My Secret Life

My Secret Life
Bab 193: Kegilaan sang Sugar Daddy


__ADS_3

Pria itu menelisik tatapan mata wanitanya dengan mencengkram dagu lancip sang wanita. "Jangan main-main denganku! Selama ini, semua kuberikan tanpa perhitungan. Sekali saja, aku tahu kamu bermain. Akan kupastikan hidupmu lebih panas dari neraka."


Glek....


"Dad, sakit..." rintih sang wanita dengan menahan tangan kanan sugar daddynya.


Pipi memerah dengan mata berlinang, membuat pria itu melepaskan cengkraman dari dagu wanitanya. Tidak sampai disitu, setelah memberikan tekanan justru mendorong tubuh si wanita hingga terjerembab ke lantai yang dingin.


Bruug....


Tidak ada teriakan dari bibir wanita itu, membuat sang pria turun dari ranjang dan menarik rambut wanitanya dengan kencang. Wajah keduanya berhadapan, kebengisan jelas nampak dari wajah pria itu.


"Katakan!" seru pria itu semakin menarik rambut wanitanya.


"Dad, aku tidak berbohong...."


Plaak!


Sentuhan keras dengan stempel jari melekat di pipi kiri, membuat cairan kental keluar dari sudut bibir wanita itu. Rasa takutnya semakin tak tertahankan. Ingin mengeluh dan memaki, tapi bibirnya terkunci rapat. Hidup dan mati, bahkan nafas pun sudah menjadi milik sang sugar daddy. Rintihan isak tangis dengan bibir menyatu menahan diri agar tetap aman dari siksaan neraka dunia.


Melihat tidak ada perubahan, membuat pria itu melepaskan tangannya dan berdiri dengan posisi tegak lalu melebarkan kedua kakinya. "Lakukan!"


Satu perintah terdengar menyentak kesadarannya. Di depan matanya terdapat terong hidup dengan ukuran sedang. Tanpa menjawab, tubuh polos dengan penampilan kacau bangun dan berlutut dengan mata setengah sembab. Bibir yang terluka mulai memainkan terong sedang milik sugar daddynya dengan nikmat surga bagi kaum adam. Mengulum terong itu seperti mengulum permen lolipop.

__ADS_1


"Hurry honey!" Sang pria tak ragu kembali menarik rambut wanitanya dan membantu mempercepat ritme sentuhan manja.


Kegilaan dari pria itu, tak pernah lekang oleh waktu. Baginya surga dunia harus direbut bukan dicari. Tanpa disadari oleh wanitanya. Jika selama berbulan-bulan, wanita muda dengan ambisi itu hanya menjadi bahan pelampiasan saja.


"@aaahhh,.. Iska..." gumam sang pria dengan menahan nafas menikmati sentuhan yang menghilangkan tekanan di dalam kepalanya.


Selama setengah jam, wanita itu berusaha menyenangkan sugar daddynya dengan memberikan pijatan pada terong yang kini sudah lemas tak berdaya. Pria itu nampak puas dengan service kali ini, lalu meninggalkan dirinya untuk menjemput alam mimpi. Dengkuran keras menggantikan suara erotis sebelumnya.


Tangan gemetar dengan bibir bengkak, membuat wanita tanpa busana berjalan limbung mendekati kamar mandi. Langkahnya terseret tanpa suara, dan memasuki kamar mandi. Tanpa mengunci pintu, shower dinyalakan dan tubuh penuh tanda kepemilikan itu tersiram air dingin dari atas sana.


"Aaarrrgggh....."


"Aku tak tahan lagi dengan kegilaan daddy Mahen, kenapa bukan Abhi yang tergila-gila denganku? Kenapa?"


Rasa ingin memiliki semakin besar, semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir adalah cara terakhir untuk tetap dekat disisi sang pujaan hati. Pertarungan batin dan pikiran tak pernah usai. Satu sisi adalah kebutuhan dan satu sisi lagi adalah impian. Bersama Mahendra menjadi pintu masuk dirinya untuk lebih dekat dengan Abhi.


Sementara pria bermata biru itu tak sekalipun mau menatapnya sebagai wanita. Sikap baik, manis dan sopan pun sudah ditunjukkan. Belajar memasak dan menahan amarah pun sudah dilakukan. Tapi, hasilnya nihil. Abhi tidak tergoda sedikitpun, justru pria itu semakin menjaga jarak.


"Jika kamu tidak mau menerima ku. Maka, akan kupastikan TIDAK SEORANG PUN MEMILIKI MU, ABHI KU SAYANG."


Sumpah Kanza seakan terkoneksi pada ikatan batin dari jiwa seseorang. Tubuh lemah dengan selang infus dan alat bantu pernapasan. Pasien yang baru saja melahirkan seorang anak secara caesar mendadak mengalami kejang-kejang hebat. Semua dokter mendadak panik, kecuali dokter utama yang dengan sigap memeriksa denyut nadi pasien.


Deg……

__ADS_1


"Cepat berikan suntikan itu!"


Wajah tegang dengan keringat bercucuran, tanpa rasa ragu satu suntikan diberikan dan bibir menghitung waktu mundur.


Sepuluh…


Sembilan…


Delapan…


Tujuh…


Enam…


Li….


Ceklek!


...****************...


***Akhirnya othoor up dobel, 😌


Thanks reader's, always support me.

__ADS_1


Jangan lupa bawa camilan, semoga othoor esok bisa up dobel lagi... 👉👈***


__ADS_2