My Secret Life

My Secret Life
Bab 45: Quality time Family


__ADS_3

Setelah hampir satu jam akhirnya keributan di luar kamar sudah berakhir membuat penghuni kamar mandi keluar dengan kimono nya, harum aroma lavender memasuki rongga hidungnya.


"Selamat datang adikku... " sambut seorang pria dengan pakaian pelayan tengah berdiri di samping meja kaca.


"Stop! Tetap di sana." potong Asfa sembari mendekati lemari pakaian hitam nya.


Dengan cekatan sebuah pakaian santai di ambil nya, berlari ke kamar mandi dan beberapa saat keluar dengan gaya rumahan ala Asfa.



"Lapaaar." ucap Asfa dengan mendekati sofa dan duduk bersila di hadapan makanan yang sudah di siapkan ntah oleh siapa.


"Katakan mau yang mana? " tanya pria itu dengan membuka tutup setiap hidangan.


Ada ayam bakar, spaghetti bolognese, sup iga sapi, salad buah dan juga pizza, terlihat sangat menggugah selera terlebih disaat cuaca dingin yang sangat mendukung.


"Apa kalian tidak mengundang papa? " sindir seseorang yang baru memasuki kamar itu.


"Come on pa, we dinner together.(Ayolah pa, kita makan malam bersama.) " ajak Asfa dengan semangat duduk di sofa paling tengah.


Sisi kiri nya di duduki oleh kakak nya Alvaro dan sisi kanan nya di duduki oleh papa nya, makan malam yang langka. Sejenak melupakan masalah yang tengah di hadapinya, kebersamaan yang sudah lama tidak terjadi akibat jarak dan waktu.


"Ka, ayolah bagi satu koleksi yang itu." pinta Asfa.


"Apa yang kamu mau nak? Kenapa tidak beli saja? " tanya tuan besar yang tidak paham ada apa di antara kedua anak nya itu.


"Mau tukar dengan moge mu di teras? " tanya Alvaro dengan menahan senyuman.


"Sudahlah.Aku pergi saja." ucap Asfa dengan mengerucutkan bibir mungilnya.


Greeb...


Satu tarikan tangan Alvaro membawa tubuh mungil adiknya ke dalam pelukannya, di elus nya kepala dengan rambut panjang itu. Sedangkan tuan besar hanya menikmati kopi buatan putri nya setelah makan malam sembari menikmati pemandangan perdebatan kecil kedua anaknya tanpa ikut campur lagi.


"Bukan hanya satu koleksi mobil sport saja yang akan kakak berikan tapi juga nyawa ini milikmu Queen Asfa Luxifer, dunia ini tidak lebih berarti tanpa senyuman dari adik terbaikku." ucap Alvaro dengan lembut membuat Asfa menampakkan binar kemenangan.


Cup.. cup..

__ADS_1


"Love you my bro." seru Asfa sembari mengecup kedua pipi kakak nya.


"Hanya kakak mu saja? Papa tidak nih? " sindir tuan besar.


"Papa cemburu? Ciyee cemburu." ledek Alvaro yang akan menghangat di saat bersama keluarga nya.


Cup.. cup...


"Love you papa, tapi papa balik ke mansion sendiri ya." pinta Asfa dengan senyuman penuh arti.


"Hah! Jadi putri papa mengusir... " ucap tuan besar menaikkan satu alisnya.


"Come on, papa tahu apa rencana ku." potong Asfa yang langsung menghentikan drama papa nya.


"Hehehe okay baby. Nak kamu tetap disini, jangan tinggalkan adikmu sendiri." perintah tuan besar yang hanya di acungi jempol oleh Alvaro.


"Bagaimana ka, apa kita bisa melakukan hal itu? " tanya Asfa dengan serius.


"Kita lihat dulu kondisi suami mu, kita akan berusaha yang terbaik seperti kami mengobati mu baby." jawab Alvaro.


"Dan ruangan sudah kakak siapkan, tapi biarkan para bodyguard dan pelayan di atur lebih baik lagi. Siapa yang biasa melakukan itu? " ucap Alvaro lagi.


Terlihat pembicaraan singkat namun serius, dan hasil dari pembicaraan akan terlihat esok hari sebelum penghuni mansion terbangun. Melihat kecekatan adiknya, membuat Alvaro tersenyum senang karena pelatihan nya sangatlah membuahkan hasil.


"Good night my life, love you all.(Selamat malam hidup ku, sayang kalian.)." ucap Asfa sembari melambaikan tangannya dan berpindah ke tempat tidur king size nya.


Sedangkan dua pria beda usia hanya saling pandang dan menggelengkan kepala melihat tingkah satu wanita di dalam keluarga nya itu, lihatlah meja kaca yang kini memiliki piring dan peralatan makan kotor dan dua pria itu masih setia duduk di sofa kamar tapi tuan kamar justru masuk ke dalam selimut dan menjelajahi dunia mimpi.


