
Ceklek…
Suara pintu terbuka, membuat Vans dan Asfa saling pandang. Langkah kaki yang mendekat tak mengubah kedekatan Vans dan Asfa, hingga mata seseorang yang memandang kedekatan itu menaikkan satu alisnya. "Apa kalian pasangan?"
Vans menarik tangannya dan berdiri di sisi ranjang, kini tatapan tajam terarah menatap Vans. Sementara Asfa menatap lembut ke arah sosok yang baru saja datang. "Aku ingin pelukan, bisakah aku dapatkan?"
Hening….
"Pa? Ka Vans tidak akan lari, bisa peluk aku?" ucap Asfa dengan senyuman.
Tuan Luxifer mengalihkan perhatian ke putrinya, senyuman manis Asfa meluluhkan hati dan pikiran. Tuan Luxicer berjalan menghampiri sang putri dan memberikan pelukan, seperti yang diinginkan Asfa. Kecupan sayang di kening dan tangan, menjadi momen kebahagiaan sederhana. "Bagaimana keadaanmu sayang? Apa kita perlu ke rumah sakit lagi? Atau ke negara sebelumnya?"
Asfa menatap sang papa, pria dengan wajah serius dan dingin yang selalu menjadi sandaran dan kekuatan di setiap langkah kakinya. Tidak ada pertanyaan yang memiliki keraguan, selain pertanyaan karena kecemasan dan kekhawatiran. Tangan Asfa mengusap tangan tuan Luxicer. "I'am okay dad. Kenalkan, dia ka Vans putra keluarga Burhan. Ka, ini papaku. Jangan berpikir jauh pa, kami adalah sahabat selama bertahun-tahun. Hanya saja, setelah pindah ke negara ini, hubungan kami sedikit renggang."
"Sahabat? Keluarga Burhan, kamu cucu Burhan Al Hamid?" tanya tuan Luxicer menatap Vans.
Mau tidak mau, Vans mengangguk membenarkan ucapan peri kecilnya. Jika tidak, bisa saja berakhir kebisuan selama setahun. Tuan Luxicer menelisik dari atas sampai kebawah, membuat Vans menggaruk kepala yang tidak gatal. Asfa menahan tawa akibat sikap sang papa yang berlebihan, untuk apa memandang Vans seperti tengah memilih barang di toko.
"Apa anda tidak percaya?" tanya Vans memberanikan diri.
"Bagaimana caramu meninggalkan pekerjaan dan tinggal di tempatku? Apa kakekmu itu tidak memborgol tanganmu?" tanya balik tuan Luxicer.
Pertanyaan tuan Luxicer sontak membuat Vans memasang wajah masam, ternyata papa Asfa mengenal dengan baik sosok kakek Burhan. Sementara Asfa memilih menjadi pendengar yang baik, Vans memilih menarik kursi biasa dan duduk menghadap kedua orang yang ada di atas tempat tidur. "Saya hanya ingin menemani peri kecil penyelamat hidupku, terlebih hidupku adalah milik Queen."
__ADS_1
Ucapan Vans menghentikan senyuman di wajah Asfa, kini netra biru melirik ke arah Vans dan bertemu dengan netra mata milik Vans. Tatapan mata itu diawasi oleh tuan Luxicer, kini terlihat jelas cinta di mata Vans. Tetapi tidak di mata putrinya. Percakapan kemarin malam masih membekas, dan itu menjadi jawaban yang jelas. Cinta Vans adalah Asfa, tetapi pria itu masih memiliki batasan.
Cinta milikmu sama seperti cintaku untuk Naura, hanya saja cintamu tidak berbalas dan memiliki tempat di hidup putriku. Aku berharap tidak ada pandangan buruk akan cinta mu, dan membuat jalan hidup semua orang menjadi rumit.~batin Tuan Luxicer.
"Ekhem! Sampai kapan bicara dengan isyarat seperti itu? Istirahat nak, dan kamu Vans. Jaga Identitas mu, biarkan tetap menjadi dokter biasa. Aku tidak ingin kakekmu datang dan mencari masalah yang tidak perlu. Kamu lebih tahu seperti apa kakek mu itu, bukan begitu?" Tuan Luxicer menutup mata Asfa dengan telapak tangannya.
"Saya paham tuan, terimakasih telah memberikan izin untuk merawat Queen. Soal identitas, saya setuju dengan ucapan anda. Lebih baik menjadi dokter biasa dan bisa menjaga Queen tanpa hambatan dari keluarga sendiri." jawab Vans dan menetralkan perasaan.
Asfa menurunkan tangan sang papa, meskipun tidak ada lagi senyuman dan ekspresi dingin mulai muncul. Menghadirkan aura dingin dan intimidasi. "Give me time with him. Please dad. (Beri aku waktu dengan dia. Ku mohon ayan.)"
Tatapan serius dengan mata tajam, membuat tuan Luxicer menghela nafas. Sepertinya ada sesuatu yang mengusik sang putri. "Sure. Don't many thinking and take care baby," Tuan Luxicer menatap Vans dan mendapatkan anggukan kepala dari tuan muda Burhan.
