
Setelah pergulatan dari hati dan fikirannya, Vans berjalan menghampiri sosok Asfa yang masih terpasang alat pernafasan. "Hay peri kecil. Kenapa kamu suka sekali menjadi putri tidur? Apa tidak cukup bermain petak umpet? Dunia ini pasti sepi tanpa aksimu. Kamu tahu, setiap waktu yang ku tunggu hanyalah berita tentangmu. Ayolah bangun peri kecilku. Lihat aku disini, sahabatmu telah kembali."
Hening tak ada jawaban. Vans mendekati Asfa, menggenggam tangan peri kecilnya. Bagaimana bisa baru semalam memandang Asfa karena obat tidur, kini berubah menjadi putri tidur karena down. Untung saja, banyak mata-matanya yang tersebar. Jika tidak, bagaimana dirinya akan memasuki dunia Asfa.
Selama ini, dirinyalah yang menolak dikenalkan dengan anggota keluarga peri kecilnya. Seharusnya dulu tidak perlu menolak, setidaknya jika keadaan darurat bisa datang tanpa melakukan kegilaan. Untung saja Dokter Orlando juga mengenal keluarganya, jika tidak. Mungkin tangannya harus berlumuran darah.
Wajah pucat Asfa dengan mata yang terpejam, membuat hati Vans sakit. Lebih baik melihat Asfa menjahili nya dibandingkan diam membisu. "Kenapa kamu tidak mau bangun! Apa aku harus manjat pohon lagi? Kalau iya bangun dan katakan! Tidak perlu bermain putri tidur seperti ini. Berapa lama aku harus menunggu?"
Heningโฆโฆ
Kata demi kata, Vans mencoba mengajak Asfa mengobrol dari satu sisi. Berbeda dengan percakapan di dalam kamar lain. Dimana kini ke empat anggota keluarga Luxifer tengah duduk bersama, setelah makan malam. Alvaro memilih duduk di depan Rania, tatapannya tak geser meskipun satu kedipan mata. "Bisa jelaskan, kenapa kamu mau melakukan semua ini?"
Jari jemari Rania saling bertautan. "Aku tidak ingin nama Queen tercemar. Aku bahagia bisa membantu papa dan nenek. Kalian keluarga ku, lalu apa perlu alasan untuk membantu?"
"Nak! Ini malam yang melelahkan, bahkan Rania harus mempersiapkan diri dengan kilat dan mendapatkan teguran keras dari Rhey. Mulailah mengajari Rania tampil di muka umum, Queen tidak akan suka tampil di muka umum. Terlebih selama ini jelas identitas adikmu tersembunyi." tutur nenek Ara dengan lembut.
Tuan Luxifer hanya menjadi pendengar, karena Asfa masih terbaring. Tidak mungkin dirinya mengatakan apa keputusan putrinya, dan kenapa dirinya memberikan rencana yang menyangkut menantu mudanya.
Beberapa jam laluโฆโฆ
"๐๐๐ฉ๐๐ ๐๐ฃ! ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐จ๐๐ก๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐๐๐ง๐ ๐๐ฃ ๐ง๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ ๐ข๐ช, ๐จ๐๐ก๐๐ข๐ ๐๐ฉ๐ช ๐ข๐๐จ๐๐ ๐ข๐๐จ๐ช๐ ๐๐ ๐๐ก." ๐๐๐ฃ๐๐ ๐ผ๐ง๐ ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐๐๐ ๐๐ฅ๐ ๐๐ฃ ๐ ๐๐๐ช๐ ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ฃ ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ ๐ฅ๐ค๐จ๐๐จ๐ ๐๐ช๐๐ช๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐ .
๐๐ช๐๐ฃ ๐๐ช๐ญ๐๐๐๐ง ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐๐ ๐๐ฉ ๐จ๐๐ฉ๐ช ๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐ฃ ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐ก๐๐ฃ๐๐ ๐๐ฃ ๐ ๐ ๐ ๐๐ ๐ ๐จ๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ฎ๐. ๐๐๐ฉ๐ช ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ข๐๐จ๐๐ ๐จ๐ฉ๐๐ฎ ๐๐ ๐๐๐ก๐๐ข ๐จ๐๐ ๐ช. "๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ ๐ ๐ช adalah Rania akan menjadi Asfa dan menggantikan posisi wakil direktur utama selama Asfa masih terbaring. Dengan begitu musuh akan terkecoh. Perhitungan ku mengatakan, siapapun musuh keluarga kita. Sudah pasti tahu seluk beluk keluarga besar kita. Dan untuk meminimalisir hal tak terduga. Aku akan membuat Rania berjanji puasa bicara selama konferensi pers."
__ADS_1
Rencana penukaran tempat disetujui dengan syarat untuk sementara, tapi bagaimana menjelaskan pada ibu mertuanya. Jika Asfa tidak berniat mengambil satu rupiah pun dari keluarga Aranda. Bahkan Asfa sudah tanda tangan pemindahan kekuasaan mafia Phoenix secara virtual, dimalam kebenaran penyakit Zoya terungakap.
