My Secret Life

My Secret Life
Bab 254: TOUCH ME! YOU CAN?


__ADS_3

Bruug!


Sesuatu dilempar begitu saja tepat di depan Asfa. Aroma anyir darah jelas tercium begitu tajam. Siapapun yang terluka kini ada di dekatnya. Pejaman mata masih enggan ia hentikan, hingga suara yang menggema di ruangan itu menjelaskan siapa musuh keduanya.


"Suara itu...,"


"Aku tidak menyangka putri musuhku tumbuh begitu cantik. Tubuh yang ideal dengan perawatan yang mahal, wah, wah. Pasti seru jika bisa merasakan...," kata orang yang baru saja muncul terhenti karena suara batuk pria di depan Asfa.


"Uhuk... Uhuk... Mateo baj!ngan! Ciih, tidak ada lagi tempat untuk bedebah sepertimu," Justin menahan rasa sakitnya, perlahan ia merayap untuk kembali berdiri.


Suara Justin membawa Asfa pada kelegaan hati, lalu membuka kelopak matanya. Netra biru yang penuh ketenangan. Bibir terkunci rapat dengan smirk tersungging di bibirnya. Satu sayatan menggores hati ketika tepat di depan mata, ia melihat kondisi sang duke penuh luka. Darah yang segar masih saja mengalir dari pelipis pria itu.


Asfa mengulurkan tangannya dengan tatapan mata lembut penuh kasih, membuat Justin membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Sambutan tangan membuat keduanya saling menganggukkan kepala.


"Duduklah! Anggap ini sebagai hadiah ku," Asfa hanya membantu agar Justin bisa duduk dengan benar, lalu langkahnya maju berdiri di depan pria itu dengan melambaikan tangannya ke arah Mateo papa dari kakaknya sendiri.


Mateo terkekeh. Jelas sekali pria itu meremehkan kekuatan lawannya saat ini. Tanpa berpikir dua kali, ia berjalan menghampiri Asfa. Langkah pasti tanpa keraguan. Sementara itu, Mahendra yang justru memilih menjadi penonton tanpa harus ikut campur. Kini keduanya saling berhadapan dengan jarak dua meter.


"One question, what is your last request?" tanya Asfa santai tanpa menatap lawannya.


(Satu pertanyaan, apa permintaan terakhir mu?)

__ADS_1


Pertanyaan Asfa, membuat Mateo tertawa renyah. Ayolah, dia bukan hanya pandai bela diri, tapi taktiknya juga tak kalah untuk memanipulasi keadaan. Tanpa ia sadari. Setiap suara tawa akan menerima hukuman yang setimpal, atau bahkan jauh lebih buruk dari yang tidak bisa terbayangkan.


"Touch me! You can?" tanya Asfa memberikan tantangan terbuka.


(Sentuh aku! Kamu bisa?)


"Ck. Ck. Ck. Sok sekali putri musuhku...," Mateo berbicara seraya berjalan mendekati Asfa, lalu mengulurkan tangan berusaha menyentuh pipi wanita itu, hingga satu tarikan mengubah posisinya jatuh terpelanting menghantam lantai.


"Aargh, s!al!" seru Mateo menikmati nyeri punggung, sedangkan Asfa mundur dua langkah.


"Get up!" titah Asfa dengan suara tegas dan dingin. (Bangun!)


Satu serangan yang Asfa lakukan, membuat Mateo geram. Pria itu bangun, lalu menatap nyalang pada putri musuhnya. Aura permusuhan jelas berkobar. Melihat itu, Justin tak bisa tinggal diam, tetapi gerakannya terbaca hingga isyarat tangan kanan sang queen menghentikan niat hatinya.


Sayangnya, pukulan itu memang disengaja oleh Asfa. Kini tidak ada alasan lagi untuk menahan diri membalas setiap perbuatan Mateo. Baik itu kesalahan yang lalu, atau karena melukai Justin. Tatapan mata dingin mengeluarkan aura intimidasi. Perubahan ekspresi wajah putri musuhnya, membuat pria itu menciut.


"Your time runs out," kata Asfa menatap Mateo tanpa berkedip.


(Waktumu habis.)


Satu kata belum bisa dikeluarkan Mateo. Tiba-tiba saja pukulan demi pukulan ia terima tanpa jeda. Asfa memberikan treatment terbaik sebagai seorang queen. Tendangan yang menampar wajah, sikutan yang mengenai punggung hingga satu hantaman mengenai terong ungu pria itu yang langsung berteriak kesakitan.

__ADS_1


Justin yang melihat pusaka Mateo di hantam dengan lutut sang queen ikut merasakan denyut di bawah sana. Pasti tamat sudah tidak bisa digunakan lagi penabur benih milik pria arogan itu, pertunjukan tidak hanya sampai di situ.


Tubuh Mateo yang tersungkur di bawah, membuat Asfa berjongkok dengan kakinya yang menginjak tangan pria bangka itu. Lalu memberikan senyuman sinis. Senyuman yang menyadarkan sang musuh. Jika ia terlalu meremehkan kekuatan lawan. Suara erangan bahkan tak di pedulikan lagi. Kini waktu hanya milik seorang queen.


"First rule. Never underestimate your opponent," Ucap Asfa dengan satu jari terangkat


(Aturan pertama. Jangan pernah meremehkan lawan Anda.)


Satu jari lagi terangkat dengan satu peraturan tambahan, "Second rule. Don't play with Queen."


(Aturan kedua. Jangan bermain dengan Ratu.)


"Iblis!" seru Mateo di sela rasa sakit yang tengah ia nikmati seorang diri, seruan itu tak membuat Asfa menghentikan tatapan intimidasi nya.


"Jika aku, iblis. Kamu apa, Tuan Mateo?" tanya Asfa menaikkan satu alisnya.


"Pria yang tega membakar rumah mantan istri beserta keluarga barunya. Jangankan rasa kasihan, kamu tidak peduli dengan bayi yang baru saja lahir. Apa kamu pikir, aku hidup untuk diam menikmati rasa takut? NEVER."


Asfa bangun, lalu melangkah mundur tiga langkah. Tubuh Mateo yang terkapar di depan mata, tak membuat dirinya gentar sedikitpun atau memiliki rasa belas kasihan. Setiap kali kenangan akan masa lalu menghampiri hanya menyisakan rindu pada sosok sang ibu yang tidak sekalipun pernah ia rasakan.


"Dunia mafia bukan untuk orang sepertimu. Mungkin benar, aku seorang iblis. Iblis untuk para monster sepertimu Mateo," ucap Asfa dengan gerakan cepat mengambil pistol di balik punggungnya.

__ADS_1


Satu tembakan tanpa suara menembus dada Mateo. Tidak ada jeritan lagi, tetapi jelas pria itu menahan sakit yang jauh lebih menyiksa. Tanpa Asfa sadari, saat ia sibuk memberikan hukuman pada musuh keluarga besarnya yang menjadi penyebab hidup tanpa seorang ibu. Mahendra diam-diam mengambil senjatanya. Senjata itu diarahkan tepat ke mantan menantu.


"Mati menantu s!alan," kata Mahendra serayamenarik pelatuknya.


__ADS_2