
Cup..
Tidak ada perlawanan, membuat Alvaro semakin memperdalam kecupan pertamanya. Seperti anak penurut saja, Rania hanya mengikuti gerakan sesapan dari Alvaro. Semakin lama, keduanya tenggelam dalam permainan hasrat.
"Apa kamu siap?" tanya Alvaro dengan suara serak, menahan sesuatu yang mulai menguasai insting memangsa didalam jiwa lelakinya.
Wajah Rania terlihat gugup. Membuat Alvaro gemas dan tak tega. "Aku tidak akan memaksa, ganti pakaianmu my rabbit."
"Apa?" tanya Rania mengerjapkan mata.
Alvaro tersenyum dan membisikkan sesuatu, membuat Rania meremang. "My rabbit.(Kelinci Ku.)"
Panggilan yang terlihat lucu dan manis. Ada bunga bermekaran di hati Rania. Tapi tangan kekar Alvaro mulai terasa renggang. "Aku siap."
"Apa kamu..."
Cup....
Istriku ternyata kucing bukan kelinci. Aku suka ini. ~ batin Alvaro menikmati kecupan pertama dari seorang wanita yang kini halal untuk di sentuh.
Tanpa melihat waktu, pemanasan dua sejoli halal itu bermula dari sapuan lembut bibir nan menggoda. Sesapan demi sesapan menambahkan gelora di dalam jiwa, penjelajahan Alvaro baru dimulai.
Menyusuri jalanan putih tak bernoda, dua bukit kembar menantangnya untuk didaki. Kecupan dengan usapan nakal menghasilkan suara lenguhan manja dari bibir Rania. Tidak ada jeda dalam perjalanan kali ini, membiarkan dua raga bersatu tanpa halangan. Hingga jemari Alvaro berhenti di titik tujuan utama perjalanannya.
__ADS_1
"eeuumm..."
Gua lembab merah berteriak memanggilnya, dengan penuh perasaan jemari Alvaro mulai mengoyak pintu gua dan membungkam bibir manis Rania. Seluruh raga berolahraga tanpa henti, hingga Rania mendapatkan kenikmatan untuk pertama kalinya. "Ini akan sakit. Pegang punggungku, dan silahkan cakar sesukamu my rabbit."
Rania hanya mengangguk dan membiarkan Alvaro memulai mendirikan tahta di lembah gua miliknya. Seakan ingin memberikan ketenangan. Alvaro memulai dengan sesapan lembut, membiarkan Rania larut dengan rasa manis dari bibirnya. Hingga satu hentakan kuat mengalirkan kehangatan melewati pusaka Alvaro.
"Aaaarrrgghh..Eeuumm.."
"Thank you so much my rabbit. You are mine.(Terimakasih banyak kelinci ku. Kamu milikku.)" bisik Alvaro membiarkan miliknya beradaptasi dengan rumah tempatnya berpulang.
Rania hanya meneteskan air mata bahagia, memberikan mahkota yang selama ini di jaga untuk pasangan halalnya. Dengan rasa sakit yang tergantikan rasa bangga di hatinya, mata Alvaro sangatlah menghipnotis dirinya. Mata teduh dengan kasih sayang nyata. "Maaf aku mencakar punggungmu terlalu kuat."
"Its ok. Sudah siap?" tanya Alvaro dan Rania hanya mengangguk dengan pipi merona.
Perjalanan dimulai dengan jejak merah disetiap langkah jemari dan sapuan bibir Alvaro. Dua bukit kembar pun tak terlewatkan, mendapatkan hadiah begitu banyak warna merah. Perlahan gua Rania merasakan sensasi menggila, rasanya seperti saat dirinya menikmati lolipop dengan penuh cinta. Semakin lama hentakan semakin cepat, membuat kamar kedap suara itu dipenuhi suara erotis kedua sejoli dalam penyatuan raga dan rasa.
Bruuug...
Tubuh Alvaro ambruk diatas tubuh Rania. Rania hanya membiarkan Alvaro melakukan semuanya, dan dirinya lebih memilih menjadi boneka permainan suaminya. "Boleh aku tanya?"
Alvaro menggeser tubuhnya, memandang lekat mata Rania setelah pergulatan panas yang meredam amarahnya. Diusapnya pipi Rania dengan lembut. "Tanyakan saja apa yang kamu inginkan. Mulai sekarang, tidak ada kebohongan diantara kita. Janji?"
Cairan bening merosot begitu saja, hati Rania merasa terharu. Kini keputusannya menikah dengan Alvaro tidak perlu disesali. Dengan cepat Alvaro menghapus air mata Rania. " Apa sesakit itu? Maaf tidak seharusnya..."
__ADS_1
Cup...
Lagi dan lagi Rania membungkam Alvaro dengan bibir manisnya. Rania tidak sadar sikap spontannya itu membangkitakan sesuatu yang baru saja tertidur. Tanpa menunda lagi, Alvaro memulai pendakian panjangnya dari pintu selamat datang. Tubuh yang menggeliat dengan suara ******* nan erotis semakin membakar hasrat Alvaro.
Meninggalkan pasangan yang berlabuh di pulau cinta. Abhi masih mengemudikan mobil classic untuk mengejar laju kuda poni dengan surai putih nan panjang. Yah Asfa memilih berkuda untuk melepaskan amarahnya. Hampir satu jam lebih Abhi membiarkan Asfa menelusuri hutan yang terawat di wilayah terlarang.
Ada apa denganmu? Kemarahan mu seperti lelehan lava tanpa panas. Tak bisakah kamu berbagi suka dukamu padaku? Aku ingin menjadi tempatmu bersandar. ~ batin Abhi menambah kecepatan laju mobilnya.
...~~~~~~...
.
.
. Hay readers, othoor bakalan kasih special part yang pasti mendebarkan 😉 dan juga membuat kalian masuk kedalam novel 🤠(Semoga ya, kalau kalian senang dan merasa masuk ke novel, othoor kesampaian feeling nya 👌)
.
.
. Dua hari othoor akan up double dan alasan othoor up double akan othoor kasih tahu tepat tanggal 18 Mei okay 😉
.
__ADS_1
.
. by Asma 😘