
"Racuun.." racau Asfa yang menghabiskan sisa kesadarannya, membuat Alvaro panik dan langsung saja masuk ke mansion tanpa mempedulikan pemuda yang mengikuti langkahnya.
"Panggil semua dokter di mansion, SEKARANG! " perintah Alvaro sebelum memasuki ruangan rawat yang masih ada pasiennya.
Langkah Alvaro dengan pasti memasuki ruangan rawat. Dengan menggunakan password retina mata, seketika ruangan rawat terbuka dan dengan cepat Alvaro mendudukkan Asfa di sofa yang tersedia di ruangan itu. Dengan perlahan Alvaro membuka jacket Asfa yang ternyata sudah basah dengan bau anyir. Dengan pelan Alvaro membawa Asfa ke dalam pelukannya, agar bisa melihat dimana adiknya terluka. Hingga pundak kiri Asfa terlihat berlubang, dengan sumber aliran darah yang seakan tidak mau berhenti.
"Dimana peralatan medisnya? " tanya pemuda yang sedari awal hanya diam dan menjadi ekor akhirnya angkat bicara, setelah mencium bau anyir dan juga dress hitam Asfa basah.
"Di almari kaca itu." jawab Alvaro tanpa menatap tujuan dari ucapannya, karena jari telunjuknya sudah mewakili kemana arah ucapannya.
Dengan langkah seribu pemuda itu menghampiri almari kaca yang hanya berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri, namun matanya melihat brangkar yang berisikan seorang pasien dengan wajah yang lebih tampan darinya. Dengan peralatan besi yang membalut setiap anggota tubuh pria itu kecuali wajah dan juga leher, namun kesadarannya masih tinggi hingga mengabaikan pasien yang matanya terpejam dan mengambil peralatan medis yang di butuhkan.
"Biar kan aku membantu mu." ucap pemuda itu sembari meletakkan semua peralatan di atas meja kaca, membuat Alvaro melirik sekilas dan kembali menatap pundak Asfa.
"Tunggu! Berikan gunting pada ku." ucap Alvaro dengan serius dan mengulurkan tangan kanannya.
"Ini." jawab pemuda itu dengan memberikan gunting yang biasa di gunakan oleh dokter untuk menggunting pakaian pasien.
Dengan perlahan namun cekatan Alvaro menggunting dress Asfa hingga pundaknya terpampang jelas dengan warna merah darah, bahkan dress hitam Asfa sudah sangat basah. Seakan pemuda itu memahami pekerjaan seorang dokter, pemuda itu langsung memberikan kapas pada Alvaro dengan menggunakan capit khusus. Alvaro dengan cekatan membersihkan darah disekitar luka yang membuat tubuh Asfa sangat tercium aroma anyir.
__ADS_1
Pembersihan di lakukan dengan cekatan dan kini terlihat jelas bagaimana pundak kiri Asfa berlubang dan cukup dalam lukanya dengan warna kulit yang membiru mulai terlihat menyebar di sekitar luka itu. Namun dengan posisinya yang menyandarkan tubuh Asfa ke dada bidangnyaa sungguh membuat Alvaro sedikit kesulitan untuk melakukan pengambilan peluru yang terlihat masuk cukup dalan.
Seakan tahu apa yang tengah di alami dokter di depannya, pemuda itu mendekati Alvaro dan ntah keberanian dari mana hingga bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang membuat Alvaro hanya bisa menatap tajam namun tidak ada kalimat penolakan.
"Tahanlah, ini pasti sangat sakit." ucap pemuda itu dan sudah siap mencabut peluru yang bersarang di pundak kiri Asfa, sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Eeeemmmm." rintih lirih Asfa yang tanpa sadar mencakar punggung Alvaro dengan kuat di saat sesuatu mencoba memasuki tubuh nya dengan sedikit paksaan, sedangkan Alvaro hanya bisa menahan rasa sakit yang tak seberapa di punggungnya dan memilih mengelus kepala Asfa yang membutuhkan dukungan.
Hingga akhirnya perban selesai diberikan dan menutup luka yang cukup dalam setelah mendapatkan jahitan, pemuda yang masih menggigit bibir bawahnya itu seperti baru mengalami kejadian menegangkan untuk pertama kalinya. Butiran keringat sebiji jagung menjadi bukti, jika pemuda itu tidak terbiasa menangani keadaan darurat. Meskipun teknik pengobatannya bisa dipastikan jika ilmu kedokteran ada di dalam diri pemuda itu.
