My Secret Life

My Secret Life
Bab 76: Arti pensiun


__ADS_3

"Bagaimana dengan jalan-jalan mu? " tanya seorang pria dengan suara khas nya.


"Emm." gumam gadis itu dengan menunduk.


"Ekhem! Biarkan Rania duduk dulu, kemari duduk lah!" perintah satu sosok lain yang masih menunjuk kan sebuah persahabat.


Perintah itu memang lembut tapi sungguh nyali nya menjadi nol besar karena di hadapan nya kini ada seseorang yang membuat nya tetap hidup hingga detik ini, ada rasa takut dan bersalah karena dirinya tidak mematuhi perintah orang itu dan justru bertindak sesuka hati.


"Rania!" panggil pria itu dengan lebih tegas.


"Siap tuan besar." ucap Rania dengan gugup dan melangkah kan kaki nya dengan berat untuk duduk di hadapan dua orang yang paling di segani.


"Queen." panggil seorang bodyguard yang yang berdiri di belakang Rania tadi.


Hanya sebuah isyarat untuk mendekat dengan satu jari telunjuk Asfa tertuju pada bodyguard itu, memahami apa maksud queen nya membuat bodyguard itu mendekati queen nya dan membisikkan sesuatu. Bisikan itu membuat wajah Asfa tetap datar dan sekilas melirik gadis remaja di hadapan nya, sedangkan Rania merasa tertekan dengan sorot mata tajam yang mengarah pada nya.


"Istirahat lah, antar dia ke kamar nya." perintah Asfa sembari memberikan isyarat pada papa nya untuk tenang.


Niat hati ingin memberikan pelajaran pada gadis remaja itu agar tidak bertindak semaunya justru harus diam karena putri nya menghentikan niat an di hati nya dengan tatapan penuh arti, setelah kepergian Rania yang berjalan menunduk menuju kamar baru nya kini tinggal lah ayah dan putri nya yang masih terdiam.


Tak.. tak.. tak..


Suara sepatu yang memasuki rumah dan satu sosok yang menjadi pusat pengalihan ayah dan putri nya yang masih terdiam, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi nya mendekati ruang tamu dengan satu set sofa ber warna hitam. Terlihat tuan besar hanya memandang sebentar dan kembali menyandarkan tubuh nya ke sofa, sedangkan putri nya masih diam dan hanya memandang sekilas tanpa ber tanya karena melihat reaksi sang papa membuat gadis itu tahu , jika pria paruh baya yang baru datang itu termasuk anak buah papa nya.


"Tuan, ini tidak seperti rencana awal. Seharusnya aku sudah kembali ke peradaban ku, ayolah berikan pria tua ini hidup tenang." ucap pria paruh baya itu dengan mendudukkan tubuh nya ke sofa dengan kasar.


"Mau jadi makanan moli atau jadi samsak putri ku? " tanya tuan besar dengan memejamkan mata nya.


"Astaga jahat sekali kau ini, lutut ku tidak kuat lagi." keluh pria paruh baya itu.


"Drama." ucap tuan besar dan memilih meninggalkan ruang tamu dan pergi ke sebuah kamar yang sudah di siapkan putri nya.


"Maafkan papa, duke antarkan tamu papa di kamar nya." ucap Asfa bersamaan dengan kedatangan Justin.

__ADS_1


"Wait! Ku dengar gadis kecil Luxifer seorang petarung, bisa kah aku mendapatkan kesempatan... " ucap pria paruh baya itu menghentikan niat Asfa untuk bangun dari duduk nya.


"Apa taruhannya? " tanya Asfa memotong ucapan pria paruh baya itu.


"Hahaha kamu memang putri nya. Apa yang kamu mau nak? " ucap pria paruh baya itu dengan sumingrah.


"Belum ku fikirkan, apa yang anda punya? " tanya Asfa.


"Team terbaik dalam naunganku? Bagaimana? " jawab pria paruh baya itu menaik turun kan alis nya.


"No, I want something different." ucap Asfa dengan sebuah senyuman devil.


Jangan tanya kan apa yang ada di fikiran gadis itu jika ingin selamat, aura dingin yang langsung menyebar bahkan membuat Justin melirik queen nya dengan waspada tapi itu tidak berlaku bagi pria paruh baya. Bagi nya aura dingin hanya lah sebuah salam perkenalan yang mampu membuat pria paruh baya itu menilai seberapa bahaya nya orang yang akan di hadapinya, ntah apa yang di lakukan gadis itu dengan ponsel nya selama lima menit.


"I want this." ucap Asfa dengan menaruh ponsel nya di atas meja kaca di depannya.


Terlihat pria paruh baya itu mengambil ponsel dan memeriksa apa yang dijadikan taruhan, wow bisa kah dirinya berfikir sejenak atau menarik tantangan nya. Dari gelengan kepala nya sudah jelas pria paruh baya itu harus menelan saliva nya dengan susah, jika putri tuan besar meminta nyawa atau seluruh anak buah nya sudah pasti akan langsung di terima tanpa berfikir ulang, tapi tidak dengan permintaan yang satu itu.


