
Hening lagi...
"Apa kamu mendengar ku?! Aku membutuhkan jawaban." ucap Abhi sedikit keras membuat orang di balkon berlari masuk dan langsung menyerbu Asfa dengan tatapan khawatir.
"My..." ucap Zain setelah muncul di depan Asfa dan wajah Asfa sudah datar tanpa ekspresi.
"Hmm. Pergilah!" perintah Asfa memotong ucapan Zain agar suasana tidak semakin jauh.
"I stay here! I won't let you get hurt.(Aku tetap di sini! Aku tidak akan membiarkan mu terluka.)" jawab Zain dan memundurkan langkah kaki nya agar berdiri di ujung jendela kaca menuju balkon.
"Do you want to know who I am?(Apa kamu ingin tahu siapa Aku?)" tanya Asfa dan menggeser posisi duduk nya dan menatap Abhi yang ikut menatap mata nya.
"Your Foreign Language is too perfect for a girl graduating from elementary school, who are you?(Bahasa asing mu terlalu sempurna untuk seorang gadis lulusan sekolah dasar, ya siapa kamu?)" tanya Abhi dengan tatapan mata semakin mendamba untuk mendapatkan sebuah jawaban.
"I'll say but with one condition!(Akan ku katakan tapi dengan satu syarat!)" ucap Asfa dengan senyuman yang manis.
*One condition.* batin Abhi dan menahan nafas nya sembari menganggukkan kepala nya pasrah, emosi nya yang memuncak tiba-tiba meredup melihat senyuman manis istri nya yang sungguh lebih manis dari lollipop.
*Panas-panas.* batin Zain dengan mengerucutkan bibir dan mulai mengibaskan jacket hitam nya serta mengalihkan pandangan mata nya ke tempat lain.
"Fulfill your promise to my brother and become my detective. How? Agree? (Memenuhi janji Anda kepada saudara saya dan menjadi detektif saya. Bagaimana? Setuju?)" tanya Asfa sembari mengatakan syarat yang sangat mudah di jalan kan karena jika perhitungan nya tidak salah maka Alvaro kakak nya itu pasti tengah memanfaatkan Abhi untuk sebuah tujuan besar.
"Aku seorang pembisnis, bagaimana menjadi seorang detective? Seperti nya tugas itu lebih cocok untuk assistant ku, kenapa kamu jadi lebih rumit dari ku?" tanya balik Abhi yang memijat pangkal hidung nya.
"Assistant mu sedang berhibernasi, mau atau tidak? Cukup jawab yes or no." ucap Asfa dengan serius dan menghilangkan senyuman nya.
Abhi menaikkan satu alis nya mendengar kata hibernasi, perasaan assistant nya itu manusia bukan beruang lalu kenapa berhibernasi. Yah nama nya juga baru operasi besar pasti ada yang masih nyetrum itu di tubuh Abhi, ingat an nya bagus saat mengingat tentang Asfa tapi mengingat hal lain nya seperti nol besar.
"Zain siap kan mobil!" perintah Asfa dengan bangun dari duduk nya yang membuat Abhi langsung menahan tangan Asfa dengan gelengan kepala.
"Zain tidak bisa keluar tanpa kunci kamar." ucap Asfa tenang agar Abhi melepaskan tangan nya.
"Berikan saja kunci nya, pembicaraan kita.." ucap Abhi yang mulai menunjukkan sikap manja nya.
"Ok.Lepaskan tanganku!" perintah Asfa yang langsung membuat Abhi melepaskan tangan nya.
Prook... prook.. prook...
"Your time 30 minutes Zain.(Waktu mu 30 menit Zain.)" ucap Asfa setelah bertepuk tangan tiga kali yang otomatis membuat pintu terbuka kunci nya, jangan salah meskipun itu sebuah tepuk tangan tapi tetap ada nada dan penekanan nya agar sandi tepuk tangan Asfa dan keluarga nya di kenali oleh mesin yang mereka buat.
"Done sweetheart.(Selesai sayang ku.)" jawab Zain melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar Asfa yang membuat hati nya lega dan terbebas dari rasa panas yang membakar hati nya.
Kliik...
Suara pintu tertutup dengan pelan membuat Asfa menarik kursi putar yang biasa dia gunakan untuk bekerja di dalam kamar pribadi nya, duduk bersandar layak nya seorang boss dengan wajah imut nya. Sedangkan Abhi justru tersipu dan terpesona dengan kharisma gadis yang telah menjadi istri nya, sebuah sikap yang tidak begitu Asfa sukai ketika diperhatikan secara intense.
"Ekhem! Give me answer. (Ekhem! Beri aku jawaban.)" ucap Asfa menatap Abhi dengan sedikit tajam.
"Aku punya satu syarat untuk mu." ucap Abhi yang jiwa pembisnis nya mulai keluar.
__ADS_1
"Hmmmm." jawab Asfa menopang dagu nya dengan tangan kanan sembari membiarkan Abhi melanjutkan mengatakan apa keinginan nya itu.
