
Tok... Tok... Tok...
"Tuan." panggil seseorang yang langsung masuk setelah mengetuk pintu.
"Keluar lah! " perintah tuan besar dengan isyarat tangan nya untuk pengawal itu meninggalkan ruangan kerja nya.
Ceklek...
Begitu pintu tertutup, sebuah suara yang cukup menusuk membuat ruangan itu menjadi panas dingin dan tidak ada langkah kaki yang terdengar lagi. Hingga topeng itu terlepas dari wajah nya dan kini tubuh nya berbalik menghadap ke pintu masuk yang sudah tertutup rapat.
"Tetap di sana!"
"No dad, this my time." cegah Asfa yang melihat papa nya ingin membujuknya.
"Hhaah, okay." ucap tuan besar dan memilih untuk duduk di kursi kebesaraan nya dan menjadi penonton.
"Tell!" ucap Asfa sembari menyedekap kan kedua tangan nya dengan alis terangkat menatap tajam lawan bicara nya dengan mata biru nya.
"Semua terjadi seperti yang kamu ingin kan nak, perusahaan itu hancur. Apa lagi yang harus di jelas kan? " ucap lawan bicara nya.
"Aries tell what problem in this company? " tanya Asfa beralih ke lawan bicara lain nya yang hanya bisa meringis diam sejak masuk ke ruangan.
"Seperti yang ku katakan sebelumnya, sistem keamanan perusahaan tuan besar mengalami penyerangan berulang kali selama hampir seminggu lebih, setiap kali pemyerangan selalu ada mode perang baru yang membuat para IT perusahaan kewalahan. Sementara masih aman tapi ntah lah lain waktu." ucap Aries yang wajah nya berubah serius sekali lagi.
"It's clear what really happened! Dad? " ucap Asfa berbalik memandang papa nya yang memijat pangkal hidung nya.
Melihat papa nya seakan benar-benar pusing dengan masalah yang tengah di hadapi nya, Asfa melangkah mendekati sosok kekar yang selalu ber kharisma dengan aura yang dingin. Perlahan jemari mungilnya memijat kedua pelipis papa nya dengan pijatan lembut namun menenangkan, tidak ada pembicaraan selama jemari nya melakukan terapi untuk papa nya.
"Ayo kita bicara, kalian duduk lah! " ucap tuan besar sembari menarik tangan putri nya dan mengecup nya sembari menuntun putri nya untuk duduk di tempat nya.
Kini Asfa duduk menggantikan papa nya di kursi kebesaraan nya sedangkan dua pria lain di seberang meja dengan duduk di dua kursi yang tersedia, sedangkan papa nya memilih untuk berdiri. Sejenak papa nya membuka laptop yang ada di atas meja, beberapa ketikan dengan jemari yang mulai memiliki kerutan hingga beberapa file terbuka.
"Semua nya ada di dalam sini nak, percayalah papa bisa mengatasi nya. Tapi mungkin Aries benar, papa membutuhkan bantuan mu." ucap tuan besar dan membiarkan putri nya melihat setiap file di dalam laptop kerja nya.
Tidak ada jawaban karena gadis itu tengah focus dengan file yang membuat papa nya memijat pangkal hidung, pasti lah masalah nya bukan sepele. Satu file berganti ke file lain hingga memakan waktu tiga puluh menit, membuat suasana ruangan semakin dingin dan senyuman iblis itu kembali hadir membuat satu pria menggeleng lemah melihat senyuman itu.
__ADS_1
Sedangkan dua pria lain justru ikut tersenyum dengan penuh arti, membuat satu orang yang geleng kepala harus menelan susah payah saliva nya. Kini yang terlihat mengerikan bukan hanya satu orang tapi tiga orang sekaligus, satu banding tiga sudah pasti dirinya yang kini jadi tumpeng nya.
"Tuan besar, bisakah minta putri mu untuk berhenti tersenyum seperti itu? Dan anda beserta satu orang di sebelah ku kenapa ikut tersenyum juga." protes orang yang menggeleng kan kepala nya.
