My Secret Life

My Secret Life
Bab 84: Darah


__ADS_3

"One minute, Burn your company or you lost everything." perintah Asfa dengan menambah kan todongan senjata di jantung pria klimis.


"What!? " seru sepontan pria klimis dan segera menggeleng plan tanpa menolak.


"Your CHOOSE! " ucap Asfa menadahkan tangan nya ke tuan besar dan dengan tangan satu nya yang menganggur memberikan benda pipih milik nya.


"Tunggu! Beri aku satu kesempatan, apapun akan ku lakukan asal perusahaan itu tetap berjalan." pinta pria itu dengan memelas namun mata nya menunjuk kan hal lain.


Mata dengan beberapa kedipan itu memberikan isyarat ke arah belakang membuat Asfa langsung memahami kelicikan yang sedang di lakukan pria klimis di depan nya. Dalam hitungan detik hembusan angin membawa gerakan lawan memasuki gendang telinga Asfa dan terlihat papa nya juga langsung menarik tangan nya dan membuat pria klimis sebagai tameng nya.


Door... door.. door.. door.. door..


Suara tembakan yang saling berbalas itu menumbangkan beberapa orang sekaligus, hingga sebuah pergerakan tak terduga yang membuat boss para pria itu kini bersimbah darah dan jiwa nya sudah terbang ke langit. Tuan besar yang melempar tubuh pria klimis dengan lemparan kuat membuat tubuh tak bernyawa itu merubuhkan beberapa pria kekar di depan sana yang masih menodongkan senjata sedikit teralihkan dengan tindakan nya.


"Ready? " tanya tuan besar menatap putri nya, dengan jawaban sebuah anggukan kepala kini kedua nya menggambil pistol tambahan yang memang di sembunyikan di tempat teraman.


Kedua tangan tidak ada yang terlepas dari senjata, kini lawan nya hanya tinggal sembilan orang setelah sisa nya tumbang karena peluru yang di arah kan tuan besar. Tanpa ada ketakutan kedua makhluk ber topeng itu melangkah ke depan dan mulai menembak kan peluru nya tanpa ampun dan tepat sasaran, begitu pula dengan sembilan pria yang di depan juga mengeluarkan peluru dari senjata nya.


Door... door.. door.. door..


Suara bising itu membuat seseorang di balik rerimbunan pohon memegangi jantung nya yang berpacu cepat, sungguh shock dirinya melihat pertarungan yang menjadi sebuah penyerangan. Darah segar dari manusia yang baru saja di lempar ke arah gerombolan membuat nya menahan mual, tapi tidak sampai situ karena hujan peluru dengan langkah gesit makhluk ber topeng membuat nya kagum meskipun jantung nya semakin berpacu.


Hingga ke sembilan pria yang tersisa harus tumbang dan hanya menyisakan luka yang parah, tidak jauh dari keadaan para pria bahkan salah satu makhluk ber topeng seakan tidak merasa kan rasa sakit dengan luka yang ada di lengan putih mulus nya itu. Ada darah segar yang mengalir namun tidak menganggu focus nya saat melawanmusuh nya, sungguh mengagumkan.


Kreeteek...


Suara ranting yang terpijak membuat orang di balik rerimbunan harus berhenti melangkah dan diam di tempat berharap tidak ada yang menyadari nya, benar saja setelah mengatur nafas dan memejamkan mata tidak ada suara apapun lagi. Niat hati ingin membuka mata dan segera pergi meninggalkan tempat berbahaya itu, namun begitu kelopak mata nya terbuka satu makhluk ber topeng dengan pistol tepat di depan mata nya sudah siap menerkam.

__ADS_1


"Aaargghh." seru orang itu.


Bruuug.. Awww...


Karena terkejut dengan makhluk ber topeng yang ada di depan nya membuat nya terjerambab ke belakang karena niat kabur nya justru mendapatkan tendangan di kaki nya, dengan ringisan menahan ngilu di kaki nya yang terkilir kini langkah nya harus mengikuti makhluk ber topeng yang menarik nya dengan paksa. Akhirnya rasa penasaran nya terbalaskan dengan penyanderaan, sungguh nasib sangat lah baik pada nya karena tidak memberkati rasa ingin tahu nya yang tinggi.


"Queen, back to mansion. I will handle from here." perintah tuan besar yang melihat kondisi putri nya sudah menutup tubuh nya dengan pakaian kantor nya lagi.


"Use my car dad, here I will handle." jawab Asfa dan menggambil ponsel nya dari dalam mobil.


"No dad, this my responsibility." cegah Asfa yang tahu jika papa nya tidak akan setuju.


"Okay, daddy believes you queen." ucap tuan besar dan menarik tawanan nya untuk masuk ke mobil sports putri nya.


"Masuk!" perintah tuan besar setelah membuka kan pintu penumpang.


Tidak ada jawaban selain rasa takut, ntah apa yang akan terjadi pada nya setelah ini. Jika para gerombolan pria kekar dan ber senjata saja bisa di basmi dengan beberapa peluru yang tepat sasaran lalu bagaimana dengan dirinya yang tidak memiliki senjata sama sekali, mesin mobil menyala dan meninggalkan tempat berdarah.