"Berjanjilah untuk menunjukkan siapa diri mu sebenarnya mulai hari ini dan seterusnya." ucap Abhi dengan tatapan penuh harapan yang terpancar di binar mata nya.
"Apakah aku juga harus menunjukkan bagaimana cara membunuh orang?" tanya Asfa yang menguji kesiapan Abhi untuk memasuki dunia bintang nya, pertanyaan yang terkesan seperti candaan namun memiliki tekanan.
"Kamu? Membunuh? Seperti nya kamu terlalu menyukai membaca novel, inti nya aku akan melakukan keinginan mu jika kamu tidak lagi ber sandiwara di depan ku setelah hari ini." ucap Abhi yang terlihat jelas tidak mempercayai pertanyaan Asfa dan benar dugaan Asfa jika suami nya itu masih terlalu polos.
"Hmmm.Jangan menyesal dengan permintaan mu." ucap Asfa dengan melepaskan topangan tangan di dagu nya.
Jika Abhi berfikir diri nya terlalu membaca banyak novel, seperti nya lebih baik untuk membiarkan penilaian pria itu stuck di tempat yang sama. Suatu hari nanti pasti akan ada yang membuat kepolosan Abhi menjadi sebuah mata yang terbuka lebar, bahkan Delia dengan jelas mengirimkan pesan tentang pekerjaan dan kelakuan nya sebelum kecelakaan terjadi tapi seperti nya Abhi masih belum mau menerima dan mempertimbangkan kebenaran itu.
Meskipun di dalam pesan Delia melebihkan cerita tentang nya dengan memperbanyak hal tidak benar menjadi benar di mata gadis bongsor itu, tapi Abhi bahkan masih menolak mentah-mentah meskipun kata 'membunuh' juga keluar dari bibir nya. Tapi jelas pesan Delia berpengaruh besar hingga membuat Abhi kecelakaan tunggal dan berimbas terbaring selama hampir sebulan, dan dalam waktu sebulan itu membuat nya mengenal Abhi secara baik.
Jangan salah meskipun diri nya sering meninggalkan Abhi di bawah pengawasan orang lain, tetap saja semua laporan masuk ke telinga nya. Tidak ada yang terlewatkan meskipun itu kunjungan mertua nya dan setiap pemeriksaan beserta obat-obatan yang di konsumsi oleh Abhi, di tambah lagi tentang perusahaan yang kini menjadi tanggung jawab nya membuat Asfa harus pintar-pintar membagi waktu meskipun hanya dua persen di setiap pembagian waktu untuk semua tanggungjawab nya.
"Mau kemana kamu?" tanya Abhi yang melihat pergerakan Asfa.
"Aku mau membersihkan diri, istirahat lah. Lima belas menit lagi kita akan keluar." jawab Asfa dengan menghampiri lemari pakaian nya, dipilih nya sebuah outfit yang akan membuat aura cantik nya terpancar dan Abhi yang memperhatikan deretan gaun bunga ber merk yang mengisi lemari Asfa sungguh membuat nya berdecak kagum.
"Seperti bunda." gumam Abhi yang melihat satu sisi nyata istri nya yang juga seorang gadis fashionable.
Dengan santai nya Asfa meninggalkan Abhi untuk membersihkan diri dengan rendaman busa aroma strawberry di dalam bath up, sedangkan Abhi memilih untuk mengamati kamar istri nya. Tidak ada hal yang mencolok selain beberapa lukisan, satu set komputer keluaran terbaru, balkon yang ntah seperti apa tapi semua di dalam kamar Asfa bisa di pastikan memiliki kualitas terbaik dengan harga fantastic.
Bahkan kamar nya jauh lebih sederhana karena di dalam kamar nya tidak ada komputer tempat untuk nya bekerja seperti kamar Asfa, terlebih lagi desain kamar nya terkesan monoton. Abhi yang masih mencoba mengenali sosok Asfa melewati semua yang di miliki istri nya itu, justru berbeda dengan keadaan Alvaro.
Bruug.. Auuuw..
"Paman ini kenapa hah! Apa tidak lihat tubuh segede ini." seru seorang gadis dengan nada yang nyaring membuat Alvaro menatap sosok yang tengah mengomel dengan tangan menujuk ke arah nya.
"Halooo paman masih sadar kan? Haduuh di tanya kok cuma diem aja." gerutu gadis itu mengibaskan tangan nya di depan wajah Alvaro.
Tidak ada jawaban selain hanya menatap gadis di depan nya yang seperti kicauan burung di pagi hari, yah memang cerewet tapi ntah kenapa seperti nya langsung masuk ke dalam hati Alvaro. Dan diam nya Alvaro justru membuat gadis itu semakin cemberut dengan bibir manyun nya, sungguh menggemaskan dan sebelas dua belas dengan Asfa di saat ngambek.
"Stttt.Berisik!" ucap Alvaro dan langsung membekap mulut gadis di depan nya setelah mendengarkan ceramah hampir lima menit.
