
Seorang Justin tidak mungkin meninggalkan tuan besar, jika bukan karena satu alasan dirinya berada di mafia Phoenix. Benar 'kan?" ucap Rania.
"Benar, dan alasan itu hanyalah Queen. Apa yang Justin katakan?" tanya wanita paruh baya menatap Rania.
Rania mendengus sebal mengingat bagaimana Justin membungkam dirinya dengan panggilan pengawasan. Bungkamnya menantu pertama. Jelas pasti ada yang tidak beres, tapi apa?
"Rania!" panggil wanita paruh baya seraya tangannya memegang kedua bahu menantu pertama.
"Ampun, bunda Anya mengejutkan Rania." cetus Rania mengusap dadanya.
Bunda Anya menatap Rania dengan serius, membuat menantu pertama Tuan Luxifer bergidik ngeri. "Justin mengancamku agar berdiam di mansion. Bahkan pria itu secara khusus menelpon seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi ku."
Jika Justin bertindak sejauh ini, maka sudah pasti ada hal besar yang tengah ditangani. Tidak mungkin pria satu itu bertindak gegabah. Tetapi apa? ~batin bunda Anya berpikir keras, hingga satu ingatan tentang keadaan di perbatasan dengan para pemberontakan musuh melintas begitu saja dalam otaknya.
Bunda Anya meninggalkan Rania tanpa mengatakan apapun, dan itu sukses membuat Rania tercengang. Wajah serius dengan langkah kaki cepat berjalan meninggalkan kolam renang.
__ADS_1
"Bundaaa!" seru Rania, tapi tidak di sahut oleh bunda Anya yang menghilang di balik pintu kaca bertirai hitam.
"Huft! Sabar Rania, ingat saja duniamu dipenuhi semua jenis makhluk tak berakhlak." Rania membungkam bibirnya, seraya melirik kesana kemari. "Syukurlah hanya ada aku."
Kekesalan yang dirasakan Rania, berbanding terbalik dengan wajah murka seorang pria yang berdiri di depan wajah imut wanitanya. Senyuman manis dengan tangan memainkan rubik terus saja menatap pria si pemarah.
"Come on, Ka....,"
"Shut up!" ujar pria si pemarah dengan jari di depan bibirnya sendiri yang terlihat tegang dan siap memberikan ceramah panjang kali lebar. "Apa kamu gila, hah?! Di saat kesehatanmu diambang maut, tapi kamu memikirkan penyerangan. Are you listening me, Queen Asfa Luxifer?! Oh my god, bagaimana Tuhan menciptakan wanita seperti mu."
"Tuhan menciptakan aku sama seperti menciptakan kakak, kurasa seperti itu." jawab Asfa santai.
"Biarkan aku yang menyelesaikan masalah perbatasan, dan kamu istirahat!" titah Vans mengakhiri emosinya demi ketenangan keduanya.
Asfa meletakkan rubrik di atas meja, lalu berdiri berhadapan dengan Vans. Tatapan tenang, tajam dan jelas menekankan ketegasan yang nyata. Tatapan itu mengatakan, aku tidak ingin dibantah apalagi dicegah. Keputusan ku adalah mutlak.
__ADS_1
"Aku tidak takut dengan tatapan matamu....,"
Asfa membungkam bibir Vans dengan tangan kanannya. Kini tatapannya terpatri pada mata cemas pria si pemarah. "Seorang putri bisa melakukan apapun untuk ayah mereka. Seorang ibu bisa mengorbankan apapun untuk anak mereka, tapi seorang pemimpin harus tahu tanggung jawabnya! Ini bukan tentang kesehatan ku, atau tentang tahta mafia Phoenix. Saat ini semua mata memberikan tatapan mata jahat, merendahkan martabat keluarga ku, dan aku tidak akan pernah biarkan seekor nyamuk menghisap darah kami dan menyebarkan penyakit."
"Kita berdua tahu tentang kesehatanku, tapi tidak dengan musuh dan keluarga ku. Cukup percaya padaku, Ka! Hanya itu yang kuharapkan. Please jangan cegah aku menjalankan tanggung jawabku. Kepercayaan mereka tidak boleh goyah, dan semua musuh yang menyentuh duniaku harus diberikan pelajaran dari seorang Queen. Mereka harus tahu, jika Queen tidak pernah meninggalkan tahtanya." jelas Asfa, membuat Vans memejamkan matanya.
Hening....
Asfa menarik tangannya, lalu menggenggam kedua tangan Vans. "Ka, aku tahu ini sulit, tapi apakah kakak tidak percaya kemampuan ku?"
Vans membuka matanya, tatapannya kembali beradu dengan mata biru Asfa. "Jika aku tidak percaya padaku. Pasti aku meninggalkanmu sama seperti pria itu! Aku disini, dan akan selalu di sisimu. Kenapa? Apakah aku harus menjelaskan semuanya, pada seorang Queen yang notabene sangat paham dan bisa membaca ekspresi wajah semua orang?!"
"Izinkan aku melakukan penyerangan." ucap Asfa dengan kedipan mata agar Vans setuju.
Vans menggigit bibir bawahnya. Didalam hati dan pikiran menolak mentah-mentah permintaan Asfa, tapi dirinya juga sadar. Jika masalah perbatasan hanya bisa diatasi oleh perinya.
__ADS_1
"Okay, tapi....,"
Asfa tahu apa yang akan Vans katakan, tanpa menunggu ucapan pria si pemarah selesai. Akan lebih baik jika langsung berbicara pada pointnya saja. "Tell syaratnya!"