My Secret Life

My Secret Life
Bab 51: Tindakan tegas queen


__ADS_3

Bip..Bip... (satu suara notifikasi terdengar lirih)


[Dimana pangeranku? Dia milikku, sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku.]


Sebuah pesan dengan nomer baru, di biarkan nya tanpa membalas setelah pesan itu terbuka. Mata nya kini tertuju pada pria yang tengah menikmati waktu bersantai tanpa tekanan pekerjaan apapun tapi tidak dengan jiwanya yang mungkin mengalami tekanan akibat keadaannya yang buta dan lumpuh.


"Bisa kita bicara serius?" tanya Asfa dengan duduk di samping Abhi.


"Katakan saja, aku sudah terbiasa mendengarkan perintah mu." jawab Abhi dengan serius.


"Apakah setelah melihat lagi, kamu akan kembali ke perusahaan? " tanya Asfa yang mata nya memandang pria kekar disamping nya.


"Selama keadaanku masih lumpuh mungkin aku tidak akan ke perusahaan, tapi aku akan segera bekerja lagi setelah sembuh." jawab Abhi dengan wajah pasrah yang terlihat sangat sendu.


"Apa ada yang harus perusahaan capai, em seperti target tahun ini? " tanya Asfa.


"Kamu benar, beberapa bulan lagi akan di adakan meeting dengan tamu delegasi asing. Ku harap sebelum hari itu tiba keadaan ku sudah seperti semula." jawab Abhi.


"Sudahlah, tenangkan fikiranmu dan istirahat lah." ucap Asfa dengan membantu Abhi berbaring.


"Mau pergi kemana kamu?" tanya Abhi yang merasakan pergerakan istri nya turun dari tempat tidur.


"Tidurlah, aku ingin menemui papa dan bunda sebentar." jawab Asfa menyelimuti Abhi.


"Baiklah, cepatlah kembali." ucap Abhi.


"Hmm." jawab Asfa meninggalkan kamar suaminya.


Memang sejak kemarin malam membuat Abhi bergantung pada nya, apapun itu menjadi tanggung jawab Asfa. Bahkan ritual mandi pun harus di lakukan oleh Asfa tanpa bantuan orang lain, yah melihat tubuh polos suaminya bukan lagi hal tabu untuk nya namun bukan berarti dirinya berfikiran mesum.


Berjalan menggunakan tangga tanpa alas kaki adalah kebiasaan nya, langkah tanpa suara adalah favorit nya sejak kecil. Bagi nya kebiasaan sederhana itu bisa membuat nya bebas berkeliaran di dalam tempat tinggalnya, tujuan nya kali ini adalah kamar nya sendiri.


Setelah memasukkan password dan code retina mata nya, pintu kamar nya terbuka, kamar dengan harum segar buah-buahan. Kamar nya selalu rapi dan bersih membuat siapapun betah untuk berdiam diri di kamar itu, belum pintu tertutup sudah ada yang menahan pergerakan pintu.


"Bisa kita bicara nak? " tanya seseorang yang langsung melepaskan tangan nya di pintu.


"Kali ini ku maafkan, tapi jangan anda ulangi." ucap Asfa melihat sosok yang ada di balik pintu.

__ADS_1


"Bunda siapkan minuman kesukaan ku dan satu cangkir kopi hitam, antarkan ke kamar." ucap Asfa dengan satu tekan earphones di telinga nya.


"Masuk." perintah Asfa dengan wajah dingin.


Tidak peduli seberapa umur yang mengganggu waktu nya saat ini, tapi di mata nya tindakan orang yang kini berdiri didalam kamarnya sudah tidak bisa di toleransi. Dengan lancang nya tangan orang itu menahan pintu kamar nya, bukankah bisa mengetuk pintu daripada bertindak seperti tidak tahu sopan santun.


Tok.. tok.. tok..


Prook... prook..


Dua tepukan tangan membuat pintu kamar nya kembali terbuka dan kepala pelayan dengan pakaian tomboy memasuki kamar setelah mendapatkan isyarat dari queen nya, di letakkan nya satu nampan di atas meja kaca. Bahkan kehadiran seorang pria lanjut usia tidak membuat wanita itu mengalihkan pandangan, seakan di dalam kamar itu hanya ada queen nya saja.


"Bunda, siapkan ruang latihan ku." perintah Asfa.


"Siap queen." jawab bunda Anya keluar dari kamar.


Dengan aura intimidasi yang membuat pria berdiri itu menjadi salah tingkah, dengan duduk di sebuah sofa single terlihat jelas gaya seorang pembisnis di dalam jiwa gadis itu.


"Duduk pa, katakan? " ucap Asfa dingin.


"Maaf atas kelancangan ku tadi, tapi.." ucap papa Mahardika berhenti.


"Tapi bisakah kami kembali ke kediaman Bagaskara? " ucap papa Mahardika dengan satu helaan nafas lega.


"Decision in your hands.(Keputusan di tangan mu.) " jawab Asfa menikmati jus alpukat yang manis tanpa gula.