"Eemppt." ucap gadis itu yang sudah tidak bisa berkutik, bukan hanya mulut nya yang di bungkam tapi juga tubuh nya kini berdempelan dengan tubuh paman di depan nya.
Mata Alvaro dan gadis itu saling bertautan, ada binar yang muncul dengan wajah memerah dari gadis itu sedangkan Alvaro masih santai seperti di pantai setelah membuat seorang gadis salah tingkah.
"Lain kali hukuman mu lebih! Jangan panggil aku paman." bisik Alvaro dan melepaskan tangan kiri nya yang memeluk pinggang gadis di depan nya dan bekapan di mulut gadis itu.
Meremang seluruh bulu ketika sapuan panas nafas Alvaro begitu dekat di telinga nya, wajah semakin memerah seperti tomat membuat Alvaro melangkahkan kaki lebih ringan menuju tangga.
"Hah ayolah Rania, sadar dia itu paman." gumam Rania dengan memegang leher nya yang masih merinding.
Puk.. puk.. puk..
"Sadar Rania." gumam Rania lagi sembari menepuk pipi nya sendiri.
__ADS_1
"Mau ku bantu membuat mu sadar?" tanya seorang wanita dari belakang Rania yang menyaksikan drama antara Alvaro dan Rania, seperti sinetron saja.
"Hehehe bunda. Dimana tuan besar?" jawab Rania menampilkan deretan gigi putih nya kepada bunda Anya yang tetap saja wajah nya datar.
"Ayoo ke ruangan tuan besar." ajak bunda Anya dengan melambaikan tangan kanan nya.
"Ayoo bunda." jawab Rania dengan semangat dan berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah kaki nya beriringan dengan bunda Anya.
Langkah kedua nya seperti ibu dan anak yang berjalan selaras, hingga langkah kedua nya berhenti di depan ruangan kaca dimana itu ruangan kerja keluarga Luxifer.
Took.. took.. took..
"Tuan, Rania sudah datang." ucap bunda Anya dengan suara yang di tinggi kan.
"Aduuh bunda, kasih aba-aba donk. Rania kaget." protes Rania dengan menutupi kedua telinga nya.
"Sini pake bisikan biar panas dingin lagi, mauu?" tanya bunda Anya dengan menaikkan satu alis nya.
"Hehehe gk. Paman itu yang mulai loh ya." ucap Rania dengan menautkan dua jari telunjuk nya di depan wajah nya.
"Dia masih muda blum jadi paman, awas kena hukuman lagi." ucap bunda Anya dengan seringaian yang membuat Rania mengerjapkan mata.
"Masuuk!" ucap seseorang dengan pintu yang mulai terbuka sendiri.
"Masuk lah, aku masih ada urusan." ucap bunda Anya dan meninggalkan Rania.
"Semoga mood tuan besar lagi bahagia." batin Rania memasuki pintu kaca dan menutup nya dengan hati-hati.
Ruangan yang jauh lebih wow dari ruangan IT tempat nya bekerja, lihatlah deretan komputer, layar virtual, rak-rak buku di tambah meja kerja yang di desain mewah nan elegant, benar-benar dunia impian siapapun memiliki ruangan kerja seperti di depan mata nya itu. Tapi terlihat pria kekar paruh baya tengah memejamkan mata nya bersandar di kursi kebesaran nya dengan kedua tangan bersedekap di dada, wah kalau tuan besar masih muda sudah pasti banyak yang ngantri.
"Sampai kapan berdiri di situ?Mau ku jadi kan patung?" tanya tuan besar dengan santai nya tanpa membuka mata nya.
Gleek...
"Ammpun jadi patung, udah masih perawan, cantik, imut blum laku lagi masa udah jadi patung pajangan aja." batin Rania dengan menelan saliva nya keras.
"Duduk!" perintah tuan besar dan membuka mata nya yang langsung membuat Rania berjalan cepat menuju kursi di depan tuan besar nya.
"Apa tugas kali ini tuan?" tanya Rania yang menetralkan perasaan nya demi masa depan yang cerah.
"Ambil dan baca ini!" perintah tuan besar dengan menyodorkan sebuah map hitam bersimbol mahkota kerajaan.
"Tuan.." ucap Rania yang langsung terhenti dengan tatapan tajam tuan besar nya.
Hampir saja lupa jika menjaga lisan juga sangat di perlu kan, hingga tatapan tajam tuan besar membuat Rania menggambil map hitam bersimbol mahkota kerajaan di depan nya dan di buka untuk di baca. Awal nya tidak ada yang aneh hingga point terpenting dari isi map membuat Rania melotot tak percaya, dunia nya runtuh hingga kutukan pun tidak akan berguna.
Sedangkan tuan besar menampilkan senyuman puas melihat reaksi Rania yang tercengang dengan surat kontrak kerja sama baru nya, terlihat jelas mata melotot gadis remaja itu ingin berlari dari tempat nya.
"Yes or no?" tanya tuan besar dengan suara intimidasi yang membuat wajah Rania mendonggak menatap memelas namun tak di hiraukan oleh tuan besar.
__ADS_1