My Secret Life

My Secret Life
Bab 85: Pertanyaan demi pertanyaan


__ADS_3

"Queen Asfa Luxifer! " ucap orang itu dengan penuh tekanan karena jawaban Asfa masih hanya sekilas.


Membuat pasien yang terlelap mendapatkan kesadarannya dan perlahan membuka kelopak mata nya, pemandangan yang samar-samar itu mulai terlihat jelas. Seseorang yang sangat di nantikan nya, seseorang yang selalu menghilang dan wajah nya yang manis kini terlihat lelah dan menahan sesuatu yang membuat kata sipit itu terpejam.


Ingin rasa nya memanggil nya, namun lidah nya tiba-tiba terasa kelu membuat nya hanya bisa diam dan berusaha untuk memberikan sirine bahwa kini keadaan nya semakin membaik. Namun posisi dokter yang selama ini merawat nya terlalu dekat dengan istri nya sungguh membuat sesak di dalam hati nya.


"Queen Asfa Luxifer answer me! " ucap orang yang kini sembari menegakkan tubuh Asfa dan membuat gadis itu terpaksa membuka mata nya.


Tatapan tenang namun tetap tajam dan hangat, tapi bibir itu masih terkunci dan hanya menjawab dengan tatapan mata yang seolah mengatakan jika dirinya baik-baik saja, ingin rasa nya marah namun tatapan itu tidak mengizinkan nya untuk memarahi gadis nya.


Greeeb...


Dengan lembut di tarik nya tubuh adik nya yang sangat lelah ke dalam pelukan nya, meredakan amarah di dalam hati nya. Kemarahan karena tidak bisa melindungi boneka putri raja nya, meskipun dirinya tahu jika kehidupan keluarga nya memang tidak pernah terlepas dari bahaya tapi salah kan jika dirinya berharap bisa selalu menjadi pelindung wanita tercinta dalam hidup nya.


"Asfa." panggil pasien yang masih terbaring dengan sekuat tenaga.


Ucapan tak bertenaga yang terkesan di paksakan itu menghentikan pelukan kakak beradik yang langsung menoleh ke sumber suara, sesaat pandangan kedua lawan jenis bertemu. Terlihat jelas mata yang kini sudah dapat melihat itu mengerutkan alis nya setelah tatapan mata nya bertemu dengan mata istri nya, warna mata itu bukan coklat tapi biru seperti mata nya.


Dan pakaian nya yang sangat minim layaknya anak remaja dengan kulit putih yang sangat mulus kecuali perban di lengan nya yang membuat penampilan nya sangat sederhana di tambah gulungan rambut asal-asalan tinggi menjulang ke atas menambah kesan imut pada wajah nya.


"Maaf kami mengganggu istirahat mu, lanjutkan istirahat mu. Kami permisi." ucap Alvaro dan menggenggam tangan Asfa.


"Jaga mas Abhi dulu, aku akan membersihkan diri." ucap Asfa sembari menahan gerakan kakak nya.


Alvaro menganggukkan kepala dan membiarkan adik nya meninggalkan ruangan rawat , sedang kan tatapan Abhishek semakin penuh dengan kesedihan dan tanya yang begitu menumpuk di dalam benaknya. Langkah Alvaro mendekati Abhi, hanya untuk melakukan pemeriksaan untuk memastikan pria itu akan baik-baik saja setelah melihat sesuatu yang pasti membuat nya shock.


"Apa kalian berhubungan special? " tanya Abhi yang ntah bagaimana cara nya bisa ber tanya dengan lancar.

__ADS_1


"Right, we are have special relationship." jawab Alvaro dengan santai yang langsung membuat mata biru pria itu menatap nya tajam.


"Kekasih? " cicit Abhi menahan rasa sakit di tubuh nya karena berusaha untuk bergerak.


"Diam lah! Atau usaha kami sia-sia." ucap Alvaro yang sedari tadi memperhatikan bahasa tubuh pasien nya tidak mengingat nasehat nya sejak awal.


"Calm down dok, I am here. Take rest okay." ucap seorang gadis yang baru saja masuk dan mengalihkan perhatian kedua pria itu.


Pakaian yang melekat dengan sempurna dengan gaya rumahan itu membuat gadis dengan rambut yang terurai terlihat elegan dengan aroma buah strawberry yang segar menyebar ke seluruh ruangan. Memberikan ketenangan dalam waktu singkat, Alvaro masih tetap diam di tempat nya sedang kan Abhi hanya terpaku dengan penampilan Asfa yang sangat berbeda dari sebelum nya.


Kesan pertama yang Abhi dapat kan adalah istri nya memiliki selera yang bagus dengan dress yang kini di kenakan nya itu, terbiasa menemani bunda nya pergi ke butik membuat Abhi hafal bagaimana rancangan butik atau pakaian pasaran dan pakaian istri nya keluaran butik. Tapi hanya dress yang menarik perhatian Abhi bukan nya di ujung kaki Asfa yang tetap berjalan tanpa alas kaki, setelah Asfa mendekati brangkar justru pandangan gadis itu mengarah pada pria yang menjadi dokter nya.