"Diego!" peringatan tuan besar dengan nada berat nya.
"Okay.Just shut up. " jawab Diego sembari menaruh jari telunjuk nya ke bibir sendiri.
Hanya satu panggilan nama dengan suara intimidasi dari tuan besar maka Diego paham jika tidak boleh berkomentar selain hanya diam dan mengikuti apapun keputusan atau rencana yang akan terjadi sebentar lagi, tapi tidak ada kata-kata rencana yang keluar selain hanya suara ketikan dari jemari mungil yang berselancar di atas papan ketik itu. Tuan besar terlihat melihat apa saja yang di lakukan putri nya, memang putri nya itu lebih cepat dan lebih genius dari dirinya, lihat saja bagaimana dalam waktu lima menit sebuah sistem sudah terbentuk dan menjadi perisai sistem perusahaan nya.
"Kumpulkan semua IT perusahaan, pulangkan semua karyawan selain IT, ah ya buat lowongan IT dadakan untuk hari ini." perintah Asfa dengan senyuman iblis nya setelah selesai bermain di atas papan ketik.
"Maksud anda, siapapun karyawan yang memiliki keahlian IT bisa tetap tinggal? " tanya Aries memastikan.
"Right! Do it now! " jawab Asfa dan menyandarkan tubuh nya ke kursi.
"Okay, give me time 30 minute." ucap Aries dan meninggalkan kursi dan segera keluar dari ruangan tuan besar.
"Diego siapkan ruangan adu talent semua IT! " perintah tuan besar pada bayangan nya.
"Done." jawab Diego dan mengikuti Aries yang sudah meninggalkan ruangan tuan besar.
"Di atas masih ada yang lebih pintar pa, kita hanya berusaha yang terbaik. Laper pa." ucap Asfa dengan manja.
"Okay, wait here. " ucap tuan besar dan ikut meninggalkan ruangan kerja nya.
Kepergian tuan besar membuat Asfa menggambil ponsel nya dan menyambungkan nya ke earphones yang masih setia di telinga nya, sebuah nomer yang menjadi tujuan nya di tekan dan tanpa menunggu lama sambungan telepon itu di angkat dan suara khas masuk ke gendang telinga Asfa.
"I need you, come we worked together now." ajak Asfa dan mengirimkan e-mail ke tujuan.
Percakapan terjadi dengan jemari yang berselancar tidak henti nya seakan membuat nya kembali hidup dengan rumus-rumus seorang hacker, hingga pintu kembali terbuka dan menampakkan wajah papa nya yang sudah keluar selama dua puluh menit dan kini membawa sebuah paper bag di tangan kiri nya. Aroma yang tercium lezat mampu menembus paper bag itu, tapi percakapan masih ber langsung membuat nya mengangkat jari untuk menunggu pekerjaan nya selesai lima menit lagi.
Memahami isyarat putri nya membuat tuan besar hanya mengeluarkan makanan yang di buat nya dari pantry perusahaan dan menyiapkan nya di atas meja lain yang memiliki sofa panjang putih, setelah lima menit terlihat putri nya sudah berhenti berselancar di atas papan ketik dan menutup panggilan yang ber langsung. Langkah nya meninggalkan kursi kebesaraan dan mendekati hidangan sederhana yang selalu membuat jiwa manja nya keluar dari sarang nya, tangan kekar itu tersenyum dan menepuk sofa di sisi kiri nya dan dengan senang hati Asfa duduk di tempat yang di sediakan untuk nya.
"Apa ada masalah di perusahaan mu nak? " tanya tuan besar dengan memulai menggambil sendok untuk menyuapi putri nya.
__ADS_1
"No, all fine dad." jawab Asfa dan menerima suapan dari papa nya.
"Apa kamu menelfon.. " tanya tuan besar yang langsung di angguki oleh Asfa tanpa mendengar kelanjutan pertanyaan papa nya.
"Don't worry dad, we both always with you in every situation." ucap Asfa dan ikut menyuapi papa nya.
