My Secret Life

My Secret Life
Bab 94: Dilema


__ADS_3

"Papa baik deh, cerita donk pa." bujuk Asfa dengan mengedipkan satu mata kanan nya yang membuat tuan Luxifer mencubit pelan pipi putri nya.


"Auw.sakit." rengek Asfa dengan mengubah tatapan mata nya menjadi sendu.


"Maaf, ayo berbaring. Papa akan cerita kan." pinta tuan Luxifer dengan menepuk bantal bulu yang ada di tengah.


Asfa hanya menurut dan menatap papa nya tanpa teralihakan sedikitpun membuat tuan Luxifer hanya menggelengkan kepala melihat putri nya yang sangat keras kepala jika rasa penasaran nya masih tidak mendapatkan jawaban. Dengan menarik selimut agar putri nya lebih nyaman dan tuan Luxifer memilih duduk bersandar dan tangan nya mengusap rambut Asfa dengan penuh kasih sayang.


"Pa." panggil Asfa yang langsung membuat tuan Luxifer tersenyum karena tidak ada nama nya mangkir dari interogasi seorang Queen Asfa Luxifer.


"Papa menawarkan kakak mu untuk memimpin perusahan papa dan menjadikan Rania assistant pribadi nya, pasti sekarang kakak mu itu dilema memilih menjaga mu atau mengejar pujaan hati nya." ucap tuan Luxifer dengan kerlingan mata yang membuat Asfa hanya mengerjapkan mata nya.


"Really dad?(Benarkah ayah?). " tanya Asfa yang mencoba memastikan pernyataan papa nya karena jika kakak nya memimpin perusahaan papa nya sudah pasti tugas nya lebih mudah.


"Hmm, but you know him.So decision depends on him.(Hmm, tapi kamu kenal dia. Jadi keputusan tergantung dia.)." jawab tuan Luxifer dengan tetap mengelus kepala putri nya yang terdiam seakan memikirkan sesuatu yang berat.


"Good night dad, love you.(Selamat malam ayah, sayang kamu). " ucap Asfa dengan memilih memejamkan mata nya setelah sebuah rencana sudah di acc oleh logika dan perasaan nya.


Cup...


"Sweet dreams my angel.( Mimpi indah malaikat ku.). " ucap tuan Luxifer setelah mengecup kening putri nya.


Tidak ada kata lagi yang membuat tuan Luxifer bisa menggambarkan rasa syukurnya memiliki dua anak yang luar biasa, terkadang rasa nya ingin membiarkan kedua anak nya tetap menjadi anak-anak saja namun waktu tidak pernah berhenti dan tetap menjadikan setiap manusia melewati masa pertumbuhan.


"Dad.. " panggil Alvaro yang baru saja masuk dan terhenti karena melihat jari telunjuk kiri papa nya di letakkan di bibir agar diam.


Pandangan Alvaro tertuju pada gadis yang tengah memeluk sebuah boneka dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh nya dan di tambah elusan tangan kekar papa nya yang masih tidak berhenti, melihat itu membuat Alvaro mendekati tempat tidur king size yang pasti muat meskipun untuk tiga orang dewasa sekalipun. Dengan perlahan Alvaro memilih untuk ikut membaringkan tubuh nya yang lelah dengan kerumitan tentang hati nya dan juga tanggung jawab nya untuk menjaga keluarga nya, tidak ada niat sekalipun untuk melepaskan apa lagi memilih salah satu alasan nya bertahan hidup.


"Tidur lah nak, papa tidak buru-buru ingin di lengserkan." ucap tuan Luxifer dengan pelan namun Alvaro masih bisa mendengar itu dan mulai memejamkan mata nya.


Sedangkan tuan Luxifer menikmati kebersamaan yang selalu menjadi kebahagiaan dan juga sumber semangat dan kekuatan dalam hidup nya selama ini, putra dan putri nya menjadi saudara yang saling melindungi tanpa pamrih dan selalu memberikan support satu sama lain. Bahu yang siap untuk menjadi tempat bersandar, tangan yang siap menjadi uluran kekuatan dan pelukan yang selalu menjadi ketenangan.

__ADS_1


"Kalian adalah hidup ku, tetap lah bersama ku dan saling mengasihi meskipun badai masuk untuk memisahkan kita dari satu sama lain." gumam tuan Luxifer yang ikut memejamkan mata nya dengan posisi yang masih duduk bersandar tanpa menghentikan gerakan tangan nya.


Waktu membawa pergi mimpi dengan datang nya mentari pagi yang membuat seorang gadis harus menjadi seperti isi hotdog karena tidur nya berada di tengah dengan dua pria di sisi nya yang tertidur pulas seperti tidak tidur selama setahun saja, dengan melorotkan tubuh nya yang mungil ke bawah secara perlahan akhirnya gadis itu bisa bernafas lega karena bebas dari himpitan papa dan kakak nya.


Cekrek... (Sebuah foto di ambil oleh gadis itu dengan senyuman yang mengembang)


"Manis nya mereka berdua. Hehehe." ucap Asfa dengan melihat hasil bidikan kamera ponsel pintar nya.


Setelah puas dengan foto, langkah nya bergegas memasuki kamar mandi dengan pakaian yang sudah di bawa langsung ke dalam kamar mandi agar tidak bolak balik. Terlebih setelah ini diri nya harus melakukan pekerjaan yang cukup padat di perusahaan nya, ritual mandi yang cukup lama dengan buih sabun aroma strawberry kesukaan nya membuat tubuh nya semakin terasa segar.


