
Praaang….
Praaang....
Suara pecahan barang yang terlempar, menjadi melodi di dalam kamar bernuansa putih tanpa motif apapun. Dipandangnya pria dengan perut buncit di atas tempat tidur dengan ketajaman mata tingkat tertinggi. Amarahnya kini memuncak, membuat semua guci dan berbagai furniture lainnya menjadi pecahan tanpa nilai. Sehingga sebuah pikiran yang begitu membutakan otak kecilnya hinggap.
Tangannya mengambil sebuah pistol yang terlihat menyembul di balik bawah bantal, dengan seringaian senyum di wajah. Langkah kaki itu berjalan mendekati tempat tidur tanpa memperdulikan rasa sakit di telapak kakinya. Akibat menginjak berbagai pecahan furniture , langkahnya meninggalkan jejak darah yang cukup banyak.
Satu tangan wanita itu mengelus wajah pria yang kini masih terlelap. Meski keributan yang ditimbulkan begitu besar, tapi tidak mempengaruhi pria yang masih setia menikmati tidurnya. Tentu saja setelah mendapatkan kenikmatan dunia.
Door…
Door…
Door...
Tidak ada perlawanan ataupun teriakan dari pria itu. Satu peluru meluncur tepat di tengah kepala. Satu peluru tepat di jantung dan satu peluru lagi tepat di telapak tangan kanan pria buncit itu. Suara tembakan itu mencapai ruangan lai, dan membuat beberapa langkah tampak berlari mendekati kamar utama boss mereka. Suara ribut di luar dengan hitungan mundur terdengar dan pintu didobrak tanpa begitu saja.
Brakkk....
"What the hell?!(Apa-apaan?!)," seru seorang pria yang melotot, melihat pemandangan di didepannya. Setelah pintu berhasil didobrak.
"Kalian semua Keluar!" serunya lagi kepada pria kekar lainnya.
Hiks…
Hiks…
__ADS_1
Hiks...
Suara isakan tangis terdengar. Namun, tidak ada pemiliknya, membuat satu pria kekar yang tinggal di dalam kamar berjalan mengikuti arah suara tangisan. Setelah memutari tempat tidur, terlihat seorang gadis meringkuk menangkup wajah yang terbenam di dalam lututnya dengan tangisan yang menyayat hati. Satu tangan pria kekar itu, menarik tirai yang menggantung di jendela. Menutupi tubuh gadis itu yang duduk meringkuk tanpa sehelai benang pun.
"Hey are you ok?(Hei, kamu baik-baik saja?)," tanya pria kekar itu mencoba menenangkan gadis di depannya.
Gadis itu masih saja menangis. Meskipun ada tangan kokoh yang kini memeluknya dengan elusan halus di pundak. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Seketika bulu kuduk meremang seakan menikmati sentuhan pria yang memeluknya. Di balik isak tangis, masih tersimpan senyuman licik yang terbingkai dengan ketidakberdayaan yang akan menjadi senjatanya.
Hanya mata sembab yang berkaca-kaca dengan lelehan air garam tercetak di wajah gadis yang diangkat untuk memandangnya. Sedikit kelembutan, membuat gadis itu perlahan tenang. Ntah apa yang terjadi selanjutnya. Sehingga pria itu menelan salivanya sendiri melihat betapa sexy gadis di depannya.
"Ayo ikut aku, tenangkan dirimu terlebih dahulu," ucap pria kekar itu dan menggendong gadis di depannya menuju ke kamar mandi.
Hanya sebuah anggukan, sebagai jawaban dari gadis itu yang membuat pria kekar itu berfikir gadis di depannya adalah kelinci imut. Bukankah seharusnya pria di depannya itu marah. Atau sibuk mencari siapa pelaku yang membuat tubuh si bos bersimbah darah di atas ranjangnya sendiri. Tapi justru yang di lihat gadis itu adalah sesuatu yang membingungkan. Namun, itu menjadi kabar baik untuknya.
"Kenapa kamu membunuhnya?" tanya pria itu dengan sedikit senyuman penuh makna, membuat gadis di depannya menatap manik hitam pria yang baru saja menurunkan tubuhnya.
"Kenapa kamu sendiri tidak membunuh ku? Bukankah kita sama-sama pengkhianat?" balik tanya gadis itu.
"Jadikan aku pemimpin baru! Kau sanggup?!" tanya Delia dengan godaan yang membuat pria di depannya tersenyum devil.
