My Secret Life

My Secret Life
Bab 126: Zain Vs Abhi


__ADS_3

Ketegangan seakan tersebar disetiap langkah Asfa. Orang-orang disekeliling Asfa mulai merasakan aura tak berhati, namun tidak dengan pria yang mengikuti langkah Asfa. Senyuman manis pria itu bukan patah, tapi semakin terkembang sempurna.


"Bagaimana jika bibir mu, ku museum kan?" tanya Asfa tanpa memandang pria yang setia menjadi ekor.


Pria itu hanya diam tanpa menjawab dengan langkah tanpa keraguan.


"Zain! Bukankah kamu penerus tunggal Tuan Arham? Kenapa kamu memilih menjadi bodyguard." celetuk Asfa dan duduk di sofa ruang tamu.


"Papa terlalu ambisius. Aku hanya ingin kebebasan." jawab Zain.


Asfa melirik ke arah Zain sekilas , senyuman menggoda dari pria bertatto itu sangatlah sexy. Tapi tidak membuat hati Asfa bergetar meskipun hanya sedetik.


"Apa kamu tahu, perusahaanTuan Arham mengalami penurunan drastis selama dua bulan terakhir. Aku harap kamu siap mengambil alih perusahaan, sebelum dia bergerak." ucap Asfa.


Zain menaikkan kedua alis, ada sesuatu yang mengganjal dari ucapan Asfa. Siap mengambil alih perusahaan 'sebelum dia bergerak', dia ini siapa? Dan bagaimana bisa perusahaan yang dirintis dari puluhan tahun tiba-tiba mengalami penurunan drastis. Terlebih tidak ada keluhan dari sang papa.


Asfa tahu, jika Zain tidak tahu tentang bagaimana keadaan perusahaan Tuan Arham. "Jika kamu menikmati dunia bebas! Bagaimana Tuan Arham meminta mu kembali? Seorang ayah akan mementingkan kebahagiaan anak mereka, menyimpan masalahnya sendiri."


Ucapan Asfa lembut namun sangat menusuk. Benar namun pahit, seperti buah maladewa. Zain hanya bisa memejamkan mata sesaat untuk menetralisir rasa bersalah pada sang papa.


"Kamu boleh pulang. Jangan khawatirkan aku." tukas Asfa.


Dengan cepat Zain membuka mata, menatap Asfa yang terlihat duduk bersandar dengan tangan bersedekap. "Aku akan pulang. Tapi, setelah rapat."


Tidak ada jawaban. Asfa sibuk membuat rencana di dalam fikiran dan Zain masih melakukan kebiasaan yang sama. Menikmati pemandangan terbaik sepanjang hidupnya.


Siapa lagi jika bukan Asfa. Bahkan waktu dan tempat pun terabaikan oleh Zain, ketika memandang sang pujaan hati.


Satu jam berlalu...


"Ekhem!" dehem seseorang yang membuat Asfa membuka mata.


"Zain! Siapkan mobil, antar Tuan Abhi ke tempat pertemuan." perintah Asfa dan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Sikap macam apa itu? Bahkan tidak memandang ku, apalagi memuji penampilan ku. Apa aku tidak menarik?~ batin Abhi dengan helaan nafas dalam dan membenarkan jas hitamnya.


"Cepatlah!" seru Zain yang sudah berjalan terlebih dulu.


"Buka matamu!" perintah Abhi menghiraukan seruan Zain.


Asfa membuka mata dan bangun dari tempat ter-nyaman, melangkahkan kaki dan berhenti tepat di depan Abhi.


Wajah tampan dengan iris mata biru, alis tebal melengkung indah, hidung mancung, bulu-bulu diwajah dengan kesan macho, sungguh Abhi memang lelaki dengan wajah memukau. Rambut klimis dengan style anak muda, jas hitam yang membalut tubuh kekar Abhi dan dasi rapi di leher.


"Ada apa?" tanya Asfa datar.


Bisakah menenggelamkan istrinya di air hangat? Gemas bukan kepalang. Tidak peduli seberapa datar ucapan Asfa. Nyatanya semua yang ada pada istri mungilnya adalah candu. Candu yang membuat dahaga mata Abhi terobati. "Ayo ikut bersamaku. Kita ke kantor bersama."


Asfa tersenyum tipis. "Pergilah."


Gleek...


Demi apa? Hanya senyuman tipis tapi membuat badai menerjang hati Abhi. Pasti ada yang salah, seharusnya bukan suami yang memiliki jiwa dan hati melting. Tapi seorang istri yang selalu membutuhkan perhatian dan di manja.


"Eh." ucap Abhi terkejut dengan tepukan di pundak.


"Kamu kenapa nak? Jangan melamun, itu klakson berbunyi dari tadi." tukas Bunda Aliya.


Wajah Abhi merona merah membuat bunda Aliya bingung. Sedangkan Abhi memilih melangkahkan kaki seribu, sebelum mendapatkan pertanyaan menjebak dari wanita yang melahirkannya itu.


Bertanya kemana perginya Asfa pun tak sempat. Apalagi mencari bayangan Asfa. Berbeda dengan Asfa, dimana gadis itu memilih mengambil pakaian ganti dan bergegas mempersiapkan diri.


Di sebuah ruangan meeting sudah tampak persiapan, kali ini minuman dan makanan yang tersaji berbeda dari biasanya. Abhi yang baru memasuki kawasan perusahaan ABC company mengerutkan alis, dengan lengkungan tak bersisa jarak.


Tok.. tok.. tok..


Zain menurunkan kaca jendela belakang, dimana Abhi duduk. Kepala keamanan yang melihat Abhi langsung memberikan hormat dan mempersilahkan mobil van hitam Zain, memasuki parkiran khusus para pimpinan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti asing dengan perusahaan ku sendiri." gumam Abhi dengan memijat kening yang terasa nyut-nyutan.


Keamanan sangatlah ketat, dengan kamera CCTV yang tersebar dimana-mana. Belum parkiran khusus yang masih baru. Zain hanya masa bodo meskipun melihat suami Asfa seperti orang bodoh.


"Silahkan turun," ucap Zain tanpa membukakan pintu.


Abhi menatap Zain dengan tajam, tapi Zain malah membalas Abhi dengan senyuman smirk.


Ini siapa boss? Dan siapa pelayan? Apa aku harus ralat permintaanku? Kenapa jadi serumit ini. ~ batin Abhi.


"Ku kira kamu pintar setelah menjadi presdir perusahaan sebesar ini! Ternyata tidak." sindir Zain setelah mengamati ekspresi wajah Abhi.


"Kamu.."


Tok.. tok.. tok..


Kaca mobil belakang terbuka kembali, wajah yang seperti dikenali Abhi. Wajah oriental dengan paras bule namun datar dan pakaian casual membukakan pintu mobil.


"Pergilah! Dari sini tanggungjawab ku."



(Babang Abhi comeback ~ ABF Company☝😉🤭)



(Zain saat menikmati pemandangan terindah 'Asfa' ☝🤭)


...~~~...


. Jangan timpuk othoor ya guy's 😉


.

__ADS_1


.


. 🤭othoor hari ini khilaf.. ✍️


__ADS_2