
Setelah patung istana mini itu di putar membuat rumput jepang yang ada di samping kiri patung terbuka seperti menuju sebuah lorong dengan tangga yang ntah menuju ke mana, bunda Anya ber jalan dan mulai melangkah kan kaki nya menapaki setiap anak tangga hingga menghilang dengan suara langkah kaki yang masih terdengar.
"Waktu kalian hanya satu jam kurang, cepat lah masuk!" ucap bodyguard yang menjaga pintu rahasia mansion.
"Ayo." ajak Leo dengan ber jalan terlebih dahulu, rasa Cinta nya membuat nya tetap percaya pada queen karena apapun yang akan terjadi tidak mungkin pemilik mansion mewah itu akan berbuat jahat pada orang yang tidak bersalah.
Semua hanya bisa menghela nafas dan mengikuti langkah Leo hingga semua tamu sudah masuk ke dalam ruangan rahasia membuat bodyguard yang berjaga kembali memutar patung istana mini ke arah yang benar dan rumput jepang itu kembali seperti wujud semula.
"Queen. Dia? " ucap Alvaro yang baru saja masuk dapur dan melihat adik nya tidak sendirian sembari menelisik orang yang berdiri tidak jauh dari adik nya yang tengah fokus me masukkan sayuran ke dalam panci panas dengan air mendidih.
"Hans pergilah bawa gadis itu." perintah Asfa tanpa menghentikan aktifitas nya.
"Okay queen." jawab Hans dan meninggalkan dapur tanpa menatap Alvaro meski sedikit pun.
"Semua sudah keluar ka? " tanya Asfa basa-basi.
"What your plan doll?" tanya balik Alvaro yang mengambil poselnya dan mengirim pesan pada seseorang untuk membuat adiknya paham apa pertanyaan nya.
"Hahaha you are funny. What you do prince?" tawa Asfa melihat tingkah konyol kakak nya yang seakan memberikan kode tentang inti pertanyaan nya, padahal tanpa kode itu pun tentu Asfa tahu arti pertanyaan kakak nya adalah kekacauan yang memang di buat oleh nya.
"My doll, this not funny baby." ucap Alvaro yang kini berdiri di samping Asfa.
Bukan nya men jawab, tapi Asfa menghentikan aktifitas nya dan berbalik menghadap Alvaro dan mengambil ponsel yang masih ada di genggaman tangan kakak nya. Meletakkan kembali ponsel itu ke dalam saku celana Alvaro dan melepaskan satu earphones di telinga nya dan langsung memasangkan earphones itu ke telinga kanan Alvaro, sedetik kemudian Alvaro mulai mendengarkan suara banyak orang seperti tengah mengeluh dan suara-suara itu di kenali oleh nya.
"Pergilah ke ruangan kerja ka, tugas kakak disana. Aku masih ingin menyelesaikan masakan ku." perintah Asfa dan tersenyum sebelum kembali fokus dengan masakan nya.
"Sure queen." jawab Alvaro dengan membungkuk ala seorang pangeran yang menuruti tuan putri nya.
Kini Asfa kembali bermain dengan buah-buah yang tengah di kupas nya, memotong-motong nya seperti selera nya. Sedangkan Alvaro berjalan menuju ke ruangan kerja dan melihat apa yang sebenarnya di lakukan adik nya karena melihat wajah semua tamu mansion sangat lah frustasi tanpa gadget, hingga pintu kaca terbuka terlihat semua layar masih menyala dengan pertunjukan yang membuat nya menggelengkan kepala nya.
"Mencari Bintang." ucap Alvaro membaca sebuah tulisan yang tertera jelas di layar virtual dengan semua foto tamu mansion dengan nama lengkap dan juga profesi masing-masing.
Dari earphones nya terdengar suara sahabat termanis nya Andira menyerah dan gadis itu menjadi gagal dalam seketika dengan tanda silang di foto nya secara otomatis, sedangkan yang lain masih berusaha semampu mereka. Tapi dari semua sahabat nya ada yang terlihat masih tenang dan santai dan itu adalah Leo dengan satu gadis kuncir kuda dengan kaos kelinci yang sangat mencolok, terlihat dua orang itu sangat tenang mengoperasikan komputer di depan nya.
