
"Sudahlah! Jawabanmu tidak akan jujur. Satu menit berlalu, kamu terlalu memikirkan baik dan buruk akan sebuah kejujuran. Pergilah!" Asfa menarik tangannya dengan wajah berpaling ke arah lain.
Aku tidak mau kamu bertindak dalam keadaan seperti ini. Bahkan tubuhmu saja sudah penuh luka dalam dan luar. Bagaimana aku menjelaskan padamu peri kecilku? Kami hanya ingin kamu tetap baik dan hidup bahagia. ~batin Vans mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi.
"Bayimu dalam perawatan. Aku tidak akan berbohong, tapi kesehatanmu juga sangat penting. Sebagai seorang dokter, kamu tahu periku. Bagaimana tubuh melakukan pemberontakan ketika racun menyebar di dalam darah....,"
Asfa memejamkan mata dengan lelehan air mata. Masa lalunya menjadi penderitaan untuk bayinya sendiri. "Lakukan apapun untuk anakku, Ka. Aku akan menurut demi masa depan kami."
Vans menghapus air mata Asfa, lalu merengkuh tubuh peri kecilnya. Dirinya hanya bisa memberikan kekuatan dalam pelukan kasih sayang.
"Seharusnya kamu melakukan operasi pencangkokan jantung, dan Varo siap menjadi pendonor....,"
"Tidak! Berapa lama waktu yang ku butuhkan?" Asfa kembali menatap Vans serius.
Wajah manis dengan tatapan tajam menenggelamkan, membuat Vans menghela nafas panjang. Sudah pasti perinya akan berusaha mencari jalan lain agar tidak mengorbankan kakaknya.
"Kita lakukan pemeriksaan lagi, dan setelah itu....,"
Ceklek!
Suara pintu terbuka membuat Asfa berpura-pura tengah beristirahat dan Vans sibuk melihat tulisan di kertas.
"Vans!" panggil seseorang.
Vans menoleh dan bangun dari tempatnya duduk. "Silahkan, Queen baru saja istirahat."
Tuan besar mengangguk dan berjalan menghampiri brankar putrinya, diikuti Varo bersama Nenek Ara.
Vans memilih mundur membiarkan keluarga perinya untuk berkumpul. Sementara di tempat lain. Tubuh Abhi sudah berpindah ke sebuah mobil taxi bersama seorang wanita dengan tatapan penuh arti.
"Pak, hotel Flamboyan Utara!" ucap wanita itu.
Supir taxi mengangguk dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Sebulan kemudian...
__ADS_1
Tak!
Seorang pria dengan dokumen di tangan menatap sebuah alat tes kehamilan di atas meja kerjanya. Tatapan matanya teralihkan pada sang pelempar tespek itu dengan alis terangkat. "Apa maksudmu?"
"Apa kamu tidak tahu itu apa? Itu namanya tespek." jelas sang wanita dengan emosi menggebu-gebu.
Braak!
Pria itu menggebrak meja, membuat alat test pack terpantul dan terjatuh ke meja kembali.
"Untuk apa kamu melempar ini ke aku?! Apa kamu sudah gila, Khanza?!" seru pria itu memegang tespek geram.
Khanza berpura-pura meneteskan air mata dengan memegang perutnya yang masih rata. "Bhi, kamu tega sekali. Anak ini anakmu!"
Deg....
Abhi menatap Khanza dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa mantannya itu tiba-tiba mengatakan hamil anaknya? Sedangkan hubungan mereka tidak pernah maju dan semakin memburuk.
Wajah ketahuan Abhi, disadari Khanza.
"Stop!" seru Abhi menutup kedua telinganya.
"Bhi, Aku mengandung anakmu. Percayalah, ini anakmu." Khanza mendekati Abhi dengan wajahnya yang memelas serta meyakinkan.
Langkah Khanza semakin mendekati Abhi, lalu tangannya berusaha menyentuh lengan pria itu. Abhi menepis tangan Khanza dan melangkah mundur.