"Semua tergantung pelayan mu nona pengkhianat! Ups, bisakah kau puaskan aku dengan tubuhmu ini?" jawab pria kekar yang mulai meraba tubuh Delia dengan serakah.
Cup...
Satu kecupan singkat yang diberikan Delia, membuat pria di depannya bersemangat. Delia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi untuk sementara. Karena tubuhnya sudah menjadi barang tidak berguna, setelah perbuatan bejat pria tua yang membantunya. Satu malam, membuat Delia kehilangan mahkota berharganya secara paksa. Semua itu hanya demi satu tujuan.
Kedua insan yang tengah bermain hasrat dengan seruan erotis memenuhi ruangan berair itu. Suara yang mendayu-dayu, membuat siapapun yang mendengar itu pasti ikut meremang. Seakan ingin mendapatkan sentuhan yang sama. Terlihat betapa terlatihnya tangan, bibir dan goyangan pria kekar itu menerbangkan lawannya kali ini. Semua kenikmatan hanya sekali di dapatkan.
__ADS_1
"Aa@hh..."
"Hump.. faster honey.." ucap Delia dengan merintih berharap mendapatkan puncak yang lebih memuaskan.
"Aa@aa@hhh...." seru keduanya setelah melepaskan hasrat puncak secara bersamaan.
Cup.. cup.. cup...
"You are mine Delia, Everything for you since now(Kamu milik ku Delia, segalanya untuk mu mulai sekarang)." ucap pria kekar itu ikut merendam tubuhnya di dalam bath up.
"Kapan aku akan menjadi pemimpin?'' tanya Delia sembari mengukir dada bidang pria yang memberikan sensasi berbeda dari pria tua yang merenggut mahkotanya.
"Kita urus dulu pria bangka itu. Setelah itu baru kita mulai hari baru. Ikuti saja permainanku baby, just relax and all will be your mine." jawab pria kekar itu yang sesekali memejamkan matanya menikmati sensasi sentuhan di dadanya.
"Baiklah, tapi aku mau segera! Tapi siapa kamu sebenarnya?" tanya Delia penasaran.
"Aku Putra, panggil saja seperti itu. Berhentilah menggodaku baby, you make there wake up." jawab putra melirik ke bawah yang diikuti Delia.
Tanpa menjawab, Delia justru mulai mengalihkan tangannya untuk meraba setiap inci tubuh Putra. Kenakalan Delia, membuat pria itu mendesah. Setiap kali pusaka nya di remas seperti spons dan semakin diremas akan membuat busa yang lebih banyak. Delia yang melihat Putra sangat tersiksa dengan permainannya. Semakin membuat pria itu meronta meminta lebih, tapi hanya Delia yang tahu bagaimana bisa melakukan hal gila bersama pria asing.
Pergulatan panas kembali terjadi dan kali ini Delia yang memimpin di awal. Meski pada akhirnya Putra lah yang menguasai hingga puncak. Apapun itu, Delia sangat menikmati permainan yang baru dirasakan dua kali dari pria yang sama. Nafas keduanya terengah-engah setelah pelepasan terakhir, membuat kedua insan itu saling berpelukan dengan banyak tanda yang mewarnai tubuh keduanya.
Dilihatnya Putra sudah tertidur di tempat tidur yang tidak begitu besar. Sedangkan Delia hanya memandang Putra dengan rencana yang tidak terdaftar. Di dalam memori tersimpan dengan jelas bagaimana awal semuanya terjadi.
Semua sudah ku korbankan hanya untukmu my dream. Akan ku pastikan, kau menjadi milikku. Jika untuk meraihmu aku harus memuaskan banyak pria, maka akan ku lakukan. Tunggulah, aku my dream.~batin Delia memejamkan matanya yang terasa sangat lelah setelah pertempuran fisik yang menguras emosi dan tenaganya.
Hanya Delia yang tahu. Apa yang dibayangkan gadis itu, di saat bercinta dengan Putra. Sedangkan Putra hanya merasa mendapatkan kenikmatan yang melebihi dari biasanya, hingga terlelap tanpa beban meninggalkan mayat yang mulai dingin tanpa penutup apapun di kamar utama.
__ADS_1
......................
"Siapa kau sebenarnya? " tanya seorang pria dengan tubuhnya yang masih segar meski usianya sudah memasuki umur hampir 45 tahun.