__ADS_1
Hingga seorang pria masuk ke dalam ruangan yang dapat di pastikan itu ruangan bawah tanah milik queen, tapi pria itu tak nampak karena membelakangi cctv. Setelah berbisik pada bunda Anya terlihat wanita nyentrik itu mengangguk dan mendekati seorang gadis dengan kuncir kuda dengan kaos kelinci, sama hal nya pria yang baru datang berbisik maka bunda Anya melakukan hal sama ke gadis itu.
Terlihat jelas perubahan wajah yang awal nya sangat antusias dengan semangat empat lima langsung memajukan bibir nya sepanjang lima centi membuat Alvaro tersenyum tanpa di sadari nya, sedangkan yang lain terlihat frustasi justru gadis itu memanyunkan bibir nya karena di bebaskan tugas dari queen. Bagaimana Alvaro bisa tahu hal serahasia itu karena earphones di telinga nya ternyata tersambung dengan earphones wanita nyentrik itu dan dengan menghentakkan kaki nya gadis itu terpaksa meninggalkan tempat ternyaman nya.
"Come on, izin kan aku ikut. Apa kata dunia jika seorang Rania sang hacker gagal dalam ujian, huaaaa. Queeen." ucap Rania yang bukan berbisik tapi cukup membuat semua menatap nya aneh tapi gadis itu tidak peduli dan memilih menunjukkan puppy eyes nya agar tetap stay.
"Give her ten minutes more." ucap Asfa yang memberikan satu kesempatan untuk Rania agar gadis itu bisa diam dan tidak membuat pusing bunda Anya atau pun Hans.
"Queen agree, just ten minutes." ucap bunda Anya yang langsung membuat Rania bergegas kembali ke tempat duduk nya dengan binar mata yang mencerahkan sekitar nya.
Rupa nya semangat gadis kelinci itu membuat para sahabat nya menggelengkan kepala tapi juga tersenyum, dengan ketikan jemari nya yang mulai lebih cepat dari sebelum nya hingga Alvaro hanya memperhatikan pergerakkan jemari gadis itu dengan mata yang seakan menari dalam dunia nya sendiri. Dari hal itu, Alvaro menyimpulkan jika gadis kelinci itu memang mencintai dunia IT hingga tanpa sadar seseorang memasuki ruangan kerja dan menghela nafas nya melihat sikap pria yang hanya diam berdiri padahal alarm peringatan pembobolan system keamanan tengah ber langsung.
Plaak..
"Panggil penghulu dan nikahi saja Rania, percuma kakak disini kalau hanya diam dengan pembobolan system." ucap Asfa yang langsung menggeser tubuh kekar kakak nya dan mulai duduk di kursi kerja nya.
"Ikat ka!" perintah Asfa meletakkan satu karet rambut di atas meja.
"Maafkan... " ucap Alvaro dengan menggaruk kepala nya karena tidak fokus dengan tugas nya kali ini.
Dan benar saja, saat dirinya masuk ke ruangan kerja justru kakak nya tengah memandangi layar virtual dengan bahasa tubuh yang membuat nya menggelengkan kepala. Hingga menepuk bahu pria itu dan menggeser posisi berdiri nya yang menghalangi kursi kerja nya, dan kini jemari Asfa sudah berselancar dengan cepat nya tanpa mempedulikan tangan kakak nya yang tengah menggumpulkan seluruh rambut nya untuk di ikat ke atas seperti biasa nya.
Terlihat alarm pembobolan telah mencapai pintu empat dan sebentar lagi akan memasuki pintu lima, terlihat jelas jemari adiknya berhenti dan membiarkan gadis kelinci di layar virtual dengan mudah nya memasuki pintu lima. Kini sebuah senyuman iblis mulai terbit di bibir mungil Asfa membuat Alvaro hanya menghela nafas dan menyelesaikan mengikat rambut adiknya, terlihat jelas adiknya masih diam dan hanya menunggu langkah dari gadis kelinci yang terlihat sangat semangat dan semakin memiliki binar kebahagiaan.
*Binar itu pasti lenyap dalam detik.* batin Alvaro yang semakin gemas dengan kedua gadis di dua tempat berbeda yang seakan saling menantang satu sama lain.
"Mau taruhan ka?" tanya Asfa tiba-tiba dan dengan kerlingan mata nya.
"Apa keinginan mu pasti kakak kabulkan untuk apa taruhan? " tanya balik Alvaro yang tidak ingin terpancing.