"Istirahat lah pa, biar aku yang bereskan." ucap Alvaro menepuk pundak papanya.


"Apa yang adikmu minta nak? " tanya tuan besar sedikit penasaran.


"Hanya satu mobil sport pa, bukan hal aneh." jawab Alvaro dengan enteng.


"Kenapa tidak minta adikmu beli saja nak? Papa tidak mau membedakan kalian." ucap tuan besar sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Itu hanya mobil pa, tapi buat Asfa itu adalah harta berharga karena nilai dari kebersamaan kami. Papa tahu mobil sport yang di inginkan queen, itu mobil yang digunakan olehnya untuk pertama kalinya." jawab Alvaro.

__ADS_1



"Hhaah anak ini. Kenapa tidak beli satu lagi untukmu nak? " tanya tuan besar setelah tahu mobil mana yang di inginkan putrinya.


"Tidak pa, aku masih punya banyak dan cukup." jawab Alvaro tersenyum.


"Baiklah, good night boy." ucap tuan besar meninggalkan kamar putrinya.


Tidak ada jawaban selain tangan yang mulai membereskan peralatan makan di atas meja kaca, hingga tiga puluh menit akhirnya semua kembali semula. Di dekati nya tempat tidur king size itu, seorang gadis berwajah mungil yang sangat membuat dirinya merindukan sosok wanita yang memiliki garis wajah sama meskipun gadis di depannya versi berbeda.


"Apapun untukmu putri raja ku, mama pasti tenang di atas sana karena melihat mu baik-baik saja. Kakak akan selalu melindungi mu, maafkan kakak dulu mengabaikan tanggung jawab yang di berikan oleh mama untuk menjadi kakak terbaik." ucap lirih Alvaro yang menghadirkan buliran bening di sudut mata nya.


Beberapa puluh tahun lalu di saat mama nya hendak melahirkan dengan keadaan yang bisa dibilang cukup berisiko, membuat keluarga itu berkumpul untuk yang terakhir kalinya. Dimana setelah melakukan operasi justru mama nya mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan sang mama menghembuskan nafas terakhir nya, bahkan pesan sang mama sebelum menjalani operasi masih terngiang di telinga nya.


"Ini adikmu, cahaya matahari di dalam kehidupan mu dan papa mu. Jagalah senyuman nya dengan nyawa mu, jadilah kakak dengan sepenuh hati mu Alvaro Caesar. Mama titip pelita kecil mama untuk kau lindungi nak." pesan mama sebelum menjalani operasi.


Pesan itu hampir saja tidak terlaksana jika dirinya dan papa nya tidak mampu menemukan obat untuk penyakit pelita mereka, sudah dapat dipastikan jika dunia akan panas dengan amarah tuan besar. Sejak kehidupan memberikan kesempatan kedua untuknya, sejak saat itu dirinya berjanji dua kali lipat untuk melindungi pelita kecil di dalam keluarga Luxifer.


"Sweet dream my doll(Mimpi indah boneka ku) . Cup." ucap Alvaro sembari mengecup kening adiknya.


Langkah nya menjauh meninggalkan kamar setelah mematikan lampu kamar itu, langkah nya hanya berpindah ke kamar sebelah yang kini menjadi kamar pribadinya. Dibuka nya pintu kamar dengan password renita mata nya sendiri, karena setiap kamar bisa memilih metode kunci sesuai keinginan sang pemilik kamar tapi tentu saja hanya kamar dari anggota keluarga bukan para bodyguard dan pelayan.


Sebuah kamar yang luas meski tak seluas kamar adiknya, namun terlihat semua kebutuhan nya sudah di siapkan oleh papa nya. Warna gelap dengan lampu temaram membuat kamar nya terkesan suram namun itulah dunia nya kala sendiri, bagi nya jiwa akan hidup di saat bersama keluarga dan mati di saat sendiri terlebih di saat menghadapi lawan.


Triiing... triiing..


"Tell!(katakan!)" suara serak Alvaro setelah menggeser icon hijau di benda pipihnya.


"Kami menemukan markas mereka, apa rencana selanjutnya Tuan Caesar? " ucap dari seberang.


"Awasi dan pastikan semua berjalan seperti rencana awal!" perintah Alvaro dan memutuskan telepon sepihak.


"Seperti nya aku harus mencari assisten, akan ku fikirkan esok." ucap Alvaro sembari merebahkan tubuhnya menjemput mimpi.


......................


"Apa ini harus? Kenapa tidak ke rumah sakit saja? " ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja melangkahkan kaki nya ke sebuah mansion mewah yang ternyata lebih mewah dari kediaman nya.

__ADS_1


"Tuan dan nyonya silahkan masuk, queen sudah mempersiapkan segalanya." ucap seorang pelayan yang juga memberikan isyarat pada pelayan lain untuk membawakan barang bawaan tamu queen mereka.


__ADS_2