Terlihat sebuah heli yang mulai menurunkan tangga tali nya hingga ke posisi queen nya, dengan tenaga yang masih cukup kini telapak kaki dengan sepatu boots itu memegangi tali tangga erat agar tali itu di tarik dari atas. Hanya waktu sedang kini Asfa sudah memasuki heli milik nya, seseorang sudah ada di dalam heli itu selain sang pilot.


Heli tidak langsung meninggalkan tempat itu, hingga terlihat dari arah jauh satu mobil van hitam yang mendekati lokasi berdarah. Setelah memastikan itu anak buah nya dan melakukan seperti apa yang di ingin kan nya tanpa banyak bicara kini heli itu terbang kembali meninggalkan jalan atas bukit, semakin lama semakin mendekati tujuan nya dimana sebuah mansion yang masih di sederhana meskipun mewah terlihat.


"Duke, bereskan semua nya. Bakar tempat haram itu sekarang!" perintah Asfa setelah heli mendarat dan pintu heli terbuka.


"Done queen." jawab orang itu dan menutup pintu heli kembali agar segera pergi ke tempat dimana harus di luluh lantakkan dalam waktu kedipan mata.


Tidak ada yang berani menatap queen yang ber jalan memasuki mansion nya, terlebih satu senjata masih setia ada di tangan nya. Tanpa mempedulikan tetesan darah yang menjadi tanda kedatangan nya dari titik pendaratan heli hingga memasuki mansion, mansion yang terlihat sepi di saat waktu mulai melakukan pergantian.

__ADS_1


"Darah siapa ini? Kenapa panjang sekali." gumam seseorang yang baru saja keluar dari perpustakan.


"My dooolll! " teriak seseorang dengan setumpuk buku yang langsung berjatuhan di lantai dan tanpa mempedulikan itu, langkah nya berlari memburu sosok yang masih menaiki tangga meskipun teriakan itu pasti di dengar oleh gadis itu.


"Stop!" seru orang itu sekali lagi dengan menarik tangan Asfa.


Ada sesuatu yang menempel di tangan nya, sesuatu yang sedikit lengket dan memiliki tekstur yang sangat di hafal nya, wajah yang masih ber topeng itu hanya diam memandang orang yang membuat nya ber balik dari langkah nya. Untung saja keseimbangan Asfa masih bertahan hingga tarikan itu tidak membuat tubuh nya oleh dan hanya ber balik dengan sedikit rasa pusing yang tiba-tiba saja muncul karena berputar terlalu cepat.


"Apa yang terjadi? " Bagaimana bisa seperti ini? " tanya orang itu setelah menarik paksa pakaian kantor Asfa.


Darah yang sudah membuat lengan gadis itu bermandikan warna merah, terlebih darah tidak mau berhenti membuat orang itu langsung menggendong gadis nya ke ruangan rawat tanpa mempedulikan orang-orang mansion yang berkerumun akibat teriakan nya. Banyak suara khawatir dan juga pertanyaan yang masuk ke telinga nya, namun keadaan gadis nya lebih penting dari semua itu.


Bukan nya menjawab tapi kedua tangan mungil itu justru mengalung ke leher nya dan menyandarkan kepala dengan tenang ke dada bidang nya , sungguh tidak rela melihat darah yang tanpa izin nya meninggalkan tubuh gadis nya. Dengan sensor retina mata nya, pintu ruangan rawat terbuka tanpa mempedulikan pasien yang tengah terlelap di atas brangkar.


Dengan perlahan di duduk kan nya tubuh gadis nya dan bergegas menggambil peralatan medis nya, tidak ada rintihan rasa sakit atau pun keluhan lain nya selama pengobatan. Namun tangan satu nya hanya melepaskan topeng di wajah nya dan meletakkan nya di samping pistol yang sudah di letakkan di atas meja kaca bulat tempat vas bunga.


"Katakan apa yang terjadi? " tanya orang itu dengan menahan perasaan yang berkecamuk di dada nya.


"Just work ka." jawab Asfa dengan memejamkan mata nya.


"Queen Asfa Luxifer! " ucap orang itu dengan penuh tekanan karena jawaban Asfa masih hanya sekilas.


Membuat pasien yang terlelap mendapatkan kesadarannya dan perlahan membuka kelopak mata nya, pemandangan yang samar-samar itu mulai terlihat jelas. Seseorang yang sangat di nantikan nya, seseorang yang selalu menghilang dan wajah nya yang manis kini terlihat lelah dan menahan sesuatu yang membuat kata sipit itu terpejam.


Ingin rasa nya memanggil nya, namun lidah nya tiba-tiba terasa kelu membuat nya hanya bisa diam dan berusaha untuk memberikan sirine bahwa kini keadaan nya semakin membaik. Namun posisi dokter yang selama ini merawat nya terlalu dekat dengan istri nya sungguh membuat sesak di dalam hati nya.


"Queen Asfa Luxifer answer me! " ucap orang yang kini sembari menegakkan tubuh Asfa dan membuat gadis itu terpaksa membuka mata nya.

__ADS_1


Tatapan tenang namun tetap tajam dan hangat, tapi bibir itu masih terkunci dan hanya menjawab dengan tatapan mata yang seolah mengatakan jika dirinya baik-baik saja, ingin rasa nya marah namun tatapan itu tidak mengizinkan nya untuk memarahi gadis nya.


Greeeb...


__ADS_2