My Secret Life

My Secret Life
Bab 123: Rasa sesak


__ADS_3

Seakan mimpi menjadi kenyataan, tapi apakah itu mimpi buruk atau mimpi manis hanya Rania yang tahu. Sedangkan bunda Anya langsung bergegas melakukan pekerjaannya dan mempersilahkan para saksi pernikahan untuk memakan jamuan makan yang telah tersedia.


"Aku kecewa dengan mu! Kamu membuat ku seperti sampah, setelah sekian lama kita bersama."


Wuuussss... Praaank...


Kamar yang berantakan seperti diterjang angin ribut, bukan hanya pecahan gucci dan kaca tapi tetesan warna merah juga tercecer dimana-mana. Pemandangan yang jelas, menggambarkan suasana patah hati sang penghuni kamar, kesadarannya masih tetap bertahan meskipun darahnya sudah keluar banyak.


Ceklek..


"Dira! Are you CRAZY!" seru Leon yang baru memasuki kamar tamu mansion dan berlari terburu-buru ketika netra matanya menangkap sosok wanita dengan rambut acak-acakan duduk di sudut ruangan dengan sepotong pecahan kaca digenggaman tangannya.


Tanpa memperdulikan kamar yang sangat kacau, Leon memeluk tubuh Andira dengan erat sembari mengusap punggung sahabatnya. Leon tahu betapa Andira mencintai Alvaro, tapi sejauh ini Alvaro tidak pernah memberikan harapan palsu ataupun bersikap romantis kecuali membiarkan Andira bergelayutan manja dan selalu mengekor di belakangnya.


"Ikhlas kan Aal bersama istrinya, kamu cantik dan baik hati. Andira yang kukenal tidak selemah ini, ayolah Andira kamu kuat. Kamu pasti bisa." bisik Leon dengan lembut.


Ada sesak di hatinya namun rasa sesak itu tak sesakit rasa sesak di hati Andira, selama bertahun-tahun Andira mencintai Alvaro. Tapi jodoh berkata lain, tiba-tiba saja pengumuman pernikahan Alvaro tersebar di seluruh mansion hanya dalam waktu singkat.


Memang semua team Alvaro membiarkan Andira untuk tetap di kamar, agar hatinya tidak semakin sakit namun melihat kondisi terpuruk Andira sungguh menusuk hatinya. Bayangan persahabatan yang erat akan hancur sudah di depan mata, bahkan rasa cintanya untuk Asfa tak membuat rasa sakit dihatinya berkurang.


"Bawa aku pergi dari sini! Atau aku akan menghancurkannya." Andira berusaha berbicara meskipun kesadarannya semakin menipis dan berakhir dalam kegelapan.


"Dira! Bangun!" Leon berusaha menyadarkan Andira yang terkulai lemas dalam pelukannya.


Dengan sigap Leon menggendong Andira dan membaringkan tubuh lemah sahabatnya itu di atas tempat tidur, kepanikan Leon seakan melupakan segalanya. Bahkan Leon tidak mempedulikan ketika banyak pecahan kaca yang menusuk di bawah sepatunya.


"Tunggulah! Aku akan mencari bantuan." gumam Leon berlari keluar kamar tamu dan mencari anggota team lainnya.

__ADS_1


Asfa yang melihat kepanikan di wajah Leon, langsung bergegas menuju ke kamar tamu dimana pria keturunan Inggris itu keluar. Kamar berantakan dengan aroma anyir menyerbu memasuki hidungnya.


Apa selemah itu kamu? Bagaimana kamu bermimpi menjadi istri ka Abhi, jika mental mu saja serendah ini. ~ batin Asfa dan tetap memeriksa keadaan Andira.


"Jika cinta mu hanyalah obsesi, lepaskanlah. Obsesi tidak akan membawa kebahagiaan." ucap Asfa dan mulai membersihkan luka di pergelangan tangan kiri Andira.


Luka goresan yang cukup dalam namun tak membahayakan, meskipun begitu darah sudah berceceran. Tetap saja Andira dalam keadaan baik, hanya saja tidak dengan kejiwaan wanita itu.


Sepuluh menit kemudian...


"Ayo cepat obati Dira! Aku tidak sanggup melihat kondisinya." ucap Leon dengan bergegas membukakan pintu untuk Gabriella.


