
"Okay. Masuk, dan tunggu sebentar di dalam. Aku akan bicara dengan dokter Rio." ucap Vans membukakan pintu belakang.
Asfa masuk dan membiarkan pintu ditutup Vans. Pria itu berjalan meninggalkan parkiran, dan Asfa turun dari dalam mobil. Langkah kakinya berjalan menuju taman rumah sakit. Rumput hijau dengan deretan pepohonan rindang dan taman bunga, menyambutnya. Mata biru itu menelusuri taman dan mencari sosok yang diharapkan.
Aku tidak bisa bersamamu. Bukan karena aku bersalah, tapi karena hidupmu akan berbahaya di dekat ku. Aku janji, akan menjaga anak kita. Berbahagialah, aku harus menghilang dari mu untuk selamanya.~batin Asfa menatap Abhi yang duduk dibangku taman dengan wajah kusut dan mata sendu.
Setelah puas melihat keadaan Abhi, Asfa berjalan meninggalkan taman. Ada hal yang harus disembunyikan hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Baru tiga langkah berjalan, perutnya terasa sakit kembali. Pandangan perlahan mulai berputar, langkah kakinya tetap dipaksakan berjalan dan mencari pegangan. Tubuh yang tidak seimbang mulai goyah, dan limbung ke belakang.
Greeeb....
Belum sempat melihat siapa yang merengkuh tubuhnya, sekelilingnya memudar berganti gelap. Samar-samar terdengar suara lembut memasuki alam bawah sadarnya.
"Asfa, bangun! Apa yang terjadi padamu?" Abhi memeluk tubuh Asfa dan menggendongnya.
Abhi membawa Asfa ke dalam rumah sakit dengan wajah tegang dan cemas. Bahkan degup jantungnya berpacu cepat, ditambah wajah pucat wanitanya sangatlah jelas. Beberapa suster yang melihat kedatangannya, langsung menyongsong dengan mendorong satu brankar.
"Silahkan, Tuan. Wil, hubungi dokter Rio segera!" Seru suster dengan wajah cemas melebihi wajah Abhi.
Reaksi dari para suster, membuat Abhi penasaran. Apa yang terjadi pada Asfa dan kenapa semua mendadak panik ketika melihat Asfa tak sadarkan diri. Abhi menahan suster yang memberikan perintah pada suster lainnya. "Ada apa? Katakan!"
Suster menatap Abhi sejenak, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. "Bawa Queen ke ruang operasi!"
"Baik, Sus." jawab ketiga suster lain dan mendorong brankar, Abhi menahan ujung brankar. Namun, suster terakhir menarik tangan Abhi dan membiarkan Asfa dibawa pergi.
__ADS_1
"Anda, ikut saya!" Suster menarik tangan Abhi, keduanya berjalan meninggalkan pintu rumah sakit dan melewati beberapa lorong hingga berhenti di depan sebuah kursi taman yang terletak paling tersembunyi.
"Lepaskan! Aku mau melihat...."
Suster menghempaskan tangan Abhi dan duduk di kursi taman, "Siapa anda? Sejak satu bulan, pasien hanya memiliki suaminya tanpa anggota keluarga lainnya. Untuk apa, anda ingin melihat pasien?"
Abhi tak paham, kenapa suster terlihat seperti tengah menginterogasi dirinya. Bahkan, jika tak mengenal Asfa pun. Apa wajar, jika seorang suster mencecar dengan banyak pertanyaan tak masuk akal seperti itu? Suster paham, jika pria di depannya tengah mempertanyakan tentang sikapnya di dalam hati.
Suster mengangkat tangannya dan menarik kulit wajah yang menutupi wajah aslinya. Abhi mencoba mengingat, siapa wanita di depannya. Merasa tak dikenali, suster kembali menggunakan topeng wajahnya.
"Jauhi Queen! Selama tatapan mata dan pikiranmu tercemar oleh mereka, dunia berwarna pun pasti nampak hitam olehmu Tuan Abhishek." Suster bangun dari duduknya, dan meninggalkan Abhi.
Abhi semakin tak paham. Kini bukan hanya sikap Asfa yang seperti tak mengenal dirinya, suster yang memberikan peringatan pun memiliki wajah tak asing. Perlahan ingatan masa lalu berputar dan wajah-wajah tak asing mulai berkeliaran di dalam kepalanya.
"Arrrggghhh...." Abhi menahan kepalanya yang terasa berputar dengan rasa sakit seperti terikat tali dengan kencangnya.
Kuharap kalian bisa bersama kembali. Aku hanya bisa berdoa karena tanganku sudah terikat sumpah. Semoga ada jalan untukmu melihat kebenaran yang selama ini tersembunyi.~ batin Suster dan menghapus air matanya.
Harapan suster seperti hembusan angin dengan kepercayaan akan takdir. Abhi menahan rasa sakit di kepalanya, sedangkan di meja operasi. Vans menarik nafas dan menganggukkan kepala. Kedua tangannya sudah memakai sarung tangan khusus, bersama beberapa dokter lainnya. Lampu dinyalakan, dan operasi dimulai.
Suara getar di atas meja, membuat seseorang mengalihkan perhatiannya dari file di tangan. Satu geser icon layar menampilkan sebuah pesan singkat dengan satu foto terbaru. Wajah datar dengan bibir terkunci rapat berubah menjadi tegang dan tangannya segera menyambar kunci mobil yang selalu tersedia di dekat ponsel. Langkah kaki yang terburu-buru menyusuri setiap lorong kantor dengan berulang kali melirik jam di pergelangan tangan. Hingga langkahnya terhenti di depan lobi perusahaan, dan sebuah mobil datang menghampiri tanpa diminta.
Ciiit.....
__ADS_1
"Masuk!"
Tanpa menunggu lama, mobil meninggalkan halaman perusahaan yang gelap tanpa cahaya. Pria paruh baya yang duduk di kursi kemudi masih terlihat tenang dan menikmati kebisuan.
"Apa sudah waktunya, dia kembali?" tanya orang di kursi samping kemudi.
Pria paruh baya menghela napas, "Tidak. Biarkan hidupnya tetap sederhana, bukankah itu lebih baik?"
"Aku merindukan kenakalan nya,"
"Hidupnya lebih berharga, atau kita bisa kehilangan dia selamanya. Biarkan dia melakukan keinginannya." Pria paruh baya tetap fokus dengan jalanan.
"Baiklah, tapi aku tidak akan biarkan pria itu mendekati...."
"Enough!"
...****************...
Siang READER'S, ☺
Alhamdulillah akun udah kembali, dan othoor bisa nulis dan up lagi.
Stay tuned, jangan lupa support othoor ya...
__ADS_1
Salam dari othoor, semoga kita semua sehat dan selalu bisa memberikan semangat... 🥰☺🤲
Makasih buat Ka Dewiajjah selalu sabar menunggu, 😘 dan buat reader's yang lain, makasih juga ya☺