My Secret Life

My Secret Life
Bab 214: Perdebatan


__ADS_3

Izinkan aku melakukan penyerangan." ucap Asfa dengan kedipan mata agar Vans setuju.


Vans menggigit bibir bawahnya. Didalam hati dan pikiran menolak mentah-mentah permintaan Asfa, tapi dirinya juga sadar. Jika masalah perbatasan hanya bisa diatasi oleh perinya.


"Okay, tapi....,"


Asfa tahu apa yang akan Vans katakan, tanpa menunggu ucapan pria si pemarah selesai. Akan lebih baik jika langsung berbicara pada pointnya saja. "Tell syaratnya!"


"Aku akan ikut dalam misimu." ucap Vans, membuat Asfa terdiam sesaat dengan tatapan mata lembut.


"Baiklah, kita bisa membawa baby Rose juga. Bagaimana?" ujar Asfa tepat mengenai sasarannya.


Ucapan Asfa adalah peringatan baginya. Tidak mungkin dalam penyerangan membawa bayi mungil yang baru saja dilahirkan. Satu pukulan Vans layangkan mengarah pada dinding di belakangnya. Sedangkan Asfa masih berdiam di tempat.


"Why Queen?" seru Vans frustasi.


Asfa tersenyum seraya menghampiri pria si pemarah. Ketika langkahnya berhenti di depan Vans, tubuh pria itu direngkuh masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku harus kembali, Ka. Tidak peduli dengan badai yang menyelimuti hidupku, aku tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja. Bukankah selama aku hamil, hidupku di penuhi kebebasan? Lagipula aku juga bosan, dan merindukan suara peluru serta bisingnya mesin yang menderu di jalanan." bisik Asfa, membuat Vans mengusap kepala perinya dengan kasih sayang.


Vans melepaskan pelukan, lalu tangannya menangkup wajah mungil Asfa. Keduanya saling menatap satu sama lain. Asfa selalu menganggap hubungan mereka sebagai kakak dan adik, tapi tidak dengan Vans. Meskipun begitu, tidak sekalipun Vans berbuat melampaui batas.


"Aku izinkan kamu pergi, tapi kembalilah dengan kemenangan!" putus Vans dengan berat hati, tapi tidak mungkin menghentikan perinya setelah perdebatan yang menyeret baby Rose.


Asfa menggenggam tangan Vans yang masih menangkup wajahnya. "Tenanglah, Ka. I'AM Queen."


"Iya, iya, kamu Queen keras kepala. Puas?" jawab Vans dengan gelengan kepala pasrah.


Asfa terkekeh melihat betapa Vans sangat pasrah dan tidak lagi bisa berdebat. Bukan maksudnya ingin memanfaatkan kelemahan pria yang selalu mendampinginya itu, tapi situasi tidak bisa lagi menunggu esok.


Ketukan pintu mengalihkan Asfa dan Vans, pintu kaca yang menunjukkan siapa di depan sana, membuat keduanya saling menatap.


"Aku akan temui asisten ku dulu, kakak bisa kembali bekerja." pamit Asfa, dan berbalik melangkahkan kakinya, tapi Vans menahan tangan perinya.


"Masuk!" seru Vans.

__ADS_1


"Ka?" panggil Asfa.


Ceklek!


"Justin, masuklah!" titah Vans dengan tangannya masih menahan Asfa agar tetap diam di tempat.


Justin masuk, dan menutup pintu kembali. Tatapan matanya terarah pada genggaman tangan kedua lawan jenis di depannya. "Queen, semua persiapan sudah selesai. Tiga pasukan akan datang dari wilayah selatan dan dua pasukan akan datang dari wilayah timur. Semua akan berkumpul di tempat biasanya, apa ada yang kurang?"


"Bawa pasukan dariku untuk penjagaan Queen, dan pastikan tidak seorang pun menyentuhnya." sahut Vans, membuat Justin memberikan kode mata pada Queen, dan Asfa memutar bola matanya atas apa ide Vans yang tidak masuk akal.


Asfa melepaskan tangan Vans, "Ka, aku pergi untuk bertarung. Bukannya menjadi penonton sebuah laga di arena pertarungan. Come on, mana bisa aku hanya diam dan sibuk memberikan perintah? Kita berdua ini pemimpin, benar bukan? Justin juga ada bersamaku, percayalah dia sudah cukup menjadi partner ku dan membasmi para nyamuk....,"


"Okay! Sudah cukup. Pergilah dan rebut kembali perbatasan, tapi tetap bawa pasukan ku sebagai tambahan! No debat." putus Vans tidak ingin memperpanjang perdebatan yang pasti akan semakin sengit.


Justin terdiam dengan pemandangan di depannya yang cukup langka, dan sudah lama dirinya tidak melihat Queen secara langsung.


"Terserah kakak! Justin urus pasukan, dan aku akan bersiap." pamit Asfa tanpa membantah permintaan Vans yang sudah dianggap adil baginya.

__ADS_1


__ADS_2