Ceklek..


"Queen!" gumam Ella begitu melihat sosok gadis bergaun merah tengah membersihkan kamar dengan alat-alat pembersih.


"Kenapa anda disini! Bukankah semua ini terjadi karena duke anda!" cecar Leon yang mendengar gumaman Ella.


"Keluar! Kami sanggup mengobati sahabat kami." seru Leon karena terabaikan dan berhasil menghentikan aktifitas Asfa sedangkan Ella hampir pingsan dengan nada tinggi Leon yang tak terkontrol amarahnya.


Tak.. tak.. tak..


Langkah kaki Asfa penuh tekanan, aura dingin mulai menyebar membungkus oksigen tanpa sisa. Tidak ada senyuman ataupun wajah polos lagi, mata biru itu siap menenggelamkan lawan.


"Ella ganti pakaian Andira!" perintah Asfa dan membuat Gabriella mengerjapkan mata dan langsung melangkahkan kaki memasuki kamar berganti tempat dengan Asfa.


"Cinta mana yang menusukmu? Cinta di hati mu atau Cinta dihati Andira? Jujurlah!" tukas Asfa di depan Abhi dengan jelas namun volume nada rendah penuh tekanan.

__ADS_1


Bulu kuduk Leon meremang dengan ucapan Asfa yang sangat menghujam jantungnya, kesadarannya kembali. Ingatannya menyesalkan atas ucapan tak berakhlaq dari bibirnya, matanya tak sanggup menatap dalamnya mata biru pemilik tahta di hatinya. Mata biru itu bukan hanya siap menguliti hati nya tapi membunuh cinta dihatinya, sungguh sesal di hatinya tak berujung.


"Maafkan aku, bukan.."


"Berhati-hatilah saat berbicara Le, apa kamu tahu jika Queen sudah mengobati semua luka Andira." cetus Ella dan membuat wajah Leon yang menunduk terangkat kembali.


Tidak ada lagi Asfa di depannya, ntah kapan perginya gadis yang menjadi pujaan hatinya itu. Tapi ucapan Ella sungguh semakin menghujam jantungnya dengan rasa bersalah, bagaimana bisa bibirnya melontarkan kata-kata tak berhati pada gadis berhati.


Penyesalan Leon seakan tak memiliki ujung namun berbeda dengan keadaan di dalam kamar pribadi Alvaro, dimana kini Alvaro tengah menatap gadis remaja yang menjadi istri dadakannya. Tidak ada yang salah dengan istrinya tapi hanya terlalu muda, didalam fikirannya seperti sugar daddy saja.


"Apa masih pusing?" tanya Alvaro dengan nada dinginnya.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Alvaro lagi.


"Apa kamu bisu! Hanya menggelengkan kepala dan mengangguk. Bicaralah!" sindir Alvaro gemas dengan reaksi istrinya yang seperti boneka biksu saja.


"Maaf paman, aku.." cicit Rania dengan meremas gaunnya.


"Aku suamimu! Bukan pamanmu." bantah Alvaro dengan cepat membuat Rania semakin gugup dan bergetar lagi.


"Apa ini caramu? Dia ISTRI MU bukan samsak mu!" tegur seseorang dengan nada lebih dingin.


Rania dan Alvaro serempak mengalihkan pandangan ke arah suara lain yang tiba-tiba me nimbrung percakapan awal mereka, orang yang berdiri bersandar di pintu dengan kedua tangan bersedekap, mampu membuat Alvaro tersenyum nakal tapi tidak dengan Rania yang justru semakin gugup.


"Ini tiket bulan madu kalian. Gunakan saja heli pribadi!" ucapnya dengan melangkahkan kaki menuju sofa tempat Alvaro dan Rania berbincang.


Dua lembar tiket ke sebuah pulau tergeletak di atas meja kaca, sepertinya tiket itu sudah disiapkan sebelum waktunya. Terlihat dari tanggal pemesanannya, Alvaro hanya melirik Rania seakan ingin tahu apa keinginan gadis labil itu.

__ADS_1


"Berhenti melirik Rania dengan mata tajam mu! Jangan buat Skot jantung terlalu banyak dalam satu waktu."


"Ingat, hanya satu minggu liburan kalian. Setelah itu pekerjaan menanti kalian!"


__ADS_2