My Secret Life

My Secret Life
Bab 209: Abhi Cemburu - Kenapa?


__ADS_3

Ciiit!


Braak!


"Woy, gila ya? Bunuh diri jangan di tengah jalan, sono di rel kereta!" seru sopir pick up dengan sungut yang tak nampak.


Abhi menahan gerakan, membuat tubuh keduanya berhenti dengan posisi dirinya di atas. Tanpa peduli teriakan orang di seberang sana. Rasa haus selama beberapa bulan perlahan sirna, tatapan mata itu sangat dirindukan.


"....,"


"Bangun!"


Abhi tak bergeming dari posisinya saat ini. Hingga satu tarikan, membuat pria itu tertarik dan melepaskan pelukannya dari wanita bermata biru.


"Ayo, bangun, periku!" Vans mengulurkan tangannya, dan disambut Asfa dengan hangat.


Asfa berdiri di bantu Vans, membuat Abhi menahan rasa sesak di dada. Kemudian dirinya ikut berdiri dengan mengibaskan debu yang menempel di kemejanya itu.


Ayolah, Bhi. Kenapa hatimu panas seperti lahar gunung merapi? Ingat dia itu mantan istri sekaligus pembunuh bunda. Jangan biarkan dia mempengaruhi dirimu lagi, Bhi! ~ batin Abhi dengan tatapan sinis ke arah Vans, dimana pria itu tengah memeriksakan keadaan Asfa dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ekhem! Ini tempat umum....,"

__ADS_1


Vans melirik Abhi sekilas, "Honey, kita pergi sekarang! Dokter sudah menunggu."


Asfa mengangguk seraya melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Memang benar pertemuan bersama para dokter spesialis akan diadakan satu jam lagi.


Tangan keduanya masih saja saling menggenggam, membuat Abhi berjalan melewati keduanya tanpa permisi. Langkah pria itu seperti remaja tengah cemburu berat. Vans berniat menegur, tapi ditahan Asfa dengan gelengan kepala.


"Sebaiknya, kamu tunggu di bangku itu!" Vans menunjuk bangku di bawah pohon cemara. "Aku akan kembali mengambil mobil dulu....,"


"Pergilah, Ka. Jangan buat keributan apapun! Anggap insiden barusan tidak pernah terjadi." ujar Asfa memberikan peringatan.


Vans mengangguk seraya tangannya mengusap kepala Asfa. "Siap, periku."


Sepintas ingatan percakapan antara Abhi dan seorang wanita yang baru pertama kalinya suara itu terdengar, menyusup tanpa permisi memenuhi kepalanya.


Siapa dia? Benarkah semua yang ku dengar tentang kehamilan wanita itu? Kenapa seperti ini? Andaikan kamu percaya aku sedikit saja saat itu. Mungkin aku akan memperjuangkan hak kami. Namun, tatapan mata kebencian yang terpancar hingga hari ini. Sungguh aku tak bisa mengatakan, jika kamu telah menjadi seorang ayah, Abhi. ~batin Asfa menangkupkan kedua tangannya ke wajah.


Tanpa Asfa sadari. Dari arah berlawanan di balik sebuah pohon, Abhi menatapnya tanpa berkedip. Cairan bening mengalir tanpa permisi, membuat pria itu memukuli dadanya sendiri.


"Sakit! Aku hanya bisa menatapmu, tanpa menyentuhmu. Hukuman macam apa, ini? Aku ingin berlari menghampirimu, tapi kakiku membatu. Kenapa hatiku tak menerima pengkhianatan mu? Kenapa?!" gumam Abhi lalu memejamkan matanya menahan rasa sesak yang semakin menusuk.


Lima menit kemudian,

__ADS_1


Abhi membuka matanya, tapi di depan sana tidak ada lagi Asfa. Langkahnya keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Dimana Asfa?" gumam Abhi mencari kesana kemari dengan tatapan mata penyesalan.


Pluk!


"Asfa....," cetus Abhi berbalik dengan suaranya yang bahagia, tatapan matanya bertemu dengan mata hitam yang menyulut kobaran api.


"Apa kamu tidak sadar, BHI?! Nama yang kamu sebut itu adalah penyebab keluargamu hancur. Aku tidak habis pikir, bagaimana kamu masih saja mencintai wanita pembawa petaka itu....,"


"Shut up!" Seru Abhi menatap tajam wanita di depannya.


"Bhi! Kamu membentakku? Aku hamil anakmu, dan ini perlakuanmu! Emmppt."


Abhi membekap bibir wanita itu tanpa aba-aba.


"Sekali lagi kamu menghina Asfa. Akan ku pastikan hidupmu masuk ke dalam neraka." ancam Abhi dengan tatapan serius.


Gleek!


"Tidak seharusnya, kamu memperlakukan calon ibu dari anakmu seperti itu. Jangan bertindak gegabah! Sekali kehilangan, belum pasti akan kembali."

__ADS_1


__ADS_2