My Secret Life

My Secret Life
Bab 104: Key Unlocks


__ADS_3

"Asfaa" seru Abhi dengan sekuat tenaga dan membuat Asfa menghentikan langkah kakinya dan berbalik.


Tatapan Asfa melihat Abhi seksama dan kembali tertuju pada layar monitor virtual di seberang ranjang Abhi. Bukannya kembali melangkahkan kaki ke ruangan rahasia. Justru langka Asfa bergegas menghampiri sisi seberang ranjang Abhi, tanpa mempedulikan pertanyaan Abhi yang seakan tak memasuki gendang telinganya.


Jemarinya sudah berselancar dengan keseriusan yang membuat layar virtual di depannya berganti gambar berulang kali. Setelah dua menit, akhirnya wajah Asfa kembali tenang. Namun tatapannya langsung di hadang tatapan tajam dari Abhi yang seakan siap menerkam dengan pipi yang memerah.


"Ekhem!" dehem seseorang yang membuat pandangan Asfa dan Abhi terputus.


"Syukurlah dokter Aal disini." ucap Asfa dengan suara yang terkesan santai dan menjadi tenang, karena sekali lagi bisa menghindari perdebatan yang masih belum waktunya. Meskipun dirinya tahu jika kini Abhi semakin memiliki banyak keraguan di dalam hati pria itu.


"Sudah waktunya melepaskan alat bantu mu tuan Abhi, Queen are you ready? (Queen kamu siap?)" ucap Alvaro dengan pakaian jas putihnya yang sudah rapi.


"Tunggu! Apa maksud dari *Queen are you ready*?" tanya Abhi dengan serius karena fikirannya sungguh dalam mode super serius dan pertanyaan Abhi hanya membuat Alvaro tersenyum simpul, sedangkan Asfa justru berjalan memutari brangkar dan berjalan menuju satu almari kayu yang menyimpan baju dokternya sendiri.


"Surprise Mr. Abhishek.(Kejutan Tuan Abhishek.)" jawab Alvaro dengan memberikan kode mata dimana Asfa sudah memakai jas putih miliknya dan berjalan ke arah Alvaro, sungguh mata Abhi tidak berkedip ketika melihat istrinya sangat lah pantas dengan jas putih dengan rambut yang terikat asal seperti itu.


"Ekhem! Are you ready? (Ekhem! Kamu siap?)" ucap Alvaro dengan menatap Abhi yang masih saja terpesona dengan adiknya, rasanya ingin tertawa dengan wajah polos pria di depannya itu. Tapi tentu perasaan adiknya akan terluka jadi lebih baik tahan saja di dalam hati.


"I am here, you there. And we finish it ten minutes. (Aku disini, kamu disana. Dan kita selesaikan ini sepuluh menit.)" perintah Asfa dengan tangannya menunjuk kan posisi yang harus Alvaro tempati dan Alvaro hanya melangkahkan kaki tanpa perlu menjawab.


"Asfaa apa ini kamu?" tanya Abhi dengan menatap Asfa penuh harapan.


"Not now. Relax Mr. Abhishek.( Tidak sekarang. Tenang Tuan Abhishek.)" jawab Asfa dengan mengelus pipi Abhi sebelum memulai tugasnya.


Sementara Alvaro tengah memeriksa layar virtual dan berselancar di atas keyboard untuk membuka kunci dalam dari alat bantu yang ada di tubuh Abhi. Setelah membuka semua kunci kini langkah terakhirnya adalah membuka kunci luar nya yang hanya bisa di lakukan dengan tangan.


**Key Unlocks* (Kunci Terbuka*) - ucap suara dari layar virtual.


"Ready!(Siap!)" lapor Alvaro yang langsung membuat Asfa melepaskan tangannya dari pipi Abhi dan tangannya beralih ke sebuah meja dorong yang ada di sebelah kiri.


Di rentangkannya meja dorong yang bisa menjadi meja lipat seperti keinginan Asfa, kini alat-alat yang di butuhkan sudah tersedia. Alvaro yang melakukan hal sama, membuat Abhi bingung harus melihat siapa. Karena sepertinya kali ini tidak ada obat bius yang akan membuatnya terlelap dan ini justru membuatnya pusing. Karena apa yang di lihatnya jauh lebih membingungkan.


"Doc!" panggil Asfa yang harus menghentikan kakaknya, bukan apa-apa tapi tingkah kakaknya yang memegang berbagai alat tidak seharusnya, justru membuat Abhi tertekan dan itu terlihat dari wajah Abhi.

__ADS_1


Jika yang di pegang hanya suntikan it's okay, tapi itu tangan memegang gergaji kecil di tambah gunting tajam yang bisa langsung memotong tangan seseorang. Yah kalau sistem yang di gunakan memang kuno sih tak apa, tapi sistem yang Asfa gunakan hanya dengan kunci khusus yang sudah di buat oleh Asfa dan itu pun tidak akan menyakiti siapapun. Sepertinya sang kakak sudah mulai keluar jailnya dengan kepolosan yang di miliki Abhi, jika bukan posisi serius sudah pasti tingkah kakaknya yang ajaib akan di biar kan saja.


"Sorry, relax. (Maaf, tenang.)" ucap Alvaro dengan kerlingan matanya.


Dengan satu kotak kecil yang berisi beberapa kunci, tangan Asfa mulai mendekati bagian-bagian yang terkunci. Kunci pertama untuk area pundak dimana dua kunci berikutnya membuat alat bantu di tangan kiri Abhi terbuka, beralih dengan kunci kedua yang di gunakan untuk membuka bagian samping tubuh Abhi di tambah dengan empat kunci berikutnya yang menjadi pasangannya.


