
Waktu siang berganti malam, terlihat seorang pria tengah melakukan persiapan untuk pengobatan setelah melakukan pemeriksaan beberapa jam lalu terhadap pasien nya. Ada seorang wanita dengan jas putih yang kini menjadi assisten nya dan itu atas perintah adik kesayangannya, karena adiknya akan menjalankan perawatan dengan cara nya sendiri.
Terlihat wanita itu seakan baru melihat peralatan yang ada di depannya, memang peralatan yang ada di dalam ruangan itu adalah penemuan kakak beradik bukan ilmuwan ataupun perusahaan lain. Tanpa di sadari saking antusias melihat hal-hal baru justru pergerakannya menyenggol banyak alat yang membuat beberapa alat berubah posisi dan beberapa tabung terjatuh menjadi pecahan di lantai.
Pyaaar.... pyaaar...
Melihat hal itu membuat pria yang baru saja selesai mempersiapkan kebutuhan untuk pasien nya itu kini harus merasakan aliran panas di dalam darah nya, hal yang paling tidak di sukai nya adalah kecerobohan seseorang. Bagi nya semua harus sempurna tidak boleh ada cacat apalagi kecerobohan yang bisa dihindari oleh siapapun dengan sikap waspada, dan wanita itu melanggar prinsip seorang docter perfeksionis seperti dirinya.
"Stop! Keluar! " sentak seorang pria yang menahan kekesalannya karena tingkah seorang wanita yang seakan baru pertama kali bergulat dengan alat-alat canggih di depannya.
"Tapi... " ucap wanita itu menahan cairan bening di sudut mata nya.
"KELUAR! " seru pria itu sekali lagi dan kali ini tangannya terulur menunjuk ke arah pintu.
"Hiks.. hiks.. hiks... "
Isak tangis wanita itu akhirnya terdengar dengan langkah kaki nya membuka pintu, satu wajah bingung muncul dari balik pintu melihat wajah wanita dengan jas putih yang meninggalkan ruangan dengan langkah seribu. Ditutup nya kembali pintu tanpa sedikit suara di buatnya, pria yang kini sibuk mengomel dengan memeriksa alat-alat di depannya itu masih tidak menyadari kehadirannya.
"Ekhem." satu suara deheman untuk menghentikan omelan yang terdengar seperti kumuran orang.
"Apa kau tuli hah! Aku bilang KELUAR! Sampai... " ucap pria itu sembari berbalik badan dan kini ucapannya tak terselesaikan melihat wajah dengan alis terangkat di depannya.
"My doll, sejak kapan kamu disitu? " tanya pria itu dengan lembut meskipun wajah kesal nya masih terlihat jelas.
"Calm down. What happen? (Tenang. Apa yang terjadi?) " ucap Asfa mendekati kakaknya.
"Bisakah kembalikan saja wanita ceroboh itu ke habitatnya? Aku sudah cukup bekerja dengan mu my doll." pinta Alvaro dengan menghela nafas.
"No. Setiap orang akan selalu mengajari kita hal baru, jangan seperti ini ka. Beri dokter Bia satu kesempatan untuk membuktikan dirinya layak menjadi assisten mu, setidaknya demi diriku." ucap Asfa sembari menunduk memungut serpihan kaca yang berasal dari tabung.
"Lepaskan ini, kakak tidak mau kamu terluka." cegah Alvaro sembari mengajak adik nya menjauh dari kekacauan itu.
"Aku akan selalu aman selama kakak ada bersama ku, aku masih menunggu tentang nya ka." ucap Asfa dengan serius.
"Tidak bisakah biarkan kakak saja yang menghadapi nya? Kakak mohon." bujuk Alvaro dengan memelas di depan adiknya.
Hanya gelengan kepala yang di dapat sebagai jawaban, maka dengan terpaksa dirinya harus mengatakan segalanya pada wanita satu-satunya di dalam keluarga nya itu. Dengan berat hati dan hembusan nafas yang terdengar begitu berat, terlihat kata-kata masih di rangkai di dalam otaknya untuk di utarakan dengan sebaik-baiknya.
"Tuan Andara Mateo, pemilik perusahaan Elang Sebastian. Seorang pria yang tamak akan kekuasaan membuat nya menghanguskan kebahagiaan mantan istri nya, dengan puing-puing yang tersisa terdengar jelas tawa itu. Tawa yang membuat darahku mendidih dan tak sudi memanggilnya sebagai sumber darahku sendiri, perusahaan yang pernah menghilang kini telah bangkit lagi ntah karena apa tapi kebangkitan nya seakan menerbangkan sayap permusuhan yang telah lama mati. Bukan hanya kita yang mendapatkan ancaman tapi perusahaan lain pun juga mendapatkan nya, hanya saja dia tidak tahu jika perusahaan mu adalah perusahaan musuh lamanya. Jadi untuk saat ini dia tidak tahu tentang kita, sejak kelahiran mu yang di anggap sudah tiada maka sejak saat itu dunia menghapus nama putri dari Naura Az Zahra." ucap Alvaro panjang kali lebar dengan menatap adiknya yang hanya memasang wajah datar.
