
Nama yang sama dan mata yang sama, tetapi itu tidak mungkin. Setahu dirinya, Kanza sahabatnya ada di negara lain dan bekerja di salah satu perusahaan yang menjadi tamu delegasi asing perusahaannya.
Sudahlah tidak mungkin, lebih baik aku fokus kembali ke pekerjaan ku.~batin Abhi.
Merasa tidak mendapatkan respon dari Abhi, tumpukan kertas di banting ke atas meja dengan penuh kekuatan.
Braaak....
Abhi terkejut dan langsung bangun, jarinya menunjuk ke arah pelaku pen gebrakan meja. "Apa kamu tidak tahu sopan santun? Sejak kapan perusahaan…"
"Apa kamu lupa aku?" Kanza menatap Abhi dengan puppy eyes-nya.
Abhi diam dan menatap wanita di depannya. Penampilan yang masih kekinian, di tambah dengan lipstik merah terang. Wanita yang melakukan ketidak sopan an itu sahabatnya Kanza Hermawan. Lalu sedang apa Kanza ada di ruangannya? "Leo bisa jelaskan, kenapa Kanza memakai name tag perusahaan ABF Company?"
Bibir Kanza merenggut dengan sikap Abhi yang justru bertanya pada pria menyebalkan yang membuat hidupnya sengsara. Leo yang mendapatkan pertanyaan menepuk keningnya sendiri. "Aku baru saja bilang, Kanza menjadi pendamping Pak Luis pengacara perusahaan ABF Company, dan hari ini pelanggaran telah dilakukan oleh Kanza. Auto aku memberikan hukuman. Masih ada pertanyaan lagi?"
"Ouh. Balik kerja saja, kamu ikut denganku!" jawab Abhi santai dan tidak peduli dengan penjelasan Leo.
Langkah kaki Abhi yang memutar meja dengan menyambar ponsel di atas meja, membuat Kanza berlari kecil menghalangi Abhi. "Apa begini sambutan mu? Mana Abhi sahabat ku yang dulu?"
"Ini perusahaan tempat bekerja, maka bersikaplah sebagaimana mestinya. Leo cepat, aku tidak bawa mobil!" titah Abhi dan menyingkirkan Kanza dari hadapannya.
Hentakan kaki Kanza, membuat Leo menatap sinis. Sungguh wanita genit, itulah yang Leo pikirkan. Abhi berjalan didepan dan diikuti oleh Leo, sementara Kanza harus menahan amarah dan rasa malu akibat tindakan Abhi yang mengabaikan dirinya. Terlebih Leo memberikan tatapan sinis, seakan tidak senang jika bosnya memiliki sahabat dekat. Tumpukan kertas di meja menjadi sajian untuk Kanza melalui hari, setelah doanya terkabul.
__ADS_1
Apa kamu masih kecewa dengan keputusan ku? Jika iya, aku harus melakukan sesuatu. Oh iya, aku hampir lupa. Besok ulang tahun Abhi, dua hari lagi. Aku buat surprise seperti biasanya saja. Brilliant Kanza. Sekarang nikmati tumpukan sampah ini.~batin Kanza dan mulai memeriksa setiap laporan dari berbagai kasus yang terjadi di perusahaan ABF company selama beberapa tahun terakhir.
Waktu berlalu sangat lambat, kerjapan mata dan lelahnya jari membuat catatan, membuat Kanza mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Abhi. Ruangan yang luas, tapi apakah Abhi memiliki ruangan rahasia seperti tuan Damond? Sekelebat ingatan yang muncul, membuat Kanza menutup kedua telinganya dan memejamkan mata.
"Tidak! Aku harus bisa lepas dari masa itu, sekarang aku bebas dan bisa berbuat sesukaku. Jangan mengingat masa yang telah berlalu, Kanza tujuanmu hanya Abhi. Bukan pria lain." racau Kanza dan menarik nafas dalam dan membuang nafas perlahan.
Namun, kenangan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Terlebih, bukan hanya waktu yang terikat, jiwa dan raganya telah menjadi milik pria dengan status suami orang. Lepas dari ikatan yang rumit, membuat dirinya tersenyum lebar dan tujuan hidupnya kembali lagi. Awalnya tidak ada niat untuk mendapatkan cinta lamanya, akan tetapi dengan pertemuan tak disengaja. Niat yang padam kembali menyala, meskipun status sang cinta lama tak lagi sendiri.
Aku siap melakukan apapun, tapi apakah Abhi bahagia dengan pernikahannya? Jika iya, tidak ada alasanku untuk merebutnya. Kecuali, aku menciptakan jarak diantara mereka. Apapun itu, aku tidak akan mundur. Abhi hanya milik Kanza. ~batin Kanza dengan senyuman lebar.