"Thanks. Biarkan aku membawa queen dulu, obati luka mu itu." ucap Alvaro dan memilih menggendong Asfa seperti koala agar adiknya tidak mendapatkan tekanan di pundaknya yang terluka.
Hingga kepergian Alvaro membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah brangkar yang dihuni seorang pria dengan umur yang pasti tidak jauh dari nya. Tapi ntah kenapa wajah itu seakan familiar untuknya. Wajah yang bule dengan rambut yang styles, tapi pria di brangkar seakan tidak terusik dengan keributan yang baru saja terjadi, sungguh itu hal aneh baginya.
Meninggalkan ruangan rawat, Alvaro di sambut banyak pasang mata yang sudah ada di luar ruangan itu, kenapa banyak pasang mata di luar ruangan? tentu saja karena team dokternya itu tidak bisa masuk ke ruangan rawat, tanpa password ataupun kunci manual yang hanya di simpan oleh Asfa. Namun tidak mempedulikan pandangan penuh tanya yang menatapnya dengan tatapan penasaran, langkah Alvaro cukup cepat dan panjang untuk membawa adiknya ke kamar pribadi Asfa dan kali ini Alvaro memilih menggunakan lift yang akan mempersingkat waktu, dan detik berikutnya lift terbuka.
Tujuannya adalah kamar Asfa, belum sempat menggunakan password, pintu sudah terbuka dan sosok pria kekar dengan gurat kesedihan menyambutnya. Dengan bibir yang terkatup rapat. Dengan perlahan Alvaro masuk ke kamar dan membaringkan tubuh Asfa di tempat tidur king size, dengan posisi miring agar luka di pundak kiri adiknya tidak tertekan.
"Tuan biar saya ganti pakaian nona muda." ucap bunda Anya, yang ternyata sudah mengikuti langkah Alvaro meskipun wanita nyentrik itu sudah stand by lebih dulu di kamar Asfa bersama tuan besar.
__ADS_1
"Silahkan, akan ku ambilkan pakaian yang nyaman untuk queen." jawab Alvaro dan membuka lemari pakaian Asfa, memilih satu dress sederhana yang tidak memiliki penutup punggung.
Dress yang biasa di gunakan untuk pergi ke pantai oleh Asfa menjadi pilihannya, Alvaro memilih dress itu agar siapapun ingat untuk menjaga jarak dari adik nya yang tengah terluka. Dengan sigap bunda Anya menerima dress cantik yang di pilih Alvaro.
Sedangkan tuan besar dan Alvaro memilih berjalan ke arah balkon, untuk memberikan bunda Anya waktu menggantikan pakaian putri raja mereka.
"Pa." panggil Alvaro untuk membuyarkan keheningan sang papa.
Ini lah yang selalu di takutkan oleh Alvaro sedari kecil, keheningan dari tuan Luxifer. Dan keheningan itu hadir ketika adiknya terluka, sungguh sebagai seorang anak pun Alvaro tidak bisa mengurangi sedikit pun rasa yang tersimpan di hati pria yang ada di sampingnya itu.
Tapi keheningan itu akan menjadi kebahagiaan ketika adiknya dalam keadaan baik- baik saja. Bagi sang papa, dunia bukan tentang pundi-pundi uang yang di hasilkan olehnya , tapi dunia adalah senyuman dari bibir mungil mutiaranya.
Greeeb...
Hanya sebuah pelukan yang bisa menyalurkan segala rasa dan kata yang tak mampu di ucap kan, dan pelukan Alvaro di sambut baik oleh tuan besar. Ayah dan anak itu akhirnya ber pelukan untuk menyalurkan kehangatan dengan berbagi duka yang seakan kembali memberikan sayatan baru, sayatan yang seharusnya bisa di hindari namun tetap terjadi.
"Tuuuaan..." seru bunda Anya yang langsung membuat Alvaro dan tuan Luxifer melepaskan pelukan dan berlari memasuki kamar.
Deg....
__ADS_1
"Tuuan nonaa..." seru bunda Anya dengan gemetar.