"Jangan tunjukkan kelebihan mu, ingat ini Queen Asfa Luxifer. Papa sudah melakukan segala nya untuk melindungi keluarga kita setelah kebakaran yang mengorbankan adik papa sendiri." ucap Alvaro lagi dengan sebuah peringatan.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa diam ka? Bukan hanya makam mama yang tidak bisa ku kunjungi tapi satu bukti keberadaan keluar kita pun ikut lenyap dengan debu yang luluh lantak bersama hembusan angin. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan diam selama dia tidak menyentuh MILIK Ku." ucap Asfa dengan mata terpejam.
"Kakak ada untukmu dan papa ada untuk kita, selalu ingat itu. Tidak seorang pun akan menerima jika salah satu diantara kita terluka, kita akan saling melindungi dengan jiwa dan raga. Kakak mencintai mu boneka ku, kamu lah pelita istana keluarga kecil kita." ucap Alvaro memeluk adiknya.
"Aku bersyukur Tuhan memberkati ku dengan keluarga seperti kakak dan papa." jawab Asfa menenggelamkan wajahnya di dada bidang kakaknya.
Tok.. tok.. tok...
"Non makan malam sudah siap, yang lain sudah menunggu." ucap seseorang dari balik pintu.
"Kami akan segera turun." jawab Alvaro yang masih setia memeluk adiknya.
"Berikan dokter Bia kesempatan ka, mulai malam ini aku akan bersama mas Abhi. Kakak bisa istirahat di kamar ku, jangan di kamar suram tanpa diriku." ucap Asfa melepaskan pelukan.
"Baiklah queen, mari semua sudah menunggu." ajak Alvaro dengan gaya mempersilahkan seorang tuan putri untuk berjalan terlebih dahulu.
Hanya sebuah senyuman sebagai bayaran dari adiknya, senyuman manis yang akan selalu di jaga olehnya. Terlihat dari arah tangga suasana ruang makan yang kini mendadak menjadi memiliki penghuni lebih, bukan hanya keluarga Bagaskara tapi penghuni baru lainnya juga ikut makan malam bersama.
Kedatangan queen membuat para bodyguard dan pelayan yang berjaga di setiap pintu membungkukkan setengah badan sesaat dan kembali berdiri siaga, melihat perubahan itu seketika membuat penghuni meja makan melihat kearah tangga. Terlihat seorang gadis dengan pakaian fashionable menuruni tangga bersama seorang pria tampan dengan rambut acak-acakan, jika di pandang terlihat seperti pasangan serasi membuat siapapun akan iri terhadap kedua makhluk indah itu.
"Selamat malam semua, maaf menunggu." sapa Asfa dengan senyuman samar.
"Tidak apa-apa nak. Malam dok." jawab bunda Aliya dengan senyuman terlihat wanita paruh baya itu masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru nya.
"Tidak nak, papa hanya... " jawab papa Mahardika sungkan.
"Ayo tuan, queen benar. Orang tua harus di hormati sebagaimana mestinya. Silahkan." potong Alvaro sembari membantu tuan Mahardika berpindah tempat.
"Silahkan nikmati makan malam nya." ucap Asfa dan melangkah meninggalkan meja makan.
Melihat bunda Anya yang sudah membawa satu meja saji untuk di bawa ke kamar Abhi, membuat dirinya menghampiri wanita itu. Tanpa satu kata terucap, bunda Anya memahami apa yang akan di lakukan nona mudanya. Diberikan nya meja saji dorongan itu kepada nona muda nya, tidak ada yang mengeluh ataupun berkomentar melihat tuan rumah meninggalkan meja makan karena di depan mata semua orang terlihat jelas kemana gadis itu akan pergi.
Setelah menutup pintu kamar, di dekatkan meja saji itu di sebelah kanan tempat tidur dimana seorang pria tengah duduk bersandar dengan diam tanpa satu patah kata pun. Terlihat ada earphones yang menempel di telinga nya, di atas meja ada satu benda pipih.
"Waktu nya makan." ucap Asfa dengan pelan menyentuh pundak pria itu agar tidak terkejut.
Diambil earphones di telinga itu, dengan cekatan tangan nya membuka menu makanan khusus untuk suami nya yang sudah di pesan oleh nya. Dengan memastikan makanan tidak panas, perlahan tangan itu mendekati pria yang kini harus merasakan gelapnya dunia.
"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan menutupi bibirnya.