Terlihat bahasa isyarat lewat kedua mata biru itu dan tanpa satu kata pun Alvaro berjalan menjauh dan pergi meninggalkan ruangan rawat itu, kini pandangan Asfa beralih pada pria kekar yang masih harus berbaring di brangkar dengan tatapan mata yang menyelidik penuh pertanyaan. Bukan nya tidak tahu dengan segala keraguan dan pertanyaan yang pasti sudah memenuhi kepala suami nya itu, tapi pengobatan suami nya masih berlanjut hingga alat penyangga tubuh nya terlepas beberapa hari lagi.


"Jangan sekarang, tunggulah beberapa hari lagi." ucap Asfa mendahului Abhi yang sudah siap untuk memberikan pertanyaan.


"My real eyes." jawab Asfa dan mengusap wajah Abhi dengan lembut.


Sentuhan lembut itu membuat Abhi memejamkan mata nya, yah itu memang sentuhan istri nya yang selama ini merawat nya tanpa mengeluh. Namun ketika mata nya terbuka lagi, wajah yang sama dengan warna kulit dan mata yang berbeda dari Asfa yang dikenal nya sungguh membuat nya tidak bisa tenang.


"Satu pertanyaan lagi, bisa? " tanya Abhi dengan hati-hati.


Melihat keseriusan di wajah Abhi membuat Asfa menghentikan usapan tangan nya dan menarik kursi di depan nakas dengan kaki nya, dengan tenang di dudukkan nya ****** nya ke kursi itu sembari menatap Abhi dalam diam. Melihat diam nya Asfa justru membuat Abhi berfikir jika istri nya itu menolak untuk di berikan pertanyaan, hingga keheningan selama satu menit membuat Asfa menaikkan alis nya dengan tatapan yang di tajam kan ke netra suami nya.


Gleek...

__ADS_1


Suara menelan saliva dengan susah payah akhirnya terdengar, mata biru itu bukan hanya tajam tapi mampu menenggelamkan dirinya. Bahkan dirinya yang menjadi presdir saja tidak sedalam itu ketika mengintimidasi lawan bisnis nya, Asfa yang menyadari jika Abhi terkejut hanya bisa memejamkan mata nya.


Tentu saja Abhi terkejut dengan kepribadian nya yang sangat ekstrim dan tegas untuk pertama kali nya, tapi Asfa mencoba untuk mengalah dengan kembali membuka mata nya dan kini mata itu terlihat tenang.


"Tell!" ucap Asfa yang menetralkan aura dingin dari mata dan suara nya.


"Semua ada di ponsel ku tapi aku tidak tahu dimana ponsel ku saat ini." ucap Abhi yang terlihat mengendalikan dirinya dengan baik.


"Hmmm." gumam Asfa yang kini tahu apa yang akan di tanya kan oleh Abhi.


"Apa kamu benar Asfa istri ku? " tanya Abhi yang mungkin masih dalam keraguan jika memiliki istri seperti boneka cantik.


"Istirahat lah." perintah Asfa yang memilih untuk memejamkan mata nya.


Melihat rasa lelah di wajah Asfa membuat Abhi diam dan memandang istri nya tampak lelah, Asfa tahu jika kini dirinya menjadi objek suami nya tapi itu lebih baik dibandingkan melanjutkan pembicaraan yang membutuhkan waktu untuk berdebat. Untuk sementara topik itu akan di hindari hingga Abhi bisa mengurus perusahaan nya kembali, tidak mungkin dalam satu waktu semua harus di ungkapkan.


Bagaimana jika terkena serangan jantung karena banyak hal yang di ketahui dalam satu waktu, bisa menjadi masalah lagi dengan keluarga Bagaskara. Terlihat Abhi mulai memejamkan mata nya setelah merasa puas dan lelah mengamati wajah asli istri nya, tidak lama terdengar dengkuran halus yang membuat Asfa membuka kelopak mata nya.


Tidak ingin menunggu lama, langkah kaki nya meninggalkan ruangan rawat dengan cepat dan kini tujuan nya adalah ruangan kerja nya. Ruangan yang hanya bisa di masuki keluarga Luxifer saja, terlihat semua bodyguard masih stand by di tempat nya masing-masing meskipun sempat ikut panik tapi seperti nya kakak nya sudah mengatasi semua nya dengan baik.


"Queen are you okay? " tanya seorang pria dengan wajah cemas menghentikan langkah Asfa.


"Hmm." jawab Asfa dan melewati pria itu dengan wajah datar nya.


Ada sesuatu yang menyentuh pergelangan tangan nya membuat gerakan reflek dengan memutar tubuh nya dan menarik tangan yang mencekal tangan kiri nya, dan tarikan itu berujung dengan tubuh melayang dan terjatuh dalam waktu cepat.


Bruuug... auuw...

__ADS_1


Pria itu terbanting ke lantai dengan tangan yang terkilir, ringisan di wajah nya sudah pasti menandakan pria itu tidak baik-baik saja. Asfa melihat siapa yang berani menyentuh tangan nya, pria dengan wajah ok tapi tetap saja pria itu hanya lah tamu di mansion nya. Kedatangan seorang wanita dengan pakaian nyentrik membuat Asfa pergi meninggalkan tempat itu tanpa peduli pada pria yang menatap nya dengan kecewa dan rasa sakit di tubuh nya.


"Lain kali sayangi nyawa mu. Ayo." ucap wanita dengan pakaian nyentrik membantu pria itu untuk bangun dari tempat nya bersuka ria akibat bantingan queen nya.


__ADS_2