My Secret Life

My Secret Life
Bab 157: Aku kakak macam apa?


__ADS_3

Tangan nenek Ara menggandeng wanita bertopeng, senyuman tulus terbit dari bibirnya. "Relax. Ada saatnya semua di mulai dan kita masih nol. Jangan menyerah, karena seorang Queen tahu cara berjuang."


"Ayo kita kembali ke mansion!" tukas Alvaro dengan hati memanas.


Tentu saja hatinya panas, terlebih melihat dan mendengar betapa neneknya mendukung wanita bertopeng itu. Padahal sudah pasti jika wanita itu bukanlah Asfa adiknya. Nenek Ara hanya mengusap dada, kemarahan Alvaro masih sama. Apalagi jika menyangkut sang adik, jelas sekali mata tidak rela terpancar dari mata cucunya itu. "Ayo, kota bungkam bibir sexy cucu sulungku itu."


Ketiganya meninggalkan tempat konferensi pers, dan sebuah mobil Van telah menunggu di lobi. Semarah apapun Varo, pria itu masih membukakan pintu untuk sang nenek. Wanita bertopeng berniat ikut masuk ke kursi belakang. Tapi tangan Varo mencegahnya masuk. "Duduk depan!"


Tanpa menjawab, wanita bertopeng membuka pintu depan seorang diri. Kini ketiganya sudah masuk kedalam mobil, dan sopir sudah menyalakan mesin. "Pak ke mansion!"


"Baik Nyonya." jawab pak sopir dan mulai melajukan mobilnya.


Di dalam mobil terjadi keheningan, namun aura tegang sangat terasa. Tangan wanita bertopeng masih saja gemetar, membuat Varo semakin kesal. "Apa alasan nenek membawa orang asing? Varo bisa mengambil alih perusahaan tanpa Asfa. Tapi untuk apa orang asing datang? Dan menggantikan posisi my doll.''


"Relax boy! Kemarahanmu bisa nenek pahami, tapi lihatlah dari sudut pandang ku. Dia yang kamu sebut orang asing, adalah bagian keluarga kita. Orang terdekatmu. Bersabarlah, setelah sampai mansion. Lakukan sesukamu." tutur nenek Ara mengsuap lengan Varo.


Rasa panas di hatinya seakan sulit di padamkan, apapun alasan neneknya. Sungguh tidak benar. Posisi adiknya tidak bisa direbut oleh siapapun, karena itu hak Asfa sebagai keturunan Aranda. Nenek Ara tahu, emosi Varo tidak bisa mereda begitu saja. "Nak, bagaimana nenek membawa adikmu. Queen masih menikmati tidurnya, para dokter masih menangani Queen. Dengan adanya perwakilan direktur utama, papamu ingin setelah malam ini. Maka kamu fokus mengobati adikmu terlebih dahulu, dan perusahaan nenek dan wakil direktur utama yang tangani."


"Tapi nek…"


"Percayalah, nenek sudah memutuskan ini setelah berdiskusi dengan papamu. Jangan membantah orang tua, benar kamu diberikan kebebasan. Tapi, terkadang memahami situasi harus bertukar sudut pandang dengan orang didekatmu. Beberapa saran patut didengarkan dan kita pelajari. Bukankah adikmu terlalu banyak memikul tanggungjawab? Atau kamu melupakan fakta itu?" tukas nenek Ara.


Hembusan nafas Alvaro terdengar berat, pejaman mata pria itu sudah pasti untuk menetralisir emosinya. Ucapan sang nenek benar. Bahkan selama ini yang menghindari tanggungjawab adalah dirinya bukan adiknya. "Maaf nek. Aku lupa dan masih egois. Seharusnya, sejak dulu tanggungjawab ada dipundakku. Tapi, seperti yang nenek bilang. Asfa yang melakukan semua tanggungjawab sebagai seorang anak. Pantas saja, aku menjadi kakak yang gagal."

__ADS_1


Plak…


Ucapan Alvaro yang di luar jalur. Spontan, membuat tangan nenek Ara menepuk bahu sang cucu. "Jangan ngawur! Hati-hati kalau bicara, ucapan itu juga doa."


"Semua benar nek. Pasti nenek tahu semuanya tanpa bertemu kami, papa pasti mengatakan perkembangan kami dari waktu ke waktu. Aku bisa hidup bebas, pendidikan seperti keinginanku, pekerjaan pun cita-citaku. Sedangkan Asfa? Boneka ku, terjun ke dunia bisnis. Membuat mafia Phoenix semakin berkembang pesat, belum lagi ikut mengurus perusahaan Luxifer. Kehidupan Asfa tak sebebas hidupku. Semua ini nyata, kenapa nek? Karena aku ingin terbang, dan Asfa memberikan sayap disetiap langkahku. Sekarang, aku ini kakak yang seperti apa?" jelas Alvaro dengan mata berkaca.