Tidak ada penolakan hingga keduanya saling menyuapi dengan penuh cinta sebagai ayah dan anak, bahkan kedatangan dua makhluk yang menatap pemandangan itu dengan mata tidak percaya hanya bisa menjadi penonton dalam diam. Jika tidak bisa mengendalikan bibir maka bisa di pastikan mental harus lebih kuat dari baja, karena ntah hukuman apa yang akan di berikan.
Jaga pandangan dan jaga ucapan adalah hal terpenting dalam tindakan semua rakyat naungan Luxifer, tapi seperti nya peraturan itu lebih di utama kan oleh putri tunggal tuan besar. Hanya menunggu sepuluh menit hingga makan romantis itu berakhir dengan sebotol jus bermerk, meskipun terlihat manis saat wajah gadis itu hanya penuh kasih sayang tapi nyata nya wajah itu cepat sekali berubah ke mode serius.
"Bekerjasama lah! " ucap Asfa sembari mengulurkan sebuah flasdisk.
"Queen? Come on, I say need... " protes Aries dengan wajah memelas yang membuat wajah itu menjadi imut.
"Okay." jawab Diego dan mendekati Asfa untuk menggambil flasdisk di tangan gadis itu.
"Ayo pria cantik, jangan menabuh genderang perang." ucap Diego dan menarik tangan pria yang masih jauh muda dari dirinya.
"Aries, no pria cantik. " protes Aries dengan sebal menyentakkan tangan nya yang di tarik.
"Whatever." ucap Diego dan melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan kerja tuan besar untuk kedua kali nya.
Aries menatap memelas pada Asfa tapi gadis itu justru melambaikan tangan nya agar pria itu pergi dari hadapan nya, apa lagi yang bisa di lakukan selain hanya patuh pada perintah. Sedangkan Asfa sudah menyambar ponsel nya setelah kedua makhluk keluar dari ruangan kerja papa nya, sebuah pesan sudah dikirimkan ke nomer yang seharusnya.
Meskipun papa nya diam dan hanya melihat tapi terlihat jelas mata tajam itu memiliki pertanyaan yang membutuhkan jawaban, Asfa hanya menggambil tas putih nya dan menggajak papa nya untuk pulang bersama nya.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan kedua makhluk yang beda kutub itu? " tanya tuan besar seakan memikirkan sesuatu.
"Come on dad, him your Shadow." jawab Asfa dan menyalakan mesin mobilnya.
Mobil sports itu ber jalan meninggalkan gedung pencakar yang hanya sebatang kara, namun setelah keluar dari kawasan perumahan justru jalan yang di ambil berbeda. Jalanan dengan banyak nya pepohonan rimbun digunakan sebagai jalan menuju sebuah bukit terdekat dari wilayah kawasan perumahan milik papa nya, terlihat tuan besar hanya diam dan menjadi pengamat sepanjang mobil melaju.
"Use it dad and take the gun in there." ucap Asfa menyerahkan sebuah lambang identitas keluarga nya dan menunjuk ke arah belakang yang di pahami oleh tuan besar.
Setelah memakai pemberian putri nya dan menggambil apa yang di minta kini focus nya ke depan, pasti ada alasan kenapa putri nya meminta dirinya melakukan itu. Hingga pepohonan semakin rimbun dan mobil sports itu berputar dengan kecepatan yang masih standard dan kini mobil itu menghadap ke jalan masuk per bukit an, tidak menunggu lama terlihat kepulan asap dari arah jauh.
__ADS_1
Kecepatan yang patut di contoh sebagai pencinta balap liar, tapi terlihat hanya tiga mobil van yang menghampiri sebuah mobil sports yang terparkir cantik di tengah jalan. Membuat ke tiga mobil van itu berhenti dengan jarak dua meter dari mobil sports, hingga detik berikutnya orang-orang yang menjadi penghuni mobil van turun dengan pakaian hitam dan senjata di pinggang mereka.
"Ready? " tanya Asfa dengan menatap papa nya.