My Secret Life

My Secret Life
Bab 235: LIVE SHOW - PERBINCANGAN


__ADS_3

"Apa kalian menyiapkan sarapan untuk tawanan?" Tuan Luxifer menaikkan satu alisnya ketika tudung saji di atas meja troli masih tertutup sempurna.


Tanpa menjawab, Justin mengambil ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi sebuah nomor yang ternyata tersambung pada earphones ketiga bodyguard di ruangan sang tawanan. "Buka hidangan pagi!"


Beberapa saat tertegun dengan apa yang tersaji, smirk Tuan Luxifer terkembang sempurna. "Perfect."


"Tuan bisa menonton live show dari sini." Justin menarik kursi di belakangnya lalu meletakkan tepat di depan tuan besarnya. "Silahkan duduk, Tuan!"


"Why? Apa aku tidak boleh bermain-main?" tanya Tuan Luxifer kecewa.


"Tawanan bahkan masih tidak sadar. Siapa yang melakukan pengkhianat. Anda tahu Queen seorang perencana terbaik, dan bisa membalikan keadaan dalam satu gerakan." jelas Justin membuat Tuan Luxifer mengangguk paham.


Kini kedua pria beda usia itu menyaksikan live show hukuman sang tawanan melalui laptop di atas meja. Dimana meja troli yang menjadi tempat hidangan pagi berada berisi sebaskom es batu dan sekotak bara api dengan satu penjepit besi. Terlihat dua bodyguard langsung menjagal tubuh sang tawanan setelah merobek pakaian atas yang menutupi tubuh berotot itu, kemudian satu bodyguard lagi mengambil penjepit besi.

__ADS_1


"Ukirlah seindah mungkin!" Justin memberikan perintah, membuat bodyguard yang memegang capit memulai penyiksaan sang tawanan.


Bara api yang menyala menyentuh kulit punggung sang tawanan. Suara jeritan terdengar memenuhi ruangan penyiksaan. Rasa panas yang membakar, berganti rasa dingin menyejukkan. Tidak ada kata ampun, berulang kali bodyguard itu melakukan hal sama hingga selama sepuluh menit berlalu. Tubuh tawanan terkulai tak sadarkan diri.


"Lepaskan!" titah Justin, lalu pria itu beralih melihat ponselnya yang berulang kali menyala. "Queen?"


[Jaga tawanan ku! Aku akan terlambat, Rose harus melakukan operasi.]~jawab dari seberang to the point.


Uluran tangan ke arahnya, membuat Justin memberikan ponselnya tanpa kata. Membiarkan Tuan Besar untuk berbincang bersama sang putri. Ponsel beralih, "Nak?"


"Okay, jaga diri kalian. Apa kamu bersamanya?" tanya Tuan Luxifer memastikan keamanan putri rajanya.


[Queen aman bersamaku, tenang saja, Pa. Aku memberikan pengawalan khusus.]~ jawab Vans yang mendengar pertanyaannya Tuan Luxifer karena panggilan di menggunakan dua earphones yang terbagi antara pria itu dan Asfa.

__ADS_1


Perbincangan singkat yang berlangsung dengan basa-basi, tiba-tiba saja terhenti akibat sang sopir melakukan pengereman mendadak. Vans langsung melihat ke arah depan dimana seseorang berdiri dengan kedua tangan menutupi wajah, tapi jelas orang itu adalah pria dewasa. Hanya saja penampilannya terlihat semrawut.


"Pa, aku tunggu di rumah sakit utama. See you," Asfa memutuskan sambungan telepon agar sang papa tidak menaruh curiga. "Ka, biarkan aku yang turun."


"Kamu mau apa?" tanya Vans menahan pergerakan Asfa.


Asfa melepaskan tangan Vans, tatapan mata saling pandang. "Ka, Rose lebih aman bersamamu. Just give me ten minutes."


"Pak, ikuti Nona Muda!" titah Vans yang membuat Asfa mengedipkan mata nakalnya. "Jangan senang dulu, pergilah! Just ten minutes, no more!"


"Sure." Asfa membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar seraya menutup pintu mobil kembali.


Setiap langkah kakinya mendadak terasa berat. Hembusan angin ikut menerbangkan dedaunan kening. Langit yang cerah mendadak gelap dengan rintik hujan membasahi bumi. Untaian rambut hitam bersurai merah bergelombang mengikuti arah angin. Hingga ia berhenti di depan pria dewasa yang masih saja menutupi wajah menggunakan kedua lengannya.

__ADS_1


"Are you okay?" tanya Asfa dengan tangan menyisipkan helaian rambut yang menutupi pandangannya ke belakang telinga.


Perlahan kedua lengan pria dewasa terbuka, sesaat dunia seakan berhenti terpatri pada tatapan dalam yang terkejut di antara kedua insan itu. Bibir terkunci rapat, senyuman terasingkan dengan mata memancarkan kerinduan yang teramat dalam. Angin yang berhembus membawa derasnya air hujan yang tak ingin merestui pertemuan mereka.


__ADS_2