Greeeb…..


Pelukan nenek Ara, sukses menjatuhkan pertahanan Alvaro. Air mata terjun tanpa melewati pagar pembatas. "Aku kakak terburuk nek, bagaimana bisa aku sangat egois? Kenapa Asfa masih diam dan tersenyum? Kenapa tidak menamparku dan memarahiku saja! Apa hatinya tidak merasakan lelah? Aku ini kakak macam apa, yang membiarkan adiknya terbelenggu semua tanggungjawab."


"Tenanglah. Bersyukurlah dengan milikmu, nak. Memiliki seorang adik seperti Asfa, jika ingin membantu adikmu. Maka tersenyumlah dan hidup dengan kebahagiaan. Kamu tahu benar dari sudut hatimu, sedingin apapun Asfa. Putri raja kita hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Nenek percaya kalian, tetaplah saling mendukung. Bukankah kamu tahu, apa akibatnya jika seseorang mengganggu jalan hidup Asfa? Bicarakan masalah tanggungjawab setelah Asfa sadar dan sehat. Sekarang kita sama-sama fokus dengan penyembuhannya." tutur nenek Ara dan menepuk-nepuk pundak sang cucu.


"Nenek benar, kita fokus penyembuhan Asfa. Terimakasih nenek ada untuk Varo." ucap Varo melepaskan pelukan.


"Nak masuk! Sampai kapan mau berdiri di samping mobil?" tukas nenek Ara yang menyadari wanita bertopeng masih mematung.


Wanita bertopeng hanya mengangguk dan ikut melangkahkan berjalan memasuki mansion. Alvaro dan nenek Ara sudah berada didepan dengan jarak lima meter. Seakan mengetahui ketiganya kembali lebih awal, tuan Luxifer sudah duduk di ruang utama yaitu ruang tamu dan menyambut ketiganya dengan beberapa jus dan hidangan makan malam.


Melihat keberadaan sang papa, membuat Alvaro menghampiri pria yang selalu memberikan segalanya tanpa diminta. "Malam dad. Bagaimana keadaan doll?"


"Duduk! Adikmu baik, sekarang kita makan malam dulu!" titah tuan Luxifer dan mulai mengambil satu piring, mengisi piring itu dengan nasi merah.


"Segini cukup?" tanya tuan Luxifer menatap putranya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri dad…."


Kode tangan dari tuan Luxifer menghentikan ucapan protes Alvaro, artinya malam ini menjadi malam sang papa. Siapapun yang siap melayani anggota keluarga, maka memiliki hal penting untuk di diskusikan. Seperti sebuah tradisi, cara ini adalah kebiasaan yang diajarkan tuan Luxifer. Dimana sesuatu yang sulit, bisa dimulai dari hal kecil. Seperti kode rahasia yang bisa dipecahkan, ketika langkah demi langkahnya tepat dan benar.


Nenek Ara memberikan isyarat agar wanita bertopeng ikut duduk di sampingnya dan duduk berhadapan dengan sang menantu dan sang cucu. Dengan telaten Tuan Luxifer mengambilkan satu porsi makan sesuai takaran masing-masing. Setelah Alvaro dan ibu mertua, kini beralih ke wanita bertopeng. "Buka topeng mu nak. Ini rumahmu, dan aku mencabut puasa bicara mu. Sekarang, ayo makan."


Ucapan sang papa, membuat Alvaro berfikir. Satu alisnya terangkat, terlebih ketika wanita bertopeng membuka topengnya. Mata Alvaro sukses melotot, bisa-bisanya semua terjadi tanpa sepengetahuannya. "Kamu…"


...~~~~~...


Readers, othoor gak akan berhenti ingetin kalian.


*Stop boom like okay!*


Apa karya kami sangat buruk? Othoor cuma mau kalian paham, jika boom like menurunkan performa karya para penulis.


Para penulis menuangkan imaginasi mereka bukan hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan fikiran!


Skip aja kalau gak mau baca, itu lebih kami hargai!


Maaf ya reader's yang setia dan benar-benar membaca karyaku. Maybe, kalian ke ganggu dengan ungkapan hati ku. Tapi jujur saja, aku tidak tahu lagi gimana ingetin sesama penulis dan reader's.


Semoga keluhan para penulis tersampaikan dengan cara ini, apakah kalian tahu? Buluku pun meremang setiap kali menulis novel, terlebih dengan hal sensitif lainnya.

__ADS_1


__ADS_2