapi aku hanya melihat keegoisan di dalam dirimu." seru Raymond yang membuat queen berhenti di depan pintu.
"Duke bereskan kekacauan ini!" perintah queen dan melanjutkan perjalanan nya.
*Si@l, apa aku salah. Tapi perasaan ku mengatakan itu dia? Astaga sekarang bagaimana? * batin Raymond dengan mengusap wajah datarnya.
"Kalian beruntung, hanya akan di deportasi bukan di eksekusi. Masih menjadi bawahan tapi bersikap sok-sok-an, ck." sindir Justin dan memberikan isyarat pada bodyguard yang sedari tadi berdiri di ruangan layaknya patung.
"Waktu kalian hanya dua hari, setelah itu selamat tinggal." ucap Justin dan meninggalkan ruangan meeting.
Meskipun Justin meninggalkan ruangan meeting, tapi sudah tentu keamanan sudah di panggil untuk mengusir tamu tak berguna itu dan dirinya harus kembali menghadapi kemarahan nona muda nya. Jangan lupakan kesalahan nya setelah melihat kesalahan orang lain, yah itu juga termasuk prinsip nona muda nya.
__ADS_1
Tapi nona muda nya tahu tempat dan waktu untuk memberikan hukuman atau memutuskan hal yang lebih penting di saat situasi tak memungkinkan, yah sosok yang bisa mengendalikan emosinya meskipun badai menggoncangkan hati dan fikiran nya. Pintu itu langsung terbuka di saat Justin masih kurang dua langkah, artinya nona muda nya memang menunggu dan sudah siap bertemu dengan nya.
"Bantu aku Tuhan, kenapa ujian sekolah lebih mudah ya? Aissh. " gumam Justin dan melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruangan presdir.