Bukan hanya hasil dari tantangan yang bisa membuat hidup nya seperti neraka tapi amukan pemimpin nya yang lebih menakutkan, di pandang nya gadis yang masih menampilkan sebuah senyuman devil. Dengan wajah yang bisa di katakan kacau, pria paruh baya itu meletakkan kembali ponsel putri tuan besar nya dan memejamkan mata nya untuk mendapatkan secercah harapan.


"Done, meeting esok pagi sudah siap. Apa ada lagi? " tanya Justin sembari menetralkan aura dingin yang masih setia terdiam di ruangan itu.


"Siapkan semua file dan hubungi semua perusahan, katakan rapat di maju kan." perintah Asfa dan bangkit dari tempat duduk nya.


"Lupakan tantangan yang anda berikan, istirahat lah." ucap Asfa dan membuat pria paruh baya itu membuka mata nya.


Namun gadis itu sudah berjalan menaiki tangga, tapi ada yang menarik perhatian nya yaitu gadis itu berjalan tanpa alas kaki. Justin menyadari tatapan pria paruh baya itu hanya bisa berdehem tapi deheman Justin tidak membuat pria paruh baya itu mengalihkan pandangan nya dari tangga.


"Mari pak, saya antar ke kamar tamu." ajak Justin dengan sopan.


"No! Antarkan aku ke kamar tuan besar." cegah pria paruh baya itu dengan serius.


"Maaf, apa anda sudah ada janji? " tanya Justin dengan satu alis terangkat.

__ADS_1


"Jangan banyak ber tanya! Antarkan saja, atau aku bisa mencari sendiri." ucap tegas pria paruh baya.


"Ok.Ayo." jawab Justin dan berjalan di depan.


Setelah perjalanan selama beberapa menit akhirnya Justin berhenti di sebuah kamar dengan pintu ber warna hitam, dengan mengetuk pintu dan mengatakan tujuan nya, tidak berapa lama keluarlah tuan besar nya dengan penampilan yang seperti nya baru selesai menyegarkan diri dan itu terbukti dengan handuk yang melilit di pinggang nya dan rambut nya yang basah.


"Where queen? " tanya tuan besar sebelum mempersilahkan siapa pun masuk ke kamar nya.


"Nona muda istirahat di kamar nya, besok ada meeting di perusahan." lapor Justin dengan menunduk.


"Okay, tinggalkan pria tua ini dan lakukan perintah putri ku! " perintah tuan besar dan membuka pintu lebih lebar agar pria paruh baya masuk ke kamar nya dan pintu di tutup meskipun Justin masih berdiri di depan pintu dengan menunduk.


Justin meninggalkan lantai atas dan menuju ke kamar pribadinya untuk menyiapkan metting esok, tapi di kamar tuan besar terjadi sebuah percakapan satu arah. Dengan botol wine di tangan nya, kini pria paruh baya itu mulai menetralkan perasaan nya dan menggerutu pelan dengan penuh ekspresi.


"What happens?" tanya tuan besar dan duduk di lantai bersebelahan dengan bayangan nya itu.


"Keturunan mu sama persis seperti dirimu, tidak bisa kah seperti Naura? Yang hanya lembut tapi tidak ganas." keluh pria paruh baya itu dengan meneguk wine nya.


"What's? " tanya ulang tuan besar dengan menatap penuh selidik.


"Aku mengajak putri mu untuk bertarung tapi taruhan nya itu membuat ku kalah sebelum maju perang." ucap pria paruh baya dengan sinis.


"Mengajak atau menantang? " tanya tuan besar memastikan tujuan bayangan nya.


"Hehehe aku mengajak tapi bicara ku seperti menantang. Apa pun itu, kenapa putri mu sangat mirip dengan mu! Membuat ku menguras fikiran dan perasaan saja." ucap pria paruh baya itu dengan kejujuran tingkat tinggi.


"Seperti nya sudah waktu nya kamu pensiun!" ucap tuan besar yang langsung membuat pria di samping nya meletakkan botol wine di lantai.


"Ayolah jangan kejam pada ku, lihat lutut ku baik-baik saja." ucap pria itu dengan memelas.


Satu kata pensiun sudah pasti membuat orang yang berhenti bekerja mendapatkan THR atau hal lain nya demi kelangsungan hidup setelah berhenti bekerja tapi itu tidak berlaku bagi seorang tuan besar Luxifer. Kata pensiun berarti siap untuk di kirim ke kutub utara dengan catatan blacklist untuk kembali ke tempat asal atau justru harus di kirim ke hutan tanpa teman dan fasilitas apa pun.


Kejam, yah begitulah jika sudah membuat tuan besar tersinggung atau mengusik kedamaian sang raja, jadi jangan heran jika putri nya juga memiliki cara yang sama untuk membuang para pengacau. Apa kalian ingat dengan para tamu delegasi asing yang harus di usir dan mendapatkan blacklist dari Asfa, ingatkah ucap an Asfa pada tamu delegasi yang menolak kerjasama di saat meeting kontrak kerjasama di lakukan.

__ADS_1


Ucap an nya yang aneh adalah sebuah jawaban dimana seorang queen tidak peduli dengan jabatan orang lain selain sebuah kepercayaan dan siap menyingkirkan siapa pun yang tidak mempercayai keputusan nya.


"Apa yang queen inginkan? " tanya tuan besar dengan nada serius dan mengabaikan wajah jelek yang ada di hadapan nya.


__ADS_2