
Dengan langkah Justin menghampiri nona muda nya membuat bibi Nora bergegas masuk ke dalam kamar nya menyambar sebuah laptop yang sudah lama menemani waktu kesepiannya, tanpa gemetar di masukkan flashdisk itu ke tempat nya. Dengan beberapa klik akhirnya beberapa video dengan bukti lainnya terpampang jelas, satu persatu di lihat nya setiap video.
Awalnya masih tenang dengan setiap pertunjukan yang ada di dalam video pertama, berlanjut ke video selanjutnya hingga video terakhir yang ternyata memakan waktu dan menurunkan tingkat kesabaran dirinya. Teringat tiga tamparan yang di layangkan nona muda nya pada Kiki, jika di fikir lagi hukuman itu seperti sebuah cubitan bukan hukuman sebenarnya. Ada perasaan bersalah ketika dengan jelas ada raut wajah penolakan dari dirinya dan nona muda memberikan kesempatan untuk memutuskan tentang pemuda yang kini tinggal di gudang.
"Hukuman mu lebih baik di tangan ku, aku menyayangimu tapi perbuatan mu sudah tak termaafkan." gumam bibi Nora menutup laptop nya.
Sejenak menetralkan perasaan yang berkecamuk di dalam hati nya, sedangkan di dalam kamar Asfa kini dua orang tengah duduk berhadapan dengan raut wajah serius. Terlihat jelas ketegangan di wajah Justin bahkan sebelum perbincangan di mulai, situasi yang canggung seakan baru pertama kali berhadapan.
"Katakan!" perintah Asfa dengan tegas tapi lembut.
"Hhhaah. Sebaiknya anda segera kembali ke dalam rumah keluarga Bagaskara." ucap Justin setelah menghela nafas.
"Katakan! " perintah Asfa sekali lagi karena ucapan Justin tidaklah lengkap bagi nya.
"Saat anda memberikan perintah tadi, ayah mertua anda mendengar semua nya dan memberikan saya banyak pertanyaan tapi karena waktu yang terdesak maka saya meminta nya untuk menunggu anda kembali." jawab Justin dengan jujur tanpa menundukkan kepala nya.
"Aku terima, setelah malam ini Jangan temui Docter Hanna itu HUKUMAN mu." ucap Asfa yang membuat mata pria di depannya ingin protes namun terlihat di urungkan.
Hukuman itu adalah hukuman terberat bagi Justin, baru saja dirinya memberikan hukuman pada dokter itu dengan menjadikan nya sebagai pacar kontrak tapi rencana nya kini gagal karena kesalahan nya sendiri.
"Pergi dan urus yang di bawah!" perintah Asfa dengan memberikan isyarat kepada Justin untuk meninggalkan kamarnya.
Kepergian Justin membuat aliran rencana di dalam kepala Asfa kembali di rombak, beberapa hal harus diurus hingga masalah perusahaan milik suaminya dan perusahaan nya juga di tambah harus bersiap menghadapi keluarga suaminya. Ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur pun tidak di hiraukan nya, fikiran nya masih bercabang hingga satu album dengan berbagai foto muncul membuat piramida rencana masa depannya.
__ADS_1
Tidak peduli dengan keributan yang ada di bawah, karena tugas di bawah sudah di serahkan pada Justin. Dibawah sana Justin tengah membereskan kekacauan yang dibuat oleh bibi Nora, terlihat tangan wanita itu berlumuran darah dengan sebilah pisau yang masih meneteskan darah segar dan di sisi lain tahanan yang seharusnya duduk terikat kini sudah terbaring di lantai marmer dengan berbagai jenis luka yang terbuat dari mahakarya seorang kepala pelayan tuan besarnya.
*Apa lagi ini, semoga tuan besar tidak mengeluarkan senjata pamungkas nya jika mengetahui semuanya terlambat.* batin Justin sembari membantu bibi Nora untuk kembali ke kamarnya karena terlihat jelas mata wanita itu seakan kehilangan separuh nyawanya.