Dan kunci ketika yang di gunakan di bagian kaki dengan tiga kunci tambahan membuka bagian terakhir alat bantu di tubuh Abhi. Seperti langkah Asfa dalam membuka alat bantu, Alvaro juga melakukan hal sama dan secara bersamaan hingga alat bantu bagian atas sudah terpisah dari bagian bawahnya. Asfa mengambil sebuah selimut putih yang akan di gunakan untuk menutupi tubuh Abhi setelah alat di ambil oleh kakaknya, melihat adiknya sudah mengambil selimut membuat Alvaro mengambil lempengan besi atas dan seketika tubuh putih sempurna terpampang jelas di depannya.


"Aaaarrggh." seru Abhi ketika melihat tubuhnya sendiri telanjang dan di lihat oleh Alvaro yang wajahnya santai dan Asfa yang langsung menyelimuti tubuh telanjang Abhi dengan wajah santai juga.


"Seperti nya kamu lupa dengan.." ucap Alvaro yang berniat meledek Abhi tapi langsung terhenti, ketika melihat tatapan adiknya yang memintanya untuk diam.


"Okay, lanjut." ucap Alvaro mengalah dan membiarkan jiwa nakalnya menunduk dalam tatapan mata adiknya.


"Katakan jika sakit, paham." ucap Asfa dan mengubah posisi brangkar Abhi untuk duduk dengan perlahan.


"Auw." rintih Abhi yang membuat Asfa menghentikan tindakannya, dan memberikan kode pada kakaknya untuk melanjutkan langkah selanjutnya.


"Tenanglah, tahan sedikit saja okay." ucap Asfa dan memilih memeluk tubuh Abhi yang terbalut selimut.


"Aku bantu turun dari tempat ini, tapi jangan paksakan tumpuan tubuh mu pada kakimu! Cukup peluk aku saja okay." ucap Asfa yang mengedipkan matanya pada Alvaro, karena posisi berpelukan membuat Abhi hanya tenggelam di dalam pundaknya.


Perlahan Alvaro membantu menurunkan kaki kiri Abhi dan ber lanjut pada kaki kanan pria itu dan tentu saja dengan memberikan selimut yang masih cukup untuk membalut tubuh pria itu. Hingga akhirnya kedua kaki itu menyentuh lantai marmer yang dingin, seketika tumpuan seluruh tubuh teralihkan pada tubuh Asfa yang menahan dengan sekuat tenaganya.


Bruuug..


"Asfa!" seru Abhi dengan perasaan bersalah, karena menjadi beban istrinya.


Dengan tumpuan seluruh tubuhnya yang dapat di pastikan berat, hingga membuat Asfa terjatuh karena tidak sanggup menahan berat yang di pikulnya setelah beberapa menit.


"Queen!" seru Alvaro yang panik ketika melihat Asfa jatuh bersamaan dengan tubuh Abhi di atasnya.


Buru-buru Alvaro membantu adiknya namun isyarat adiknya membuatnya terpaksa membantu Abhi terlebih dahulu, membantu pria yang wajahnya penuh penyesalan dengan lirikan mata terus kebelakang. Andai tubuhnya tak selemah itu, sudah pasti hal seperti hari ini tak akan terjadi. Bahkan tubuh kekar Alvaro masih bisa bertahan, tapi tubuh istrinya yang kecil sudah pasti jauh dari tubuh seorang pria.

__ADS_1


"Tenang, dia gadis yang kuat. Jangan paksakan dirimu." ucap Alvaro yang tahu diamnya Abhi kali ini karena rasa bersalah di hati pria itu.


"Bantu istri ku." pinta Abhi yang hanya mengingat keadaan terakhir Asfa.


"I am okay, Don't worry hmm. (Aku baik-baik saja, Jangan khawatir hmm.)" ucap Asfa yang sudah berdiri lagi dan menghampiri kakaknya.


Meskipun suara Asfa terdengar baik-baik saja di tambah senyuman tipis di bibirnya itu, tapi ada yang membuat Alvaro cemas. Sedangkan mata Abhi memancarkan kelegaan melihat istrinya bisa bangun sendiri setelah apa yang terjadi.


"Istirahat lah. Dokter Aal akan memeriksa mu." ucap Asfa dan melihat keadaan Abhi yang sudah lebih baik dan beralih menatap kakaknya dengan menganggukkan kepala, agar Alvaro melakukan beberapa tes kecil.


"See you(Sampai jumpa)" pamit Asfa dan membalikkan tubuhnya dan langkah kakinya berjalan menuju meninggalkan brangkar Abhi.


Langkah kakinya masih tetap tegap dan tidak ada yang bisa mengatakan bagaimana keadaan sebenarnya seorang queen. Hingga Alvaro yang ingin mengambil satu alat penekan syaraf untuk memeriksa Abhi, tak sengaja menatap lantai marmer tempat adiknya terjatuh. Ada warna merah yang cukup banyak membuat lantai marmer warna emas itu menjadi kontras dengan cairan yang terlihat masih segar, dengan cekatan Alvaro mencolek sedikit warna merah itu dan menciumnya.


"Darah." gumam Alvaro.


...~~~...


.


.


. hay reader's 😁


.


. othoor mau curhat dikit deh, kan dapet rekomendasi nih di Karya Pontensi plus GENRE Karya yang sedang tumbuh tapi othoor gak nemu di beranda Karya My Secret Life tapi othoor nemu Karya othoor satu nya lagi aja yang Plan of Masked Man 😁, jadi kalian lihat Karya othoor di beranda juga gak ya?



. Jangan lupa like, comment, favorite, vote plus smile ya 😊


.

__ADS_1


.


. Selamat sahur.... 🥀


__ADS_2