
"Queen." panggil seorang pria dengan penampilan urakan memasuki kamar rawat dengan wajah sedikit cemas.
"Aku akan kembali nanti malam, dokter akan merawat mu. Maaf tapi aku harus pergi." ucap Asfa sesaat mengusap pipi Abhi dan berjalan menjauhi brangkar suami nya.
"Asfa." panggil Abhi sekuat tenaga di dalam batin nya, ada yang menusuk hati nya tapi tatapan mata istri nya sangat jelas tidak bisa di bantah membuat nya hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan istri nya pergi bersama seorang pria dengan penampilan urakan yang baru saja datang dengan wajah cemas.
Begitu pintu tertutup, terlihat Alvaro berdiri di sisi pintu yang membuat Asfa tahu jika kakak nya lah yang membukakan pintu untuk salah satu duke nya itu.
"Pergi lah dan hati-hati, biar kakak yang mengurus suami mu." ucap Alvaro yang membuat Asfa mengangguk dan memberikan kode pada pria di belakang nya untuk berjalan terlebih dahulu.
Alvaro membuka pintu ruangan rawat Abhi dan menghampiri pria yang tengah memejamkan mata nya dengan garis di kening nya, Alvaro tahu jika Abhi hanya mencoba menenangkan gemuruh di dalam hati pria itu.
"Jika dia jodoh mu pasti akan kembali pada mu, ayo makan." ucap Alvaro yang langsung membuat Abhi membuka mata biru nya dengan tatapan penuh pertanyaan karena dari sudut pandang nya, dokter di depan nya juga memiliki hubungan special dengan istri nya.
"Bukan hak ku menjawab pertanyaan mu, jadi tahan lah sebentar lagi." ucap Alvaro yang tahu apa isi fikiran pasien nya dan menyodorkan satu sendok bubur ayam yang sudah hangat.
"Apakah salah jika keraguan menjadi penghuni hati ku?" tanya Abhi dan menerima suapan bubur dari Alvaro yang sudah di depan mulut nya.
"Tidak, tapi apa benar kepercayaan di hati mu sedangkal itu?" tanya balik Alvaro dengan masih memberikan suapan bubur seperti yang di lakukan adik nya dimana satu suapan akan menjadi satu pertanyaan dan jawaban.
"Kepercayaan yang baru saja terbangun namun salah kah jika pandangan ku membuat hati ku meragukan nya?" tanya Abhi dengan menerima satu suapan lagi.
"Tidak ada yang salah dari pandangan mu tapi keraguan mu bisa menjadi bumerang." jawab Alvaro dengan tenang namun terkesan penuh tekanan.
"Bumerang? Bagaimana jika dia yang membohongi ku dan itu yang menjadi alasan keraguan ku? " ucap Abhi dengan serius dan menatap Alvaro dengan tatapan yang berbeda.
"Hehehe, dunia mu terlalu kecil untuk nya. Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat mu kehilangan berlian, dia bukan hanya milikmu." jawab Alvaro dan meletakkan mangkok yang sudah tak menyisakan satu sendok bubur pun.
"Apa ada yang lucu? Aku.. " tanya Abhi dengan nada yang berubah lebih serak.
"Don't give me many questions, My doll will tell you everything. (Jangan beri aku banyak pertanyaan, Boneka ku akan mengatakan segala nya pada mu. ). " ucap Alvaro memotong pertanyaan Abhi yang sudah mulai di luar toleransi nya.
" Kalian terlalu misterius." gumam Abhi yang masih bisa terdengar oleh Alvaro namun tetap di abaikan karena hanya Asfa yang berhak mengatakan apa yang harus di ungkapkan dan apa yang harus tetap di sembunyikan.
Sedangkan di sebuah tempat yang sangat besar dengan rumput hijau yang masih menyisakan embun pagi telah menjadi tempat latihan sekelompok pria kekar dengan tattoo yang beragam, suara mobil yang mendekat tidak membuat kelompok itu menghentikan perdebatan yang tidak ada ujung nya meskipun perdebatan itu di mulai sudah sangat lama.
__ADS_1
Doorr..
Suara satu tembakan yang ber hasil mengalihkan perhatian kelompok itu dengan wajah yang tegang dan menunduk karena kedatangan seorang gadis dengan topeng mawar hitam di wajah nya, bersama seorang pria penampilan urakan yang seperti nya baru saja memanggil gadis itu untuk datang ke tempat latihan.
"Come here! You! (Kemari! Kamu!). " ucap Asfa dengan menunjuk pria yang menjadi pemimpin kelompok gangster yang telah masuk di bawah naungan Mafia Phoenix.
Seorang pria dengan tato ular di lengannya menghamapiri queen dengan langkah yang lesu, sudah dapat di rasakan jika aura intimidasi semakin terasa semakin mendekati gadis itu. Gadis yang masih memainkan senjata api di tangan kiri nya dengan tangan satu nya di dalam saku jacket kulit nya, tidak ada keraguan dari sikap nya yang menjadi seorang pemimpin membuat semua orang langsung bungkam dalam ketegangan.
"What you want? FIGHTING Or This? ( Apa mau mu? BERTARUNG Atau INI? ) . " tanya Asfa dengan menaruh pucuk senjata api nya tepat di kepala pria tattoo ular di lengan yang telah berdiri di depan nya.
