My Secret Life

My Secret Life
Bab 218: BOOM


__ADS_3

"Jauhi kekasihku wahai wanita murahan! Awas saja kalau kamu berani bermain denganku." Asfa membaca pesan dari nomor tak dikenal.


"Ini orang sepertinya harus diajari sopan santun." Asfa memasukkan ponselnya kembali ke dalam jacket tanpa menjawab pesan yang tak beretika, lalu menatap ke depan dimana pasukan khusus mulai membubarkan diri dan kembali masuk ke dalam mobil masing-masing.


Justin pun ikut kembali masuk ke mobil dengan guratan wajah tegas, membuat Asfa tersenyum tipis di balik topengnya.


Braak!


"Mau boom?" tawar Asfa dengan santainya.


Justin menatap Queen dengan tatapan kesal, tapi tawaran seorang Queen tidak bisa ditolak, dan itu membuat dirinya mendapatkan ide gila. Setelah memasang sabuk pengaman, dan siap menyalakan mesin. Satu tarikan nafas seraya mengalihkan tatapan pada Queen di lakukannya.


"Mari boom semua musuh yang melakukan pemberontakan!" tukas Justin tanpa ragu, membuat Asfa melepaskan topeng hitamnya seraya menatap Justin lembut.


Namun, jangan salah paham dengan kelembutan seorang Queen. Justru tatapan itu adalah sebuah peringatan keras. Akan lebih baik jika mendapatkan tatapan tajam yang mengintimidasi daripada tatapan manis, tapi membinasakan.


Gleek!


"Bisa turunkan MODE ON MANISMU?" Justin meneguk saliva dengan susah.


Topeng kembali di pakai tanpa menjawab Sang asisten dengan satu kode jari agar pria di sebelahnya itu mulai melajukan mobil tanpa protes ataupun bertanya lagi.


"Kita akan menuju perbatasan langsung, sedangkan pasukan khusus akan pergi ke tempat yang sudah ditentukan. Apa sudah ada kabar dari pihak lain?" lapor Justin setelah terdiam selama lima belas menit, dan para mobil van pasukan khusus sudah berbelok ke arah lain.

__ADS_1


Asfa kembali mengambil ponselnya dari saku jacket, lalu memeriksa pesan dan panggilan masuk.


"Done. Pemimpin mereka akan segera datang, sepertinya mereka berpikir kita bodoh." jelas Asfa memainkan ponselnya dengan memutar kesana kemari di antara dua jarinya.


Justin menautkan kedua alisnya tak paham apa maksud dari *Menganggap kita bodoh*. Diamnya Sang asisten, membuat Asfa paham jika pria itu tidak memahami maksud dari musuh mereka.


"Pemimpin mereka ingin, kita datang tanpa senjata apapun. Apa mereka sebodoh itu?" Queen berhenti memainkan ponselnya, lalu menyimpan kembali ke dalam jaketnya. "Kamu ingin boom 'kan? Akan ku kabulkan."


"SERIOUSLY? Love you my angel....,"


"Jangan senang dulu. Bereskan semua pemberontakan tanpa terkecuali, TAPI PEMIMPIN mereka hanya milikku!" sambung Queen menyurutkan semangat Justin yang menggebu-gebu.


"Sudahlah. Kenapa kamu jadi bermain curang? Kita berdua jelas tahu. Keselamatan mu jauh di atas segalanya. Lalu, bagaimana aku....,"


"Terlalu banyak keluhan. Why? Apa selama aku tidak ada, kamu lupa peraturan ku?" tanya Asfa.


Justin menambahkan kecepatan mobil, meninggalkan jejak kepulan debu beterbangan.


"Duke, terkadang hidup bukan tentang keselamatan. Namun, tentang pilihan. Saat ini, kita hanya menjalankan sebuah pilihan. Keselamatan ku adalah tanggung jawabku sendiri. Just trust me." jelas Queen dengan tenang.


Ciiiit!


Asfa langsung menahan tubuhnya dengan kedua tangan memegang bagian kursi. Pengereman dadakan yang dilakukan Justin sama sekali tak mengejutkan dirinya. Sudah jelas pria itu tengah merajuk.

__ADS_1


"Hanya pemimpin menjadi milikmu, tapi tidak dengan anggota musuh lainnya. Apa kamu tahu siapa pemimpin mereka?" tanya Justin menatap ke depan dimana jarak ke markas musuh masih 3 KM lagi.


Tangan dilepaskan seraya meregangkan otot lehernya. "Yah, aku tahu siapa pemimpin mereka. Lalu?"


"Queen….,"


"Calm down. Lanjutkan perjalanan kita!" titah Queen mengangkat tangannya ke samping agar Justin tidak lagi membantah dirinya.


...****************...


Mf reader's, kmrn othoor sibuk jadi panitia lomba 17an di desa 😌






Happy Independen Day Indonesia 🇮🇩


🇮🇩JAYALAH INDONESIA KU🇮🇩

__ADS_1


🇮🇩🥰🇮🇩


__ADS_2