"Kamu tidak marah nak?" tanya papa Mahardika sedikit lega.


"Amarah adalah sisi iblisku." jawab Asfa to the Poin.


"Apa maksudmu nak? " tanya papa Mahardika bingung.


"Minumlah kopi nya pa, lakukan yang terbaik untuk keluarga papa. Tapi mas Abhi akan tetap bersamaku." jawab Asfa dan meletakkan gelas jus yang sudah tak tersisa satu tetes pun.


"Tapi nak." bantah papa Mahardika.


"Operasi mata akan di lakukan beberapa jam lagi dan terapi syaraf masih berlangsung, fikirkan baik-baik. Sekali papa membawa mas Abhi keluar dari mansion ini, tanggung jawab ku berakhir." peringatan Asfa dengan mendekati meja kerja nya.

__ADS_1


Sebuah map yang terlihat tidak asing di ambilnya dan kembali ke tempat papa mertua nya , di letakkan nya map itu di hadapan papa mertua nya. Melihat tidak ada reaksi selain tatapan bingung membuat gadis itu menghela nafas, di buka nya map yang menjadi awal perpindahan keluarga Bagaskara ke dalam mansion.


"Klausul pertama, kalian telah setuju menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepada Queen."


"Klausul kedua, kalian telah setuju mengikuti seluruh aturan yang ada di dalam lingkaran seorang queen."


"Klausul ketiga, kalian telah setuju berpindah tempat tinggal selama waktu yang di tidak di tentukan."


"Klausul keempat, kalian menyerahkan tanggung jawab pengobatan putra kalian kepada queen."


"Klausul terakhir, semua klausul akan di anggap tidak berarti jika kalian melanggar satu ketentuan dari peraturan tertulis maupun tidak tertulis."


"Ambillah dan fikirkan baik-baik." ucap Asfa menyodorkan map kerjasama itu.


Hening dan terlihat papa mertua nya berfikir seperti menimbang baik dan buruk hingga sepuluh menit terdiam akhirnya ada sebuah pergerakan, tangannya menyodorkan kembali map ke arah Asfa.


"Demi kesembuhan putra ku, aku akan tetap disini. Tapi bisakah jelaskan alasan mu menahan kami disini? " ucap papa Mahardika dengan memandang menantu nya.


"Istirahat lah." jawab Asfa bangun dari duduk nya meletakkan map kembali ke meja kerja nya.


Prook.. prook..


Dua tepukan tangan membuat pintu terbuka kembali menandakan tamu nya harus keluar dari kamar tanpa pengusiran, memahami pengusiran secara halus membuat pria lanjut usia itu melangkahkan kaki nya meninggalkan kamar menantu nya dengan pertanyaan dan kecewa. Tapi tidak dengan Asfa yang masih dalam mode dingin, di ambilnya pakaian olahraga yang akan membentuk tubuhnya dan segera berganti di dalam kamar mandi.


Penampilan baru dengan pakaian yang cukup menggoda dengan rambut terikat asal, langkah nya meninggalkan kamar pribadi nya menuju lantai bawah dimana ada satu ruangan yang akan memanjakan seluruh raga dan jiwa nya. Para bodyguard dan pelayan yang melihat queen mereka lewat membungkuk hormat tanpa satu kata pun, pandangan mereka tetap dijaga meskipun di suguhi pemandangan queen mereka yang sexy.


"Queen? " panggil seorang wanita yang sudah berdiri di ring tinju.


"Come party, i need relax.(Ayo berpesta, aku butuh santai.) " ucap Asfa dan menyodorkan tangannya untuk dipakaikan sarung tangan tinjunya.


"Ada apa nak? Sudah lama bunda tidak melihat mata mu tenggelam seperti ini." tanya bunda Anya mengelus kepala nona muda nya.


"All fine. It's okay bunda.(Semua baik-baik saja. Tidak apa-apa bunda.)" jawab Asfa tersenyum.


Kedua nya bersiap untuk melakukan pertandingan tinju namun sebuah suara menghentikan keduanya yang langsung berbalik menatap pintu kaca yang menjadi pintu masuk, terlihat seorang pria dengan rambut acak-acakan sudah berdiri dan lihatlah pakaiannya yang akan membuat kaum hawa meneteskan air liur. Celana training ketat dengan kaos singlet warna hitam tipis itu, memperlihatkan delapan roti sobek yang terbentuk sempurna bahkan bunda Anya terlihat mengagumi sosok pria nan menggoda itu.


"Pergilah! Aku sendiri yang akan berlatih dengan queen." ucap pria itu setelah berdiri di hadapan dua wanita.

__ADS_1


Terlihat bunda Anya masih travelling ntah kemana membuat Asfa menggelengkan kepala nya, dengan menepuk bahu bunda Anya dan mengembalikan kesadaran wanita nyentrik itu. Satu isyarat membuat bunda Anya meninggalkan ruangan latihan dengan tidak ikhlas, sedangkan pria yang di lirik hanya sibuk memakai sarung tinju yang ada di tempat penyimpanan alat olahraga.


__ADS_2