
Calm down! Rose tanggung jawabku. Kamu fokus dengan pekerjaan mu, dan pastikan pulang tanpa lecet sedikitpun." sela Vans menenangkan Asfa, membuat Justin menyadari betapa cinta pria itu jauh lebih besar dari mantan suami queen sendiri.
Semoga saja queen mau membuka hatinya dan melihat usaha Vans demi melindungi kebahagiaannya. Ameen. ~batin Justin mengaminkan doa harapannya.
"Justin! Ayo!" panggil Asfa dengan suara tegas, membuat asistennya itu terperangah.
Punggung Queen sudah menghilang di balik pintu. Justin berjalan tanpa pamit dengan Vans yang tengah menghela nafas panjang.
"Kupu-kupu akan bahagia ketika terbang bebas menjelajahi dunia tanpa kekangan. Seperti itulah Queen Asfa Luxifef. Ingin rasanya aku selalu menjadi pelindungnya, tapi apa dayaku? Aku hanya bisa menuruti keras kepala yang didasari kebenaran nyata." gumam Vans.
Kegelisahan di hati Vans, tak membuat Asfa berhenti dengan tujuannya untuk melakukan penyerangan. Gadis bermata biru yang berdiri di depan pintu villa dengan kedua tangannya bersedekap itu, tengah menatap pintu gerbang tinggi di depan sana.
Hingga suara pintu terbuka lalu tertutup dengan langkah kaki menghampirinya berhenti tepat di sampingnya. Aroma parfum yang familiar menyebarkan kesegaran seperti air mengalir.
"Apa papa dan kakak tahu soal ini?" tanya Asfa seraya melepaskan kedua tangannya, lalu memasukkannya ke saku jacket.
Justin memilih maju satu langkah, "Sebaiknya kita bicarakan dalam perjalanan! Bagaimana?"
"Okay." jawab Asfa mempersilahkan Justin berjalan terlebih dahulu.
Keduanya berjalan menuruni lima anak tangga beriringan menuju sebuah mobil sport hitam yang terparkir menghadap gerbang. Tanpa menunggu perintah, Justin membukakan pintu mobil agar Queen masuk terlebih dulu. Setelah itu, barulah dirinya memutari depan mobil dan masuk ke kursi kemudi.
__ADS_1
Tatapan mata tetap fokus ke depan. Mesin mobil dinyalakan. Perlahan mobil melaju meninggalkan halaman Villa. Gerbang terbuka secara otomatis, membuat Justin melenggang pergi begitu saja.
Kawasan lahan kosong dengan deretan pepohonan hijau tinggi dan rindang menjadi teman perjalanan. Namun, Asfa masih diam dan membiarkan asistennya fokus menyetir.
Tiga puluh menit kemudian, Justin memasuki wilayah persawahan. Dimana sejauh mata memandang hanya ada tanaman padi yang menunduk karena menguning. Musim panen sudah tiba, di antara warna kuning itu terlihat orang-orang yang sibuk memanen dengan canda dan tawa.
"Queen?" panggil Justin, membuat Asfa membuka matanya.
"Apa yang akan Anda lakukan pada musuh?" tanya Justin yang sebenarnya memang belum tahu rencana penyerangan kali ini.
Asfa membuka resleting jacket sedikit seraya mengambil sesuatu dari balik jacket nya itu, dan menunjukkan pada pria di sampingnya. Justin menengok apa yang queen nya tunjukkan. Satu benda yang disebut flashdisk ada dalam genggaman Asfa.
"Flashdisk? Untuk apa, Queen?" tanya Justin bingung.
"Penyerangan akan terjadi, jika kesepakatan tidak tercapai." Asfa memasukkan flashdisk ke tempatnya, lalu membuka laptop dan jemari mulusnya sibuk berselancar di atas papan ketik.
Justin membagi konsentrasi antara jalanan dan sesekali melirik apa yang dilakukan oleh queennya. Hanya membutuhkan waktu lima menit. Asfa memutar laptop ke arah Justin, membuat asistennya itu menatap laptop dengan tatapan kagum serta ketidakpercayaan.
"Wow, genius!" Justin terpukau dengan hasil peretasan sang Queen, dimana data para musuh langsung terjaring dan kini sudah di install masuk ke dalam flashdisk mini.
Asfa mengambil flashdisk, lalu mengembalikan laptopnya ke tempat semula. "Atur semua pasukan dan kepung semua sisi! Untuk kerjasama hanya kita berdua yang masuk bertemu dengan pemimpin para pemberontak. Apa kamu siap, Justin?"
__ADS_1
"Aku selalu siap. Bersamamu semuanya akan baik, dan tidak sedikitpun hatiku ragu akan dirimu." jawab Justin mantap.
Senyuman tipis terbit di balik topeng hitamnya. Tatapan matanya tertuju pada flashdisk di genggaman tangan.
Siapapun kalian, bersiaplah! Setiap tatapan buruk akan ku perhitungkan tanpa terkecuali.~batin Asfa mengeluarkan aura intimidasi yang menyebar di dalam mobil, membuat Justin tersenyum penuh arti.
Sementara di tempat lain. Suara berisik dering telepon, tak membuat sosok di balik selimut tebal terbangun. Dunia mimpi masih memeluknya tanpa berniat melepaskan sang penikmat surga dunia.
Triiing!
Triiing!
Triiing!
Berulang kali getaran ponsel dengan nada dering yang memenuhi ruangan seluar lima kali empat meter itu, tetap saja sang penghuni kamar sibuk menyelam dalam dunia mimpi. Hingga ponsel yang tergeletak di atas nakas terjatuh ke bawah.
Baak!
"Eeeuuggghh, berisik sekali."
Selimut disibakkan, lalu langkah kaki kekar berambut turun dari ranjang. Tangannya mengucek mata seraya memperhatikan sekitarnya. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.
__ADS_1
"Masih terlalu awal aku bangun, kenapa lagi ponselku jatuh di lantai." gumam sang penghuni kamar seraya memungut ponselnya, lalu menekan tombol power.
Ponsel masih menyala, tapi banyak nya panggilan mengubah ekspresi wajah sang penghuni kamar menjadi geram. Satu geser, dan dial call dilakukannya. Nada dering sambung langsung tergantikan dengan suara sapaan dari seberang. "Apa kalian tidak punya pekerjaan?"