My Secret Life

My Secret Life
Bab 122: Ikrar janji suci


__ADS_3

Dua jam berlalu dan terlihat Alvaro turun dari tangga bersama dengan tuan besar, membuat para tamu mansion menatap kagum dan tak berkedip. Team Alvaro dan tamu mansion lainnya akan menjadi saksi pernikahan dan duduk rapi di barisan kursi yang melingkari pilar altar pernikahan di luar area sakral.


"Siapa yang akan menjadi wali nikah mempelai wanitanya?" tanya pak penghulu dengan serius setelah Alvaro duduk di depannya.


"Saya sendiri wali nikah mempelai wanita." ucap Tuan Besar dengan tenang dan mantap membuat Alvaro terdiam dan menerima apapun yang akan terjadi.


"Panggilkan mempelai wanitanya!" perintah pak penghulu dan membuat seorang wanita paruh baya meninggalkan tempatnya berdiri.


Tok.. tok.. tok..


Ceklek..


"Masuk bunda, bawa Rania kebawah." titah Asfa setelah melihat siapa yang membuka pintu kamar tamu.


"Nak, kenapa belum bersiap?" tanya bunda Anya yang melihat penampilan Asfa masih dengan pakaian santainya.


"Ten minutes again! (Sepuluh menit lagi!)" jawab Asfa dan menyelesaikan hiasan rambut Rania yang terakhir.


"Okay, Rania ayo." ajak bunda Anya dengan mengulurkan tangannya.


Bukannya menerima uluran tangan bunda Anya, Rania justru menatap Asfa yang berdiri dibelakangnya dengan tatapan menolak ajakan bunda Anya.


"Bunda, biarkan aku yang membawa Rania." ucap Asfa dengan mengedipkan satu matanya ke arah cermin yang langsung menghadirkan senyuman manis dibibir Rania.


"Sure Queen." balas bunda Anya dan memilih kembali ke Altar pernikahan terlebih dahulu.


Kepergian bunda Anya membuat Asfa bergegas mengambil gaun merah di atas tempat tidur, gaun bergaya modern yang elegant menjadi pilihannya. Hanya membutuhkan waktu 3 menit Asfa berganti pakaian, dilanjutkan dengan menyanggul kasar rambut panjangnya dan membiarkan untaian rambut sedikit tertinggal yang membuat wajah mungilnya menjadi terlihat dewasa.

__ADS_1


"Wow! Queen." cetus Rania begitu melihat Asfa keluar dari kamar mandi dan berubah menjadi seorang putri bangsawan.


Padahal dirinya jauh memakai gaun mewah dengan warna pink dan desain dari butik ternama, tapi ternyata hasil karya Asfa yang memake over dirinya selama hampir 2 jam menjadi jatuh tak ada apa-apanya. Setelah melihat penampilan sederhana nan berkelas calon adik iparnya itu, sungguh menjadi cantik apa adanya adalah yang terbaik.


"Ayo!" ajak Asfa mengulurkan tangannya.


"Dengan senang hati." ucap Rania menerima uluran tangan Asfa dan bangun dari tempat duduknya.


"Queen apa ini tidak berlebihan? Gaun ini berat sekali." keluh Rania setelah melangkahkan kakinya.


"Tenang, hanya untuk hari ini. Nikmati saja." jelas Asfa.


"Kenapa tidak memakai gaun kembar saja? Ku rasa itu lebih baik queen." cetus Rania yang pasti sudah travelling kemana-mana.


"Menikahlah dulu, baru aku kabulkan permintaan mu." Asfa hanya ingin membuat hari special kakaknya menjadi hari yang terindah dan gaun yang di pakai Rania adalah desain limited edition dari butik pribadinya yang memang belum di launching kan.


"Tapi setelah itu boleh pake gaun kembar kan?" tanya Rania dengan semangat.


Semua mata tertuju pada sepasang gadis dengan gaun berbeda aliran, satu gaun mewah pengantin berwarna pink dengan aksen bunga yang di pake Rania dan satu gaun elegant berwarna merah yang di pake Asfa. Terlihat tuan besar bergegas bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju tangga yang memiliki jarak dua belas meter, tangan Rania teralihkan disaat tangan tuan besar menyambut kedatangan calon menantunya.



(Rania☝)



(Asfa☝)

__ADS_1


"Calm down Rania, welcome to the Phoenix Family.(Tenanglah Rania, selamat datang di keluarga Phoenix.)" Tuan besar mengusap lengan Rania yang bergetar.


Awalnya semua terlihat baik namun semakin mendekati altar justru tubuh Rania semakin bergetar, membuat Tuan besar menyalurkan kasih sayangnya agar anggota baru keluarganya itu tidak merasa sendirian. Sedangkan Asfa memilih tetap berdiri di tempat papanya mengambil alih tanggung jawab Rania dari genggaman tangannya.


Kuharap kakak bahagia, maafkan aku ka. Sungguh aku tidak ingin melihat kemarahan dimata kakak, tapi sudah waktunya kakak kembali.~ batin Asfa dengan genangan air mata di sudut pelupuk matanya.


Seketika suasana berubah menjadi senyap, ketika tangan kiri pak penghulu kembali membuka berkas pernikahan dan tangan kanannya memegang microphone.


"Baiklah, mempelai siap?" tanya pak penghulu dengan menatap Alvaro dan Rania secara bergantian meskipun hanya di jawab sebuah anggukan kepala.


"Jabat tangan nak Alvaro, dan ikuti bacaan ini dengan sekali tarikan nafas." titah pak penghulu dan menyodorkan point dimana ikrar janji suci berada.


"Saya nikahkah dan kawinkan engkau Alvaro bin Andara Mateo dengan Rania Carlotte dengan emas kawin satu unit mansion dan saham perusahaan Luxifer sebesar 5 persen." ucap tegas dan jelas Tuan besar dengan menghentakkan jabatan tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Carlotte dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." balas Alvaro dan menghentakkan jabatan tangannya.


"Bagaimana saksi sah?" tanya pak penghulu sebagai pembuktian atas ikrar janji suci pasangan baru di depannya.


"Saaaah." jawab serempak para tamu mansion.


Bruug...


"Rania!" seru Asfa yang membuat orang menyadari gadis bergaun mewah jatuh pingsan setelah ikrar janji suci selesai di ucapkan.


"Tenanglah, aku akan bawa ke kamar. Pa tolong jaga my doll." tukas Alvaro dan melepaskan kancing jas nya dan membopong Rania menuju ke kamarnya.


Seakan mimpi menjadi kenyataan, tapi apakah itu mimpi buruk atau mimpi manis hanya Rania yang tahu. Sedangkan bunda Anya langsung bergegas melakukan pekerjaannya dan mempersilahkan para saksi pernikahan untuk memakan jamuan makan yang telah tersedia.

__ADS_1


"Aku kecewa dengan mu! Kamu membuat ku seperti sampah, setelah sekian lama kita bersama."


Wuuussss... Praaang...


__ADS_2