"Tidak! Aku....,"
Buug!
Buug!
Khanza memukuli dada Abhi dengan lelehan air mata hingga tubuhnya melemah dan sempoyongan, membuat Abhi panik dan menangkap tubuh Khanza yang jatuh tak sadarkan diri.
Hap!
__ADS_1
"Hey, astaga kenapa seperti ini," Abhi bergegas menggendong Khanza sembari menyambar kunci mobilnya.
Tatapan karyawan tak di perdulikan, langkah kakinya berjalan meninggalkan gedung perusahaannya.
Sepuluh menit kemudian, Abhi sampai di tempat parkir. Setelah memasukkan Khanza ke dalam mobilnya. Barulah dirinya ikut masuk, lalu menyalakan mesin dan mobil melaju meninggalkan tempat parkir. Tujuannya adalah rumah sakit terdekat.
Bagaimana bisa Khanza hamil? Malam itu, apa yang kulakukan padanya? Benarkan aku melakukan hubungan terlarang itu?~batin Abhi dengan melirik ke arah Khanza.
Tanpa Abhi sadari. Jika Khanza hanya pura-pura pingsan demi mendapatkan perhatian pujaan hatinya.
Sekarang tidak akan ada yang memisahkan kita. Aku akan mendapatkanmu setelah sekian lama, Abhi ku sayang.~batin Khanza kembali memejamkan mata dengan benar.
Perjalanan selama dua puluh menit berlalu dalam keheningan, dan pikiran seperti benang kusut. Hingga mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Abhi melepaskan sabuk pengaman nya, lalu keluar memutari mobil belakang dan membuka pintu lainnya.
"Sus!" panggil Abhi pada suster yang kebetulan lewat di depannya.
Sang suster beralih haluan dan menghampiri pria yang memanggilnya. "Iya, Tuan?"
"Tolong bantu saya, teman saya tiba-tiba saja jatuh pingsan." ucap Abhi membuat suster itu memeriksa Khanza.
"Tolong pindahkan ke kursi roda saja!" pinta suster itu sembari membenarkan posisi kursi roda yang baru saja digunakan untuk mengantarkan pasien pulang.
Abhi menuruti permintaan sang suster, "Saya akan urus administrasi. Tolong periksa teman saya!"
"Tantang, Tuan. Dokter akan melakukan tugasnya, mari ke dalam rumah sakit." ajak Suster dengan mendorong kursi rodanya.
Abhi merogoh sakunya. Niat hati ingin mengambil ponsel untuk memberikan kabar jika rapat ditunda, tapi ponselnya tertinggal di kantor. Hingga satu ide melintas, membuat pria itu bergegas menuju lobi rumah sakit dimana ada resepsionis. Sedangkan Khanza sudah dibawa suster untuk ditangani dokter umum.
"Permisi, Saya lupa membawa ponsel karena terburu-buru. Boleh pinjam telepon rumah sakit untuk emergency?" ucap Abhi tanpa basa-basi, membuat suster penjaga resepsionis mengangguk mempersilahkan.
Tangannya siap mendial beberapa nomor yang sangat hapal diluar kepalanya. Namun, percakapan dari arah belakangnya dengan pantulan bayangan di jendela depan sana, membuatnya membeku di tempat. Ntah kenapa percakapan di belakangnya sangatlah menyita perhatian dan detak jantung terasa berdebar seribu kali lipat.
Ada apa denganku? Kenapa aku seperti tertarik dengan masalahnya? Abhi, ingatlah kalian tidak ada hubungan lagi.~batin Abhi dan mengambil buku di depannya untuk menutupi wajahnya sendiri.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya suster penjaga resepsionis bingung dengan tingkah Abhi.
__ADS_1
Abhi kembali meletakkan buku dan melepaskan telepon rumah sakit. "Saya akan telepon nanti, permisi."