My Secret Life

My Secret Life
Bab 36: Bukan saatnya kembali


__ADS_3

Perjuangan hidupnya yang di pertaruhkan oleh tiga nyawa sekaligus membuat hati nya lemah, tidak mungkin dirinya membantah orang yang mengembalikan kehidupan nya menjadi seperti sedia kala.


*Satu ketulusan ku mengubah seluruh hidupku tanpa sisa, meskipun kamu berlutut di bawah kaki ku. Maafku tidak tersisa untukmu!* batin Asfa yang melihat gambaran bocah laki-laki berusia sepuluh tahun.


Wajah itu sangat manis dan sangat baik hingga satu kenyataan menampar nya setelah bangun dari koma nya, tanpa ada sedikit pun di tutupi oleh papanya. Dengan seluruh bukti papa nya menjelaskan bagaimana perangai seorang bocah yang di anggap nya sebagai teman masa kecil, karena taruhan bocah itulah kini hidupnya masih bergantung dengan obat delima.


Andaikan papa nya tidak membawanya ke luar negeri untuk berobat dengan seseorang yang ternyata orang terdekat papa nya juga dan kenyatan lain yang membuat nya memiliki anggota keluarga baru dalam sekejab. Dia yang membantu dirinya untuk bangun dari koma, meracik berbagai jenis ramuan dengan ribuan kelinci percobaan yang sudah tak terhitung. Di balik kesembuhan seorang Asfa ada begitu banyak kehidupan pengorbanan yang mampu membuat siapapun hanyut dalam kisah memilukan keluarga nya, tanpa satu pelayan ataupun bodyguard berpindah ke negeri lain dan papa nya beserta Dia melakukan segala cara demi satu kehidupan yang paling dicintai oleh keduanya.


Satu kata yang mampu terucap di setiap helaan nafas yang kini masih melekat di raga nya, bersyukur memiliki seorang papa yang luar biasa menyatukan bumi dan langit hanya untuk mengembalikan nyawa putri nya dari dunia lain dan sosok Dia yang pertama kali ditemui pun rela menyelam ke dasar lautan menerjang badai di hutan terlarang demi mendapatkan ramuan terbaik. Tidak ada kata lain selain bersyukur di setiap hembusan nafasnya, hingga waktu mengharuskan nya kembali ke dunia nyata dimana kehidupan sesungguhnya menanti pijakan nya untuk mengarungi dunia bintang nya.


Flasback


"Kembalilah bersama papa, aku rasa semua akan baik sekarang. Terlebih lagi banyak masalah yang tidak bisa papa handle dari jauh, kau tahu siapa itu papa bukan?" ucap Dia dengan lembut memangku gadis yang tengah menggembungkan pipinya karena merajuk.


"Tapi... " jawab gadis itu yang langsung diam ketika melihat sorot mata Dia yang tidak ingin di bantah.


"Baiklah!" jawab gadis itu meloncat dan berlari menyingkirkan berbagai dedaunan hijau menuju ke tempat favorit nya.


Dia lah yang membuat seorang Asfa kembali ke dunia nyata setelah tiga tahun menghilang, memang benar papa nya memiliki Kerajaan bisnis yang tidak bisa di tinggalkan lama. Terlebih lagi setelah melalui peretasan pribadi nya menemukan berbagai jenis orang yang mulai melakukan pemberontakan dan bersiap berkhianat tentu papa nya harus kembali tapi akhirnya diri nya juga harus ikut kembali karena kerajaan bisnis papa nya juga membutuhkan sentuhan tangan putri nya.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


"Queen." ucap seseorang dari luar.


Dengan satu tepukan tangan pintu kamarnya terbuka mempersilahkan sosok yang tengah berdiri masuk ke dalam kamarnya, terlihat sosok itu sedikit bingung untuk berbicara membuat Asfa bangun dari posisinya. Di ambil nya segelas air putih di atas nakas dan menyodorkan gelas itu yang langsung di sambar dan diteguk tanpa jeda, setelah mengembalikan gelas ke nakas Asfa berjalan menuju sofa yang ada di depan jendela balkon kamarnya.


Tanpa menunggu ucapan queen nya sosok itu ikut duduk mendekat ke arah sofa dan berdiri di depan queen nya, terlihat sudah lebih baik dan tenang membuat Asfa memandang nya dengan alis terangkat.


"Tuan Abhi sudah sadar tapi keadaannya tidak baik." ucap sosok itu menghela nafas.