Sedangkan di sebuah apartemen terlihat seorang pria tengah meneliti setiap berkas yang dikirim oleh detective sewaan nya untuk kesekian kalinya namun tak ada sebaris kalimat yang jelas menegaskan tentang sosok yang tengah di cari nya hanya saja dari berbagai narasumber dapat dipastikan jika menganggap sosok itu tidak pernah ada di dunia ini.
"Satu ataupun seratus detective hasilnya akan tetap sama, bukankah sudah ku katakan sejak dulu jika gadis itu bukan gadis sembarangan." ucap seseorang yang baru saja masuk ke apartemen pria itu.
"Tapi kita berdua tahu bahwa Bintang itu nyata! Bukankah begitu Aisyah? " ucap pria itu tanpa melihat pemilik suara yang sangat di kenalnya.
"Vano Raymond, ketika seseorang sengaja menghilangkan jejak nya maka sudah dipastikan orang tersebut tidak ingin di usik sama seperti hal nya dirimu dulu. Hargai keputusan nya seperti takdir menghargai keputusan mu, jangan sampai perasaan mu membakar seluruh hidup mu tanpa sisa." ucap Aisyah sembari meletakkan rantang makanan di atas meja makan.
Hening....
Begitulah pria yang selama ini hidup dengan kesendirian meskipun ada wanita di sisi nya, sejak keduanya melarikan diri bersama-sama tanpa meninggalkan jejak membuat keduanya bersatu tapi terpisah. Dengan bantuan seorang wanita dermawan kehidupan keduanya membaik di saat terlantar di jalanan, dan bisnis wanita itu semakin pesat di tangan kedua anak itu meskipun pada akhirnya terjadi perselisihan dengan keluarga wanita yang menolong mereka hingga menyebabkan keduanya harus pindah negara.
"Dimana calon mu, jangan keseringan kesini atau pria mu itu lari." sindir Vano yang masih kesal.
"Biarkan saja lari, ujungnya berhenti di tiang gantungan juga." jawab Aisyah dengan cekatan mempersiapkan dua piring makanan.
"Hahaha tahu saja. Kamu berarti untukku, takkan ku biarkan siapapun menyakiti mu." ucap Vano dengan menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.
"Bagaimana jika kamu yang menyakiti ku? " ucap Aisyah dengan lirih namun masih cukup terdengar di telinga pria di samping nya.
__ADS_1
" Ukhuk.. ukhuk.."
"Minum. Maka nya kalau makan pelan-pelan." ucap Aisyah dengan mengusap pundak Vano.
"Apa maksud ucapan mu tadi? " tanya Vano dengan tatapan serius.
"Tidak ada, ayo makan lagi." ajak Aisyah yang langsung menutup mulutnya dengan makanan berkali-kali.
Terlihat lucu dan menggemaskan cara makan wanita itu yang menjadi belepotan karena terburu-buru, dengan tisu di elap nya bibir dengan warna jingga tipis itu. Membuat wanita itu salah tingkah namun tetap melanjutkan makannya tanpa menyisakan satu butir nasi pun di piringnya, sedangkan pria di dekatnya masih menikmati makanan buatannya dengan tenang dan damai.
*Andai hati mu terbuka dan mata mu melihat ku sebagai wanita lain bukan sebagai adik, pasti aku memiliki kesempatan itu.* batin Aisyah menurunkan pandangan nya yang siap melepaskan genangan air di pelupuk matanya.
"Apa ada yang melukaimu? Katakan padaku jika iya." tanya Vano dengan serius setelah makannya selesai tapi melihat Aisyah menunduk.
" Tidak, aku pulang dulu." ucap Aisyah sembari mengambil tas dan meninggalkan pria yang terlihat bingung di tempat duduknya.
"Ada apa dengan nya? Lebih baik ku awasi juga dia supaya tetap aman." gumam Vano sembari menyambar ponsel nya untuk menyewa pengawal khusus.
...................
Kriingg... kriingg...
"Halo siapa ini? " tanya seorang wanita dari seberang.
__ADS_1
"Ada rapat dadakan di perusahaan 30 menit lagi, tolong sampaikan pada tuan untuk menghadiri nya." jawab sang penelfon dengan segera menutup sambungan telfonnya.
"Pergilah! " perintah seseorang yang telah berdiri di depan jendela dengan pakaian kerja nya yang terlihat modis.