Cklek.. (pintu kamar mandi terbuka menampilkan wujud segar nya dengan dress hitam lengan panjang yang akan digunakan nya untuk pergi ke kantor)


"Morning dad, cup." ucap Asfa memberikan kecupan pipi kiri papa nya dan mengitarai tempat tidur nya lagi dimana kakak nya masih terlelap juga.


"Morning ka, cup." ucap Asfa memberikan kecupan pipi kanan pipi kakak nya yang langsung membuka kelopak mata nya dengan tingkah adik nya yang sudah menyebar harum manis sepagi ini.


"Very early morning queen? (Pagi sekali queen?). " ucap Alvaro dengan mengumpulkan kesadaran nya.


"Ka, jadilah pemimpin di perusahaan papa. Karena itu hak kakak sebagai anak pertama, lindungi kami dengan kekuasaan yang selama ini kakak tidak ingin sentuh, kursi kebesaraan keluarga Luxifer memang di tujukan untuk kita tapi aku percaya ka Varo bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dari ku." ucap Asfa sebelum membuka pintu nya.


"Doll." gumam Alvaro dengan perasaan yang tidak menentu tapi adik nya sudah keluar setelah menyampaikan isi hati yang mungkin juga sudah lama di pendam.


"Ikuti kata hati mu nak, ucapan adik mu benar tapi tanpa kepercayaan diri. Papa tidak bisa menyerahkan tahta bisnis keluarga Luxifer pada mu, tapi papa siap mendampingi mu. " ucap tuan Luxifer yang ternyata juga sudah bangun akibat harum manis yang di sebar putri nya.


"Akan Varo fikirkan pa, Varo tidak ingin bertindak gegabah dan menjadi penyesalan nanti nya. Varo balik ke kamar dulu pa." jawab Alvaro dengan menurunkan kaki nya dari tempat ternyaman di hidup nya.


"Nak, jangan buat Rania menunggu lama." goda tuan Luxifer sebelum melihat putra nya itu menghilang dari pintu kamar yang baru saja di buka.


"Papa pagi-pagi buat aku travelling saja, ayolah dokter Alvaro Caesar pasien mu menunggu mu." gumam Alvaro sembari membuka pintu kamar pribadi nya.


Sementara tuan Luxifer memilih untuk kembali memejamkan mata nya yang masih terasa berat, sedangkan di ruangan rawat kini semangkok bubur ayam sudah tersaji dengan ditemani segelas jus apel yang terlihat menggoda. Masih belum ada pergerakan dari pasien yang seperti nya menyukai menjadi pangeran tidur, dan keadaan terlena seperti itu tidak di sia-siakan Asfa untuk melakukan pemeriksaan terakhirnya.

__ADS_1


"Perkembangan yang mengesankan, hari ini bisa di lepas semua alat di tubuh nya." batin Asfa sembari mengotak-atik papan ketik agar layar virtual di depan nya bisa menunjukkan hasil dari operasi besar beberapa hari lalu dan perkembangan saraf yang menyebabkan kelumpuhan.


"Eeeuugh." suara lenguhan khas bangun tidur yang tak mengusik konsentrasi Asfa dari layar virtual di depan nya.


"Siapa kamu?" tanya seseorang dengan serak karena hanya melihat rambut hitam panjang dengan dress hitam lengan panjang di sisi kanan brangkar meskipun dengan jarak satu meter lebih.


"Good morning. (Selamat pagi)." sapa Asfa dengan berbalik menghadap suami nya yang langsung membuat pria itu mengerjapkan mata nya.


"Asfa?" tanya Abhi dengan tidak percaya nya yang masih shock dengan penampilan elegan istri lusuh nya yang justru menjadi putri raja secara tiba-tiba.


"Ekhem!" dehem Asfa agar pria yang sudah menikahi nya itu sadar dan tidak memandang diri nya seperti manusia dari planet lain.


".... "


"Eat first, one question one answer.(Makan dulu, satu pertanyaan satu jawaban.) " ucap Asfa memotong niat Abhi yang sudah mengerakkan bibir nya.


Tanpa menunggu persetujuan ataupun penolakan, di dekati nya segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas. Dengan mengatur brangkar untuk bisa menjadi posisi duduk meskipun hanya lah dengan ketinggian dua puluh centimeter agar membuat sedikit peregangan otot, dengan pelan Asfa memberikan air putih yang tentu nya sudah dilengkapi dengan sedotan.


Setelah meletakkan gelas air putih kini tangan Asfa beralih menuju ke meja dorong yang menyediakan menu pagi ini, namun belum sempat tangan nya menyentuh mangkok bubur itu kini pintu ruangan terbuka dan seseorang masuk ke dalam.


"Queen." panggil seorang pria dengan penampilan urakan memasuki kamar rawat dengan wajah sedikit cemas.


"Aku akan kembali nanti malam, dokter akan merawat mu. Maaf tapi aku harus pergi." ucap Asfa sesaat mengusap pipi Abhi dan berjalan menjauhi brangkar suami nya.


"Asfa." panggil Abhi sekuat tenaga di dalam batin nya, ada yang menusuk hati nya tapi tatapan mata istri nya sangat jelas tidak bisa di bantah membuat nya hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan istri nya pergi bersama seorang pria dengan penampilan urakan yang baru saja datang dengan wajah cemas.


Begitu pintu tertutup, terlihat Alvaro berdiri di sisi pintu yang membuat Asfa tahu jika kakak nya lah yang membukakan pintu untuk salah satu duke nya itu.


"Pergi lah dan hati-hati, biar kakak yang mengurus suami mu." ucap Alvaro yang membuat Asfa mengangguk dan memberikan kode pada pria di belakang nya untuk berjalan terlebih dahulu.


__ADS_1


__ADS_2