Cepatlah bangun nak, kamu bukan hanya kehidupan tapi juga sandaran keluarga. Kemarahan kami tenggelam dalam keputusanmu.~ batin tuan Luxifer.
Pukโฆ..
Satu tepukan di pundaknya, membuat tuan Luxifer kembali ke dunia nyata. "Sebaiknya ajak Rania istirahat. Bu, ada yang mau aku bahas.''
Nenek Ara mengangguk paham. "Varo turuti perintah papamu. Rania pergilah bersama suamimu!"
"Nek, Pa. Kami keluarga, apa kalian harus main rahasia?" protes Alvaro yang benar-benar tidak ingin ada yang disembunyikan lagi.
Setiap waktu, tidak adiknya. Tidak sang papa dan bahkan sekarang sang nenek pun ikut brmain petak umpet. Keluarga yang menjunjung kejujuran pun, masih memiliki tabir rahasia yang terlampau dalam. Tuan Luxifer menghela nafas. Jelas sebaiknya Alvaro tidak tahu untuk sementara waktu, hingga kecurigaannya memang benar adanya.
Alvaro menaikkan satu alisnya. Sejak kapan ada syarat untuk ikut bermusyawarah di dalam keluarga Luxifer? Tapi, melirik sang papa justru hanya mengangkat bahu. "Tell!"
"Just quiet and listen, don't do anything after hearing everything.(Tenang dan dengarkan, jangan lakukan apa-apa setelah mendengar segalanya.)" ucap nenek Ara dan membuat tuan Luxifer tersenyum tipis.
Alvaro sontak menepuk jidatnya. Apa bedanya dirinya dengan tembok dan dinding. Tuan Luxifer menahan senyum, tapi apalah dayanya. Jika tersenyum karena reaksi lucu Alvaro. Pria dengan wajah tegas, berubah frustasi karena syarat sederhana dari ibu mertuanya. Inilah salah satu alasan, kenapa dirinya menjaga jarak dari ibu mertuanya itu. Jangan meremehkan satu tindakannya. Skakmat ala Nyonya Aranda cukup sederhana, namun bisa mematahkan niat hati semua yang ingin melawannya.
"Okay. I will remain silent.(Baik. Aku akan tetap diam.)" ucap Alvaro dan menyandarkan tubuhnya ke Sofa, memejamkan matanya.
Rania bingung, apakah syarat untuk Alvaro juga untuknya? Atau bagaimana? Nenek Ara menyadari gelagat dari istri cucunya itu. "Syarat berlaku untuk mu juga, jika kamu masih ingin stay disini."
__ADS_1
"Emm. Bolehkah aku menemani Queen? Aku ingin bersamanya saja." cicit Rania.
"Pergilah nak. Tapi ganti pakaianmu dulu. Bukankah kamu tidak nyaman dengan pakaian seperti ini." Nenek Ara tersenyum dengan mengusap kepala Rania.
Kegugupan masih terlihat dari sikap Rania, membuat hatinya tidak tega jika harus bertindak tegas. Rania bukan Asfa, dimana Asfa sudah dididik dengan sangat keras. Sedangkan, Rania seperti gadis normal pada umumnya. Suka menonton film, ke mall berbelanja dan juga hangout. Sedikit ada rasa sesak, ketika menyadari Asfa memiliki masa muda yang jauh dari kata normal.
Gadis lain sibuk berceloteh dengan teman dan hangout bersama, sembari memiliki masa pengenalan mungkin dengan beberapa teman pria dan wanita. Tapi, Asfa sibuk menimba ilmu, berlatih kekuatan fisik dan juga merencanakan strategi penyerangan atau bisnis. Seperti langit dan bumi, tapi satu hal yang pasti. Rania menyayangi Asfa dengan tulus.
"Varo! Antar istrimu, kami akan diam selama kamu tidak disini." Tuan Luxifer menepuk pelan paha Varo.
Mau tidak mau, Varo membuka mata dan bangun dari posisinya. "Ayo, aku antar sampai ke kamar. Gunakan ini!"
Rania bangun dan menerima uluran jas Varo, sebagai pecinta drama Korea. Tentu hal sederhana seperti itu dapat dicerna dengan baik. Dengan senyuman, Rania memakai jas Varo. Varo dan Rania berjalan menuju pintu kamar. Tuan Luxifer dan Nenek Ara saling memandang dan memberikan kode, tapi semua itu terputus karena Varo. "Jadi patung!''
"Apa harus begini? Ini terlalu berlebihan." protes nenek Ara dengan tubuh yang mematung.
"Harus! Ingat diam dan jangan lakukan apapun. Aku akan segera kembali." ucap Alvaro dan membuka pintu kamar.
Kepergian keduanya, membuat nenek Ara dan tuan Luxifer serempak menggelengkan kepala. "Apa kita harus menunggu Varo?"
"Aku harus mengatakan hal yang penting terlebih dahulu, sebelum kita berbicara di depan Varo." Tuan Luxifer memijat pangkal hidungnya.
Rasa sakit kepala, secara mendadak datang dan menusuk. Nenek Ara mengangguk paham, pasti ada hal yang di tutupi oleh menantunya itu. "Katakan apa masalah utamanya?"
__ADS_1