Hanya ada kebisuan, selain mendengar suara langkah kaki tuan Luxicer yang berjalan ke arah pintu. Beberapa saat hingga pintu terbuka dan tertutup kembali, kini Asfa menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Perlahan menurunkan kaki agar bisa duduk di pinggir ranjang, Vans berniat membantu. Akan tetapi tangan Asfa memberikan larangan.
Asfa masih diam dan mencoba melepaskan kedua tangan Vans yang merengkuh pinggangnya. Namun, Vans tidak menyerah dan membiarkan Asfa lepas begitu saja. Kondisi lemah dan pengaruh obat masih jelas terlihat, tetapi keras kepala Asfa seakan menjadi kekuatan tersendiri. Vans mengeratkan pelukan dan memegang dagu Asfa. Kedua mata saling menatap, dengan tatapan tajam dan lembut.
"What you want?(Apa yang kamu inginkan?)" tanya Vans lembut.
Hening….
"Jangan seperti ini! Jika aku salah, katakan bukannya diam dan menatap tajam seperti sekarang. Apa aku harus terjun dari balkon? Atau harus…"
"What? You ask me, what you want? Seriously Vans.(Apa? Anda bertanya kepada saya, apa yang Anda inginkan? Serius vans.)" Asfa semakin menatap Vans lebih tajam.
__ADS_1
Suara Asfa begitu tegas dengan sindiran, itu berarti ada yang terlewat oleh dirinya. Sejenak Vans memejamkan mata dan mencoba mengingat bagian mana yang menyulut api peri kecilnya. Namun tidak ada satu pembahasan yang bisa menjadi alasan kemarahan Asfa. Melihat reaksi Vans yang masih tidak peka, Asfa ikut memejamkan mata dan menarik nafas dalam.
"Lepaskan aku! Aku bisa berdiri sendiri." tukas Asfa, membuat Vans membuka mata dan menatap netra biru yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Vans tidak melepaskan begitu saja, akan tetapi menggendong Asfa dan mendudukkan peri kecilnya di atas tempat tidur. Vans berlutut di depan Asfa, dan meraih kedua tangan Asfa. "Jika ucapan ku, apalagi perasaan milikku mengusikmu. Aku akan melepaskan semua rasa di hatiku, tapi ku mohon jangan bersikap seperti ini padaku. Kamu sebagian jiwaku, jika bukan…."
"Stop! Sejak kapan aku meminta balas budi dari mu? Vans Burhan Al Hamid, aku menyelamatkanmu itu sebuah takdir dan kita menjadi sahabat dengan kepercayaan. Hentikan berpikir hidupmu milikku. Hidupmu milikmu, bukan milik orang lain. Berapa kali lagi aku jelaskan hal ini?" sela Asfa, membuat Vans memejamkan mata.
Berulang kali, tetapi peringatan dan nasehat Asfa tidak akan mengubah sudut pandang dan perasaan di hatinya. Memang benar, Asfa tidak suka jika satu kehidupan didedikasikan untuk orang lain. Meskipun itu untuk sang penyelamat sekalipun. Vans membuka mata, mengangkat wajahnya dan menatap Asfa.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengubah apapun. Lebih dari diriku sendiri, kamu tahu seperti apa diriku luar dan dalam. Peri kecilku, biarkan aku menjadi bayanganmu. Batasan ku akan tetap di belakang, dan tidak akan melampaui keputusanmu." pinta Vans dengan sungguh-sungguh.
Asfa melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Vans, mata biru itu menatap jauh dibelakang Vans. Semakin lama menatap mata Vans, ada rasa sakit di hati yang perlahan menjalar. Ada rasa sesak yang mencubit hatinya. Tanpa menjawab, Asfa memilih merebahkan tubuh lemah dengan pikiran kemelut.
Vans membantu menyelimuti tubuh Asfa, dan membiarkan peri kecilnya untuk kembali beristirahat. Perdebatan cukup menguras tenaga dan perasaan, satu ucapan Asfa terlintas dibenak Vans. Ucapan yang selalu mengingatkan Vans untuk menghindari perdebatan terlalu dalam.
*Jangan membuat jalan kerumitan, perdebatan hanya akan menguras emosi dan aku lebih baik bertarung, daripada berdebat.*
Pejaman mata Asfa, membuat Vans duduk di lantai dan menatap kaca menuju balkon. Untuk kesekian kali, perdebatan yang menguras emosi terjadi di antara keduanya dan kali ini terjadi disaat kondisi Asfa lemah.
Perenungan yang dilakukan Vans, berbeda dengan kebingungan dua pria untuk meredakan rasa takut wanita di dalam kamar. Tiba-tiba saja wanita itu berteriak histeris dan entah apa sebabnya, hingga jiwa wanita itu seperti terguncang.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit? Bagaimana?"
__ADS_1