
Aku bersyukur dia memiliki keluarga. Jika tidak? Bahkan kamu tidak menengok kebelakang untuk memastikan dia baik atau tidak. Suami macam apa kamu? Dia siap menjadi orang biasa demi keselamatan mu, tapi kamu? Sungguh, kamu orang terbodoh yang pernah ku kenal."
Abhi semakin menutup kedua telinganya. Suara suster seakan tak gentar menyusup menjalar menampar relung hatinya. Bagaikan sebuah flashback kilat. Kenangan awal pernikahan hingga tragedi cafe HighStar bergulir seperti mesin waktu tak berhati. Suara itu semakin memudar berganti dengan wajah manis nan dingin tersenyum ke arahnya.
"Asfa, maafkan aku....,"
Braak!
"Hey!"
Suster bergegas menghampiri Abhi yang kembali tak sadarkan diri. Disisi lain dari arah luar terdengar percakapan dari suara yang tak asing. Wajahnya panik mencari tempat untuk menyembunyikan pria yang terbaring tak berdaya di lantai. Hingga tatapan mata mendapatkan pencerahan.
Sedangkan dari arah luar, beberapa langkah berhenti karena perdebatan ringan.
"Baiklah, Aku siap. Kalian pergilah!"
"Permisi, dok." pamit gerombolan dokter seraya membungkukkan badan sebelum pergi dari depan ruangan VVIP Room.
__ADS_1
"Varo, apa kamu siap?" tanya Vans dengan tatapan penuh arti.
Wajah yang biasanya datar dan dingin berubah menjadi wajah sendu tanpa semangat hidup. Semua karena keadaan Asfa yang memburuk. Tepukan ringan di pundak, membuat Varo menghela nafas dengan anggukan kecil.
"Apapun akan ku lakukan demi kesembuhan my doll. Pastikan saja hanya kita yang tahu tentang ini! Ayo masuk," ajak Varo sambil memutar knop pintu lalu mendorong pintu.
Begitu pintu terbuka. Tatapan matanya langsung terpatri pada suster yang duduk di samping brankar dengan posisi merebahkan kepala di atas tangannya sendiri.
"Sebaiknya minta Rania istirahat di ruangan ku saja," Vans memberikan saran pada Varo yang sudah mendekati sang istri.
Usapan kepala yang lembut, membuat kelopak mata wanita itu terbuka. Kerjapan mata perlahan menyambut tatapan hangat suaminya. "Hubby, maaf....,"
Rania tidak bisa membantah ketika suaminya sudah bicara dengan nada lembut. Namun, lirikan mata tertuju pada kamar mandi. Vans yang berdiri agak jauh dari pasutri itu mengikuti arah mata Rania.
Kegelisahan yang tergambar dengan remasan ujung seragam susternya, membuat Vans menaikkan satu alisnya. Namun, melihat bibir Rania yang tersenyum dengan anggukan kepala sebagai persetujuan. Justru rasa ragu di hatinya semakin besar.
Apa yang kamu sembunyikan disana? Aku harus tahu, tapi melihat diam mu. Sudah pasti kamu tidak mau Varo mengetahui perbuatanmu.~batin Vans dengan satu ide yang meluncur begitu saja.
__ADS_1
"Varo, antar istrimu dulu. Jika wajahnya dan seragam saja masih anggota suster rumah sakit tentunya tidak diizinkan masuk semudah itu ke ruangan ku." saran Vans membuat Varo berbalik ke arahnya dengan tatapan selidik.
Vans tahu jika kakak peri kecilnya itu memiliki pertanyaan. "Apa kamu lupa, Rania menyamar menjadi suster biasa? Meskipun pangkatnya cukup menjanjikan. Tetapi ruangan ku adalah ruangan pemilik rumah sakit....,"
"Hubby, sudahlah. Dokter Vans benar. Disini aku hanyalah suster biasa," sela Rania yang melihat Varo hendak memotong penjelasan Vans.
"Baiklah, Vans siapkan semuanya!" Varo menggandeng tangan Rania dengan tatapan mata lembut, membuat wanita itu menundukkan tatapannya.
Perasaan bersalah menghinggapi hatinya, tapi tidak mungkin mengatakan apa yang dirinya lakukan. Terlebih disaat situasi semakin menegang. Tangan yang tergenggam dengan kasih sayang seakan mencambuk lorong jiwanya.
Maafkan aku, Hubby. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu, tapi semua ku lakukan demi Queen.~batin Rania berjalan mengikuti langkah kaki suaminya meninggalkan VVIP Room.
Ceklek!
Vans bergegas berjalan menghampiri kamar mandi. Ntah kenapa perasaannya sangat gelisah. Bahkan rasanya pintu itu nampak suram. Padahal sejak awal semua terlihat baik. Knop pintu di putar perlahan, lalu dorongan ringan memperlihatkan isi kamar mandi sedikit demi sedikit.
Bukan hanya sesak di dadanya. Tatapan mata tak percaya dengan kepalan tangan di knop pintu, membuat wajah pria itu tegang serta suara gemeretak gigi menahan amarah terdengar. Belum sempat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara pintu kembali terdengar, membuat tangannya langsung menarik pintu agar tertutup kembali.
__ADS_1
"Cepat sekali? Ruangan ku cukup jauh dari ruangan ini....,"