Meninggalkan Kanza dengan satu pemikiran untuk mendapatkan cinta masa lalunya. Abhi dan Leo sudah meninggalkan gedung perusahaan dan keheningan terjadi didalam mobil. Suara ketukan jemari Leo di stir, membuat Abhi menghela nafas. "Bisa hentikan itu! Cari kerjaan selain itu."
"Siapa itu Kanza?" tanya Leo dan menghentikan gerakan jemarinya.
Abhi melirik ke arah Leo, untuk pertama kalinya, sang asisten to the point dengan hal yang pasti sepele. "Kenapa? Naksir dia? Lebih baik cari yang lain."
Abhi mengerutkan satu alisnya, kenapa bahasa Leo semakin amburadul. "Coba ulangi apa yang kamu ucapkan? Bahasa dari mana itu?"
"Yang mana? Wanita normal diluar sana?" tanya Leo.
"Bukan itu, sebelum ucapan itu." tukas Abhi dengan serius.
Leo berfikir sejenak mengingat apa yang bibirnya katakan. "Centil?"
__ADS_1
Abhi menjentikkan jarinya. Leo tertawa, ternyata satu kata itu yang menarik perhatian bosnya. "Dia itu memang centil, bahkan pak Luis saja langsung memberikan surat resign. Entah apa yang ditawarkan, tapi ada kabar yang menyatakan Kanza bermain ranjang."
Penjelasan Leo, membuat pikirannya travelling kembali ke masa lalu. Dimana hati tulusnya menjadi serpihan, setelah keputusan Kanza memilih seorang pria dengan status menikah. Padahal seluruh bukti sudah diberikan, dan keputusan Kanza tetap tidak berubah.
Plaak!
"Ada apa bos? Atau jangan-jangan?" tanya Leo setelah menepuk lengan Abhi.
"Dia teman kampus sekaligus sahabat. Satu keputusan, membuat hubungan kami putus di tengah jalan. Aku tidak heran, jika Kanza memiliki kekasih atau pasangan suami orang. Jadi singkirkan fikiran burukmu! Dia hanya masa lalu, dan aku tidak bertahan di dalam masa lalu. Lagipula, aku sudah menikah dan istriku cukup bagiku." jelas Abhi membuat Leo tersenyum.
Satu kenyataan yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diubah, dan bertahan di antara puing masa lalu adalah kebodohan. Seperti dirinya yang tidak ingin mengusik masa lalu, dan memilih hidup di masa kini. "Apa pak Luis mengundurkan diri secara sukarela?"
"Dari surat pengunduran diri, terlihat jelas pak Luis dengan senang hati resign. Kenapa aku menyimpulkan begitu? Karena aku sendiri yang menyetujui pengunduran dirinya. Hingga pengangkatan Kanza sebagai pengacara perusahaan ABF company. Hanya saja." jelas Leo menggantungkan ucapannya.
Abhi menatap Leo dan satu alis terangkat. Bukannya jawaban, Leo memilih fokus dengan menyetir dan memutar berbalik arah, dari dalam mobil terlihat deretan cafe di luar sana. "Bisa di lanjut?"
"Sabar bos. Kita ke Cafe dulu, haus jika terus memberikan laporan. Ayo turun, kali ini aku yang traktir." Leo memarkirkan mobil di parkiran Cafe dan melepaskan sabuk pengaman.
Abhi mengikuti tanpa protes, biarkan saja menjadi pria tak berguna saat ini. Setelah beberapa minggu hibernasi, ternyata banyak kejadian yang terlewatkan. Keduanya berjalan beriringan memasuki cafe dan di sambut terpaan hawa dingin AC. Abhi tidak memperhatikan seberapa banyak pelanggan di cafe itu, sementara Leo melambaikan tangan ke arah salah satu meja.
"Ayo, kita ke meja itu." ajak Leo dan berjalan didepan.
Wajah itu seperti tidak asing, bagaimana Leo mengenal pria itu? Beberapa pertanyaan muncul dibenak Abhi, tetapi wajah pria yang dingin dan hanya menatap datar, seakan tidak mengenal Abhi. Leo menarik kursi untuk dirinya sendiri dan Abi masih berdiri tanpa satu kata pun.
__ADS_1
"Ekhem! Kamu tidak duduk? Atau masih menunggu perintah." sindir pria dengan tato di kedua tangannya.
Abhi menarik satu kursi dan duduk dengan gaya seorang pengusaha. "Apa kabarmu Zain? Kenapa tidak datang saat kami menikah?"