"Hmm. Aku ingin kakak menjadi assistant papa selama satu minggu." ucap Asfa dengan serius tapi masih fokus dengan layar komputer di depan nya yang masih di bobol.
"Kakak tidak bisa meninggalkan mu doll, kakak tidak mau musuh mengincarmu." tolak Alvaro dengan tatapan pengampunan karena permintaan satu itu memang tidak dirinya lakukan.
__ADS_1
"It's ok." jawab Asfa dengan dingin dan jemari nya mulai melakukan aksi nya setelah melihat pintu delapan telah terbuka.
Alvaro tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang sudah mengubah mood adiknya terlebih di saat adiknya sudah me mulai melakukan penyerangan, tapi terlihat oleh Alvaro yang terjadi saat ini adalah system keamanan di bobol oleh dua orang secara bersamaan. Di layar terlihat hanya dua orang yang masih melakukan tarian di atas keyboard sedangkan sisa nya seperti menyerah dengan tanda silang di foto masing-masing.
"Queen? " panggil Alvaro yang melihat adiknya masih bermain-main dengan lawan nya.
"Don't worry prince." jawab Asfa dengan senyuman iblis nya.
Hingga adiknya semakin mempercepat gerakan jemari nya dan berselancar tanpa hambatan membuat dua wajah di layar virtual mengerutkan alis nya dengan mengikuti mempercepat gerakan jemari mereka, Alvaro seperti menonton musuh secara langsung saja. Ketegangan dan wajah yang hampir meledakkan air mata sungguh imut di pandangan nya, sedangkan wajah Leo terlihat kesal meskipun masih berusaha tetap menghack system keamanan milik adiknya.
"Skakmat." ucap Asfa dengan menekan tombol enter lama dan detik berikutnya terlihat alarm berhenti berbunyi dan menyala dan sebuah suara dari layar virtual membuat queen kembali menunjukkan wajah dingin nya.
"You winner queen, congratulations." ucap mesin layar virtual yang sudah di kembangkan oleh Asfa.
"Bawa mereka ke atas, dan biarkan mereka istirahat. Bawa Rania malam ini juga." perintah queen dan mematikan earphones nya.
"Now, tell me what happens with you? " tanya Asfa dengan menyedekapkan kedua tangan nya menatap Alvaro dengan tatapan tajam.
"Apa pasien ku baik-baik saja? Aku harus memeriksa nya segera, kita lanjut nanti." ucap Alvaro dengan langkah seribu memilih pergi sebelum singa betina nya menerkam.
"Hehehe kakak sungguh lucu. Lain kali saja aku mengejar nya, aku sangat lapar." kekeh Asfa yang melihat tingkah konyol kakak nya.
Dirinya tidak marah dengan yang Alvaro lakukan karena memang semua rencana nya di atur dirinya sendiri maka tanggungjawab jawab hanya milik nya, meskipun Asfa melakukan hacked pada banyak alat canggih tapi Asfa tidak membiarkan komunikasi yang terpenting dengan alat-alat medis yang memang memasuki system keamanan nya terganggu sedikit pun. Karena system keamanan yang di gunakan adalah system keamanan yang terbaru, ide muncul begitu saja untuk menjadi kan tamu mansion sebagai kandidat bintang nya.
"Kalian patut mendapatkan hadiah dari ku." ucap Asfa dengan melihat dua foto teratas yang merupakan foto Rania dan Leo.
Semua berjalan meninggalkan ruangan rahasia dengan wajah lesu dan di kawal oleh bunda Anya, sedangkan Rania tengah merajuk untuk tidak pergi di depan Hans. Asfa tidak ingin mendengarkan apapun lagi dan memilih keluar dari ruangan kerja nya dan kembali ke dapur sebelum semua tamu mansion masuk ke mansion lagi, benar saja setelah langkah nya sepenuh nya masuk ke dapur barulah pintu utama terbuka.
"Istirahat lah, tunggu kejutan esok hari." ucap bunda Anya dan melangkah pergi.
"Tunggu! " cegah salah satu tamu mansion.
"Ya? " ucap bunda Anya berhenti dan berbalik menatap satu persatu tamu mansion queen nya.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini? Bisa jelas kan pada kami, agar kami memahami apa kesalahan kami." tanya seorang wanita yang menggigit bibir nya setelah pertanyaan nya keluar begitu saja.