Bruuug
"Maafkan kami queen." ucap pria itu dengan menjatuhkan tubuh nya berlutut di depan Asfa yang membuat Asfa diam dan menahan sisi buruk nya.
"Duke apa aku harus mengirim mu ke antartika? " ucap Asfa tanpa memandang pria urakan di samping nya.
"Queen... " jawab Dominic yang benar-benar merasa gagal menjalankan tugas nya sekali lagi.
"Shut up! (Diam!). " seru Asfa dan memasukkan senjata api nya di saku jacket nya.
Pria dengan wajah cemas dan penampilan urakan adalah duke Dominic yang mendatangi nya karena tidak sanggup menghentikan perdebatan kelompok gangster yang membuat kepala pria itu pusing tujuh keliling, hanya karena perbedaan kecil namun menjadi masalah besar. Sedangkan Dominic bukan lah type pria yang sabar dengan begitu banyak suara yang di anggap nya seperti racun, tapi jika masalah otot tentu saja Dominic tidak bisa di ragukan meskipun keahlian pria itu masih di bawah Justin.
Suara langkah kaki yang terdengar mengejar nya membuat Asfa berhenti berjalan dan menunggu langkah di belakang nya mencapai tempat nya berdiri, hanya membutuhkan beberapa detik hingga langkah kaki yang mengejar akhirnya berhenti di belakang nya.
"Bawa mereka ke mansion ku, dan kamu kembali lah ke mansion papa." perintah Asfa tanpa berbalik dan melanjutkan perjalanan nya ke mobil sport hitam milik nya.
"Queen!" panggil Dominic dengan memelas.
Hanya tangan kanan Asfa yang terangkat menandakan gadis itu tidak ingin mendengar apapun lagi, membuat Dominic hanya bisa mengusap wajah nya dengan kasar. Tidak di sangka jika melatih para gangster yang terbiasa melakukan kejahatan tanpa rencana matang dan terbilang pekerjaan illegal justru membuat nya melakukan kesalahan lagi karena tidak bisa mengatur gangster itu dengan cara kerja nya yang terbilang keras dan kolot.
Langkah nya kembali ke kelompok gangster yang masih diam dengan tubuh mematung, kepergian mobil sport yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Dominic semakin frustasi. Meskipun queen nya tidak akan pernah membuat kesalahan nya untuk di adukan ke tuan besar, tapi baik ayah ataupun anak tidak ada beda nya jika menghukum siapapun yang bersalah.
"Bereskan apapun yang kalian anggap penting, sepuluh menit kalian harus kembali ke tempat ini! " perintah Dominic dengan suara serak dan wajah yang frustasi membuat anggota gangster itu hanya pasrah meskipun perdebatan kelompok itu masih belum berakhir.
Rasa frustasi Dominic berbanding terbalik dari emosi Asfa yang tengah melajukan mobil sport nya dengan kecepatan rata-rata hingga membuat gadis itu bisa lebih relax, namun belum mencapai perbatasan wilayah utama mata nya harus menangkap pemandangan yang membuat nya gerah di depan sana.
__ADS_1
Beberapa mobil van hitam di depan sana tengah menjadi bunga yang ntah tengah mengerubungi lebah jenis apa , membuat Asfa terpaksa menurunkan kecepatan nya dan berhenti dengan jarak dua meter.
Tiiiiiiiiin.... (satu klakson di bunyikan Asfa agar mobil yang ada di depan nya memberikan jalan untuk mobil sport nya lewat)
Bukan nya menyingkir tapi justru terlihat beberapa pria dengan tubuh yang tidak ada beda nya dengan para bodyguard di mansion nya menghampiri mobil sport milik nya, senyuman yang mulai terbit di balik topeng membuat aura dingin dari tubuh nya semakin meningkat. Satu pria berbadan kekar dengan luka di kening nya mendekati kaca mobil dan mengetuk dengan wajar sedangkan empat pria lain nya memilih berdiri di depan mobil dan dengan santai nya Asfa menurunkan kaca mobil nya hingga pria itu bisa melihat seorang gadis dengan topeng di wajah duduk di kursi pengemudi.
"Ada yang bisa di bantu tuan? " tanya Asfa dengan lembut.
"Putar balik dan tinggalkan tempat ini, jika kamu ingin selamat." ucap pria itu dengan suara yang terdengar keras dan menggertak.
"Apa yang sedang anda lakukan? Bermain petak umpet? Atau bermain senjata?" tanya Asfa dan dengan santai nya justru mematikan mesin mobil nya.
"Tarik saja keluar jika tidak mau pergi!" seru salah satu pria yang berdiri di depan mobil membuat pria di samping pintu mengalihkan perhatian nya dengan melihat ke arah kawanan nya.
Braaak... Kraaak... Bruuug...
......~~~•~......
.
.
. Hay reader's, othooor cuma mau kasih tahu kalau proses revisi udh sampai bab 45 😁
.
.
.
. Othooor gk ganti apapun selain memberikan terjemahan dan juga kesalahan penulisan yang di temukan saat proses revisi, tapi kalau masih ada salah othooor minta maaf ya. 🙏
.
.
__ADS_1
. Catatan:
~I love you dan kata-kata sederhana yang mungkin udh biasa reader's dengar dan baca ke mungkin an othooor gak terjemahin ya.