My Secret Life

My Secret Life
Bab 236: HUJAN


__ADS_3

"Are you okay?" tanya Asfa dengan tangan menyisipkan helaian rambut yang menutupi pandangannya ke belakang telinga.


Perlahan kedua lengan pria dewasa terbuka, sesaat dunia seakan berhenti terpatri pada tatapan dalam yang terkejut di antara kedua insan itu. Bibir terkunci rapat, senyuman terasingkan dengan mata memancarkan kerinduan yang teramat dalam. Angin yang berhembus membawa derasnya air hujan yang tak ingin merestui pertemuan mereka.


"Abhi?" gumam Asfa lirih, pria yang kini berdiri di depannya dengan tatapan luka.


Tanpa diduga, pertemuan itu membuat Abhi langsung menghamburkan diri memeluk tubuh mungil Asfa. Pelukan di dalam guyuran hujan deras. Alam menyertai duka di dalam hati pria itu yang dipenuhi rasa penyesalan. Bagaimana cara dia meminta maaf? Apakah wanita yang dirinya asingkan mau memberikan pengampunan? Satu katapun tak mampu dikeluarkan. Hanya lelehan air mata yang menyatu bersama butiran hujan.


Duka yang tersalurkan, membuat Asfa tak tega. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Abhi. Membiarkan pria itu mencurahkan seluruh rasa yang selama berbulan-bulan terpendam. Sebagai sesama manusia, tidak ada salahnya meringankan beban hati orang lain. Pelukan singkat terasa begitu lama, hingga satu tarikan tangan memisahkan keduanya.


"Don't touch the Queen!"


Tubuh Abhi terhuyung akibat terdorong ke belakang, sedangkan tubuh Asfa langsung berpindah ke pelukan Vans. Dimana pria itu rela keluar dari dalam mobil hanya untuk mengakhiri pemandangan yang menyakiti mata. Hujan semakin deras, tapi tak membuat emosi mereda.

__ADS_1


"Ka, kita pergi saja. Ayo!" Asfa menarik lengan kanan Vans, sebelum sesuatu yang buruk terjadi.


Firasat yang buruk tiba-tiba saja menyergap hatinya, dan saat ini bukan waktunya untuk melakukan perdebatan. Baru saja semua membaik, tidak mungkin membuat masalah meskipun masalah itu sudah ada sejak lama. Tatapan mata memelas Asfa, membuat Vans mengalah dan mengangguk setuju untuk kembali ke mobil.


Baru saja tubuh keduanya akan bergerak, tiba-tiba Abhi menjatuhkan diri dengan bersimpuh. Tatapan mata pria itu tertuju pada wanita yang kini tak mau menatapnya meskipun sesaat. "Asfa maafkan, Aku."


Suara berat dengan sayatan rindu dan luka. Sungguh menggetarkan hati Asfa, hanya helaan nafas bersama pejaman mata. Rasa yang Abhi nikmati, rasa itu juga melukai hatinya. Ia melepaskan tangan dari lengan Vans, lalu membuka kelopak mata dengan sisa rasa di dalam hati. "Ka, pergilah! Aku akan menyusul."


Tatapan mata tajam menusuk dari Vans tak diindahkan Asfa. Wanita itu justru berjalan menghampiri Abhi, dan berhenti dengan jarak satu meter. Melihat apa yang dilakukan Queen, membuat sang pelindung memundurkan langkah kakinya. Tidak mungkin memaksa kehendak ketika peri Kecilnya telah mengambil keputusan.


"Bangun!" ucap Asfa tegas.


"Maafkan, Aku....,"

__ADS_1


"Bangun!" ucap Asfa sekali lagi jauh lebih tegas, tidak peduli rasa sesak di dadanya. Tetap saja tidak ada kelembutan di balik perintahnya, membuat Abhi menurut tanpa bantahan.


Pria itu berusaha berdiri dengan semua badai yang menyelimuti hati dan pikiran. Asfa melihat bagaimana Abhi tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Hingga secara spontan tangannya menahan tubuh sang mantan suami agar tidak ambruk. Tatapan mata kembali terpatri, membuat kedua insan itu saling menenggelamkan diri dalam rasa dan kenangan.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Asfa mencoba memancing isi hati Abhi.


"Semuanya berakhir. Hubungan, kepercayaan, cinta, dan emosi." Abhi melepaskan tangan Asfa, lalu menunjuk ke dadanya sendiri. "Disini, tidak ada yang tersisa. Apa salahku? Apa karena aku tidak mempercayai istriku? Apa karena aku tidak pantas bahagia? Katakan! Apa yang kulakukan? Hingga semua berpaling dariku. Aku kehilangan semuanya. Bunda, kamu, papa, dan semua yang aku sayangi."


"Kenapa? Aku mohon jangan diam saja. Katakan apa kekuranganku? Kenapa papa mempermainkan putranya sendiri? Kenapa bunda yang harus pergi? Kenapa aku meragukanmu? Kenapa?" Abhi memberikan begitu banyak pertanyaan dengan rasa frustasi, membuat Asfa hanya diam mendengarkan tanpa satu kata sebagai jawaban.


"Maafkan, Aku. Kamu boleh menamparku, atau memberikan hukuman apapun. Ku mohon, maafkan aku." Abhi menatap Asfa dengan sorot mata penyesalan begitu dalam, membuat wanita itu semakin membeku. "Kenapa diam?! Apa aku harus tersambar petir dulu untuk mendapatkan maafmu?"


Ctaaaar!

__ADS_1


Plaaak!


__ADS_2