
Tangannya siap mendial beberapa nomor yang sangat hapal diluar kepalanya. Namun, percakapan dari arah belakangnya dengan pantulan bayangan di jendela depan sana, membuatnya membeku di tempat. Ntah kenapa percakapan di belakangnya sangatlah menyita perhatian dan detak jantung terasa berdebar seribu kali lipat.
Ada apa denganku? Kenapa aku seperti tertarik dengan masalahnya? Abhi, ingatlah kalian tidak ada hubungan lagi.~batin Abhi dan mengambil buku di depannya untuk menutupi wajahnya sendiri.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya suster penjaga resepsionis bingung dengan tingkah Abhi.
Abhi kembali meletakkan buku dan melepaskan telepon rumah sakit. "Saya akan telepon nanti, permisi."
Abhi berjalan dengan hati-hati mengikuti dua orang di depan sana. Selama beberapa saat menyusuri lorong rumah sakit hingga dua orang itu memasuki sebuah ruangan bertuliskan dokter spesialis jantung.
"Sus, boleh saya tanya?" Abhi menghentikan seorang suster yang lewat di sampingnya.
Suster itu berhenti, "Iya, Tuan mau tanya apa?"
"Ruangan itu," Abhi menunjuk ke arah pintu di depannya. "Siapa nama dokternya?"
"Dokter Yuna, beliau seorang dokter jantung terbaik di rumah sakit kami. Apa Anda ingin melakukan janji temu? Jika iya, silahkan ke resepsionis dan tanyakan jadwal terlebih dahulu." jelas si suster dengan ramah, membuat Abhi mengangguk paham.
"Terima kasih, Sus. Saya permisi." pamit Abhi, dan memilih meninggalkan tempatnya berdiri.
Suster membiarkan Abhi pergi tanpa rasa curiga. Sedangkan di dalam ruangan dokter Yuna. Semua orang tengah mengalami ketegangan, kecuali satu wajah yang masih saja tenang tanpa masalah hidup.
"Are you okay?" tanya pria dengan rambut terikat.
"Always okay, come on kenapa kalian seperti es batu?" balas wanita di atas brankar tanpa menghilangkan senyuman manisnya itu.
".....,"
"Stop! Bukan waktunya mengiba apalagi mengeluh, Ka. Hidup tanpa perjuangan, apa itu disebut kehidupan? Ayolah, jangan membuat aku seperti adik terlemah di dunia ini." sela nya dengan mengusap tangan sang kakak yang menatapnya seperti siap menerkam.
__ADS_1
Satu tangan terasa memegang bahu pria itu, isyarat jika tidak diperlukan perdebatan lebih jauh lagi.
"Okay, ayo kita lakukan." putus pria itu dengan berat hati.
Greeb!
"Kakak yang terbaik." sanjung wanita itu dengan memeluk tubuh kakaknya.
Usapan lembut di kepala semakin membuatnya merasakan kenyamanan. Momen itu hanya menjadi pemandangan terindah bagi makhluk lain yang menyaksikan kasih sayang kakak beradik.
"Queen, Baby juga harus melakukan pemeriksaan!" tukas Varo setelah melepaskan pelukan adiknya.
Asfa tersenyum, "Ka, Aku disini. Semua akan baik, percayalah."
"Jangan khawatir, Queen tidak sendiri. Kita ada bersamanya bukan?" sambung Vans, membuat Varo menarik nafas dalam lalu menghempaskan nya secara perlahan.
Ceklek!
Laporan Rania mengubah suasana sedikit mencair, tapi tidak dengan Asfa. Wanita satu itu justru menaikkan satu alisnya dan itu disadari Vans.
"Dokter Yuna, apa semua alat medis sudah datang?" tanya Vans mencoba mengalihkan perhatian Asfa.
Dokter Yuna mengambil satu map di atas mejanya, lalu menyerahkannya ke Vans. "Ini, Tuan Muda. Semua akan sampai sore ini karena tertahan di bandara."
"Apa itu semua alat operasi nanti?" tanya Varo seraya melambaikan tangan pada istrinya agar masuk.
Vans memeriksa laporan pengiriman barang pesanannya. "Benar, tapi jika barang sampai nanti sore. Operasi hanya bisa dilakukan besok malam....,"
"Lakukan seperti itu saja? Bisa kalian semua keluar? Kecuali kamu Rania!" titah Asfa to the poin.
__ADS_1
Glek!
Varo melirik ke arah Vans, dimana pria itu menggelengkan kepala pasrah. Rania menatap Asfa tanpa berkedip, membuat yang ditatap tersenyum penuh arti.
"Doll!" panggil Varo lembut.
Asfa mengangkat tangan kanannya tanda tidak ada yang bisa menghentikan dirinya. "Keluar!"
Vans menepuk bahu Varo, dan memberikan kode mata pada dokter Yuna untuk keluar mengikuti perintah Asfa.
"Aku akan stay disini." Varo mundur dan berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
Puk!
Satu tepukan di kening dilakukan Vans.
Kakak dan adik, sama saja keras kepala. Sekali memberikan ultimatum, tidak ada yang mau mengalah apalagi luntur.~batin Vans.
Rania bingung harus memilih yang mana, keduanya sangatlah penting dan tidak mungkin dipilih. Wajah ambigu Rania tertangkap basah oleh Vans, membuat pria itu memiliki ide cemerlang.
Tanpa permisi Vans berjalan menghampiri Rania, lalu menggenggam lengan istri Varo. "Kita keluar saja. Biarkan kakak beradik menyelesaikan masalah bersama-sama. Ayo!"
Rania terpaksa mengikuti langkah Vans, dengan iringan tatapan mata yang tajam dari suaminya. Namun, ucapan Vans ada benarnya juga. Kedua kakak beradik itu memerlukan waktu untuk melakukan percakapan dari hati ke hati.
Ceklek!
"Susul saja, Ka." ucap Asfa menatap Varo dengan tatapan menenggelamkan.
Varo melangkah maju, dan berhenti di depan Asfa. Tangannya terangkat dan menangkup wajah mungil dengan mata biru yang selalu menjadi kelemahan sekaligus kekuatan di dalam hidupnya itu.
__ADS_1
"What do you want, my doll?" tanya Varo dengan tatapan serius. (Apa yang kamu inginkan, bonekaku?)