"Docter Bia mengatakan untuk sementara kaki nya lumpuh dan membutuhkan waktu untuk pemulihan, sedangkan mata nya mengalami kebutaan akibat serpihan kaca yang menancam meskipun sudah di ambil tapi ternyata dugaan Docter Delon saat operasi pertama tidak terjadi." jelas sosok itu dengan sekali nafas.


"Keluarga Bagaskara memaksa membawa Tuan Abhi rawat jalan dan kembali ke rumah kediaman keluarga Bagaskara. Semalam tuan besar menelfon ku dan meminta ku untuk segera ke rumah sakit dan baru pagi tadi pengantaran tuan Abhi selesai di lakukan. " ucap sosok itu sekali lagi.


"Terimakasih sudah menjaga mereka Justin, mungkin aku tidak bisa menemui mereka dalam waktu dekat, bisa kau urus masalah ini untuk sementara waktu? Dan pindahkan Docter beserta tim nya ke kediaman Bagaskara, terserah apa alasan mu." perintah Asfa.


*Maaf aku tidak bisa kembali saat ini, tunggulah beberapa saat lagi.* batin Asfa yang mendengar berita buruk dari Justin


"Seperti perintah anda queen, oh ya satu lagi. Kami sudah menemukan dimana pria itu bersembunyi dan menikmati hidupnya dan siapa yang melindungi pria itu saat ini." jawab Justin memberikan ponsel yang sedari tadi bersembunyi di balik saku celananya.

__ADS_1


Dengan men scroll galeri ponsel Justin terlihat beberapa foto dari berbagai sisi, satu senyuman devil tercetak jelas yang mampu di lihat oleh Justin. Aura intimidasi dengan kebekuan tingkat tinggi menyerap ke dalam pori-pori tubuh Justin membuat pria itu bergidik ngeri untuk membayangkan apa yang queen nya rencanakan, mata tajam dengan bulu mata lentik itu tidak berkedip menatap layar benda pipih di tangannya.


"Cucilah foto limited edition ini dengan ukuran dinding kamarku, dan tempelkan di kamar pengkhianat itu. Pastikan semua menjadi kado special di waktu nya nanti, kau paham? " perintah Asfa mengembalikan ponselnya.


"Siap queen. Apa ada yang bisa ku bantu lagi? " tanya Justin menetralisir rasa sesaknya.


"Tidak, kabari Dominic untuk meng-handle masalah kedua tikus baru ku." ucap Asfa meninggalkan Justin ke dalam kamar mandi.


Kepergian queen nya membuat Justin juga meninggalkan kamar termewah di dalam mansion itu, melakukan beberapa pekerjaan tambahan sekaligus memberikan kabar baik kepada Dominic atas perpisahan tim mereka yang baru sehari. Dari sekian banyak tugas hanya tugas perpisahan itu yang mengubah mood nya menjadi semangat empat lima, tentu nya begitu juga dengan Dominic yang akan meloncat seperti kelinci karena kabar itu.


Bruuug....


"Heh apa kau tidak bisa lihat!" seru Justin yang baru saja akan menuruni tangga terakhir justru bertabrakan dengan bahu seseorang.


Bahu yang terasa lebih kuat dan keras seakan itu bukan tulang tapi besi, untung saja tubuhnya memiliki keseimbangan yang baik. Mata nya sejurua memandang siapa yang memiliki tubuh bak besi tapi nihil, tidak ada siapapun di sekitarnya. Ntah kenapa tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri seakan mengatakan ada makhluk tak kasat mata di sekitar nya, namun segera di tepisnya fikiran aneh nya itu.


Sedangkan sosok yang di anggap nya kasat mata sudah memasuki sebuah kamar dan memperhatikan bagaimana dekorasi kamar mewah itu, terdengar suara air gemericik yang menandakan penghuni kamar itu tengah melakukan ritual di dalam sana. Dengan cekatan langkah kaki nya menghampiri tempat penyimpanan baju yang berdiri dengan gagah berwarna hitam dengan kaca rias di tengahnya, di ambil nya sebuah dress merah muda sebatas lutut dengan lengan panjang dan di letakkan di atas tempat tidur king size.


Menunggu penghuni nya kembali, langkah kaki nya menghampiri jendela yang tertutup tirai. Dengan satu dorongan jendela itu terbuka membawa kesegaran alam, dengan pemandangan langit yang cerah, di bawah sana terdapat taman bunga yang memang di rancangnya.

__ADS_1


*Cepatlah datang boneka tersayangku.* batin nya memandang jejeran bunga di bawah sana.


__ADS_2