My Secret Life

My Secret Life
Bab 142: Aliska kembali


__ADS_3

Keduanya saling pandang. Ada satu jalan dimana kedua jiwa ayah dan anak itu hanya perlu menggunakan telepati. Hingga keduanya membalikkan pandangan kearah pintu masuk dimana seorang wanita berpakaian glamor baru saja mendobrak pintu dengan sekuat tenaga.


Braaak….


"Dimana dia?!" seru wanita itu.


Tak.. tak.. tak..


Terlihat Diego ikut masuk dengan langkah kaki cepat. "Maaf Tuan, saya gagal menghadang Nona Aliska."


Tangan Asfa melambai, membiarkan wanita glamor itu meluapkan amarahnya. Tuan Luxifer memilih untuk memejamkan mata di bandingkan ikut campur. "Apa ini cara tante bertemu ponakan?"


Aliska menatap Asfa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilan sederhana dengan gaun elegant, make up tipis dan rambut terurai. Perpaduan wajah Luxifer tapi dominan ke sosok Naura kakak tirinya. "Queen?"


"Iya tan, aku queen. Tidakkah tante mengenaliku?" tanya Asfa meninggalkan tempat duduknya.


Langkah Asfa terkesan tenang dan santai mendekati tante Aliska yang masih dalam keadaan emosi, wanita dengan umur papanya itu tidak bisa dilawan dengan kemarahan. "Kapan tante kembali? Apakah dokter Orlando juga ikut?"


"Tidak. Dokter itu terlalu cerewet!" tukas tante Aliska dan membuang muka.

__ADS_1


"Diego pergilah! PASTIKAN dokter Orlando selamat." titah Asfa lembut namun penuh tekanan, membuat tante Aliska langsung menatap Asfa tanpa satu kedipan mata pun.


Bukannya menunduk, Asfa membalas tatapan tante Aliska dengan tajam. Baginya tidak masalah jika tante Aliska keluar dari rumah sakit tapi bukan dengan cara kabur. Satu jawaban dengan wajah di palingkan, sudah jelas tante Aliska berbuat hal diluar batas.


"Apa tante mau jika Rania lari? Apa yang akan tante katakan padanya? Aku sudah berjanji bukan? Lalu ini apa?" cecar Asfa dengan suara yang manis.


"Aku ingin bertemu dengannya. Ini sudah sangat lama, ku mohon…"


Greeb…


"Bertahanlah sedikit lagi tan, Rania masih belum siap. Bukankah tante ingin memeluknya." Asfa memeluk tante Aliska dengan tulus.


Beberapa saat berpelukan, hingga Asfa merasakan tubuh tante Aliska semakin berat. Deru nafas yang semakin melemah, membuat Asfa melepaskan pelukan. "Tante bangun!"


"Nak?" panggil tuan Luxifer.


Asfa mengangguk dan membiarkan papanya menggendong tante Aliska untuk pergi meninggalkan kantor RA company. Bukan menggunakan mobil tapi ke-tiga nya menggunakan dua heli menuju rumah sakit utama. Pernerbangan selama lima menit lebih itu, mendarat mulut di atap landasan heli rumah sakit utama. Para penjaga lantai atas bergegas mengambil brangkar untuk pasien, membiarkan tuan Luxifer meletakkan tante Aliska ke brangkar.


"Dok, tolong lakukan semua pemeriksaan dan jangan lupa dengan terapi memori." cetus tuan Luxifer dengan jelas.

__ADS_1


Asfa memilih diam dan membiarkan sang papa melakukan seperti keinginannya. Para dokter bergegas menangani pasien, tentu saja mereka tidak tahu jika Aliska keluarga jauh pemilik rumah sakit utama.


"Ikut aku pa!" ajak Asfa dengan serius.


Mengikuti langkah kecil Asfa seperti mengikuti cahaya lilin yang tertiup angin, ayah dan anak itu memasuki satu ruangan khusus dan tentunya hanya Asfa yang bisa membuka ruangan itu. "Duduk. Akan ku buatkan papa kopi."


Wajah tegang dan cemas tuan Luxifer tercetak jelas, membuat Asfa tak tega. Tapi apapun yang terjadi sudah terlanjur dan tak mungkin bisa diubah. Dua menit akhirnya kopi siap, dua cangkir kopi hitam mengepul dengan harum menggoda. "Relax pa. Apa yang papa takutkan?"


Sluurr….


"Ini selalu menjadi obat." celetuk tuan Luxifer.


Gelengan kepala Asfa membuat tuan Luxifer menghela nafas. Untuk apa membohongi putri rajanya jika kebohongan bisa cepat terdeteksi. Tapi sungguh hatinya tak berniat untuk mengatakan apapun saat ini. Dari raut wajah dan gerak gerik papanya, Asfa tahu sang papa masih belum siap.


"Baiklah, aku mulai dulu. Tante Aliska sudah ku pindahkan ke pusat rehabilitasi milik dokter Orlando. Papa tahu siapa itu dokter Orlando, tapi sejauh ini tidak ada masalah apapun. Hanya saja. Dokter Orlando menjelaskan, bahwa tante Aliska tidak bisa lepas dari obat penenang. Trauma dan overthinking menjadi masalah utama. Aku menemui tante Aliska sekali dan membuat kesepakatan, dimana tante Aliska boleh keluar menikmati dunia luar ketika keadaannya sudah baik. Dan aku berjanji untuk menjaga Rania. Yah itu yang terjadi diantara aku dan tante Aliska." tutur Asfa menatap kopi di depannya.


Tangan kekar yang biasanya stay di dalam saku, hari ini keluar untuk memijat pelipis yang terasa sangat sakit. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk tanpa henti. "Papa tidak mau kalian salah paham. Pada kenyataannya, Aliska masih mencintai papa. Lalu bagaimana jika emosinya semakin tidak stabil karena itu? Sungguh papa hanya mencintai mama mu Naura."


Asfa meninggalkan kopinya dan beralih berdiri dibelakang sang papa. Kedua tangannya mulai memijat pelan kepala tuan Luxifer. Sejenak membiarkan ketenangan dirasakan oleh papanya. "Pa, kami percaya padamu. Jika papa tidak mencintai mama Naura. Pasti saat ini ada wanita lain yang menyandang status ibu tiri. Bahkan jika papa ingin menikah lagi. Aku tidak keberatan. Karena papa juga membutuhkan sosok pendamping."

__ADS_1


Pijatan lembut itu terasa lebih menekan, karena ucapan Asfa seakan menjebaknya. Ada sesuatu yang masih dirinya sembunyikan. Tapi tidak ada waktu yang tepat untuk mengatakan hal tersembunyi miliknya. Asfa tahu arah pembicaraannya tepat mengenai sasaran, senyuman tipis dari bibir Asfa terbit meskipun hanya sesaat.


__ADS_2