"Satu jawaban untuk satu suapan." ucap Asfa dengan santai.
__ADS_1
"Aku Asfa." jawab Asfa menyingkirkan tangan Abhi yang ada di mulut dan menyuapi pria itu satu suapan.
"Siapa aku bagimu?" tanya Abhi.
"Aku adalah mata." jawab Asfa.
Satu suapan lolos dengan damai.
"Apa maksudnya? Kenapa kamu tidak menjawab kamu adalah istri ku? " tanya Abhi dengan nada sedikit naik.
"Terkadang sebuah ucapan tidak bisa di pertanggungjawabkan, rasakan ketulusan seseorang dari hati mu bukan dari ucapan bibir." jawab Asfa sembari memberikan satu suapan lagi.
"Kemana saja kamu? Sejak aku kembali kenapa baru sekarang kamu ada untukku? " tanya Abhi.
"Aku ada tanpa kau minta." jawab Asfa dengan satu suapan lagi.
"Kenapa kamu kembali jika sudah memutuskan untuk pergi? " tanya Abhi.
"Jauhkan fikiran bodoh mu!" ucap Asfa memberikan suapan terakhir.
"Minum obat ini, setelah ini kita akan melakukan terapi." ucap Asfa memberikan dua kapsul di telapak tangan Abhi.
Terlihat pria itu tetap menuruti permintaan istrinya meskipun wajahnya terlihat datar dan dingin namun itu tidak membuat seorang Asfa gentar, di singkirkan nya meja saji itu untuk menjauh dari sisi samping tempat tidur. Setelah membantu membaringkan tubuh kekar suaminya, terlihat satu tangannya meraih sebuah benda di dalam laci lemari samping tempat tidur.
Nyuuuut... Nyuuuut...
Terasa ada yang linu dengan sentuhan benda tumpul ntah apa di telapak kakinya, apapun yang di lakukan oleh Asfa mendapatkan reaksi dari tubuh lumpuhnya. Tidak ada suara jeritan karena itu hanya pemeriksaan syaraf, hingga terasa jemari dingin nan lembut mulai menyentuh telapak kaki nya.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan sentuh kaki ku." cegah Abhi namun tidak bisa menyingkirkan tangan lembut nan dingin itu karena kondisi nya.
"Dengarkan music dan tenangkan dirimu, atau berteriak lah sesuka mu jika merasakan sakit." ucap Asfa sebelum menutup telinga Abhi dengan earphones dan memutarkan music sedikit kencang.
Pijatan lembut semakin menyapa syaraf yang tengah terlelap, menit pertama tidak ada keluhan selain keheningan hingga semakin lama terlihat wajah pria itu meringis menahan sesuatu. Beberapa penekanan pada titik syaraf mampu membuat pria itu berteriak kecil yah itu pasti anggapan nya tapi tidak bagi Asfa yang mendengar nya karena teriakan Abhi bisa membuat semua penghuni mansion bertamu ke kamar itu dengan wajah panik, untung saja sebelum memulai terapi kamar itu sudah dalam mode kedap suara.
"Cepatlah sembuh, atau aku akan ambil perusahaan mu sebagai ganti ruginya." batin Asfa setelah selesai melakukan terapi selama satu jam setengah membuat Abhi terlelap dengan wajah kesal namun tenang.
Sedangkan di belahan negara lain, sebuah rapat akbar tengah dipersiapkan dengan banyaknya para pelayan yang mondar mandir di sebuah hotel berbintang. Rapat akbar akan di adakan dua hari lagi namun persiapan hampir mencapai sembilan puluh persen, membuat decak kagum para pengunjung hotel yang masih menginap di hotel itu.
Sebuah rombongan baru saja memasuki hotel tanpa membawa satu koper pun selain pakaian yang mereka kenakan, terlihat satu pria berjalan paling depan dengan topeng hitam di wajahnya. Tanpa basa-basi di sodorkannya sebuah kartu nama di depan seorang resepsionis, dengan menunduk menyerahkan satu kunci Gold Card dan empat Blue Card kepada pria bertopeng.
"Istirahat lah kalian." perintah pria bertopeng itu menyerahkan ke empat kunci pada ke empat pria di belakang nya.
__ADS_1
Satu kunci di masukkan ke dalam dompetnya dengan kartu nama nya yang sudah tak di butuhkan, melihat kepergian ke empat pria bawahannya itu. Kini langkah kaki nya meninggalkan hotel berbintang itu dan di lobi sudah ada sebuah mobil sport yang menunggu kedatangannya, tanpa mengetuk pintu mobil itu terbuka dan dengan cepat tertutup kembali setelah pria bertopeng memasuki nya.
"Semua sudah siap tuan." lapor sang pengemudi dan menyalakan mesin mobil, meninggalkan hotel berbintang menuju ke sebuah tempat.