
"Cepat berikan suntikan itu!"
Wajah tegang dengan keringat bercucuran, tanpa rasa ragu satu suntikan diberikan dan bibir menghitung waktu mundur.
Sepuluh…
Sembilan…
Delapan…
Tujuh…
Enam…
Li….
Ceklek!
Para dokter menatap pintu yang terbuka. Bukan hanya panas dingin, suasana semakin tegang dengan kedatangan dua pria yang masuk ruangan operasi tanpa permisi.
"Vans, bagaimana...."
Vans mengalihkan fokus sesaat dari perinya, lalu menatap ke arah Tuan Luxifer dan Varo yang baru saja masuk ke dalam ruangan operasi. "Varo bisa bantu aku?"
Mendengar permintaan Vans, langkah kaki Varo berjalan mendekati dokter muda sekaligus penjaga adiknya dengan wajah serius dan senyuman tipis. "Tell!"
"Queen sudah melahirkan dengan operasi caesar, tapi tubuhnya kehilangan banyak darah dan tiba-tiba efek racun seperti bergejolak lagi. Kita harus melakukan sesuatu agar queen bertahan hidup....."
Varo bergegas mengambil sarung tangan kemudian melakukan pemeriksaan secara keseluruhan tanpa mendengarkan ucapan Vans lebih jauh lagi. Sementara para dokter lain bukannya membantu, tapi justru mematung seperti patung pancoran. Suasana ruangan operasi tak ubahnya ruangan pendingin daging.
__ADS_1
"Apa suntikan obat penawar sudah diberikan?" tanya Varo sembari memantau layar monitor yang berbunyi dengan garis semakin melemah.
"Sudah, lebih dari dua menit yang lalu." jawab Vans.
Varo mengangguk, lalu melepaskan tangannya dari leher sang adik. "Kalian keluarlah!"
"Tuan...."
Tuan Luxifer mengangkat tangan kanan kemudian mengibaskan nya agar para dokter melakukan perintah putranya. Tidak ada yang berani membantah. Satu persatu para dokter berjalan menuju pintu keluar meninggalkan ruangan operasi. Hanya dalam satu menit, ruangan operasi menjadi lebih sepi dan udara mulai menghangat.
"Lakukan yang terbaik! Dimana baby Queen?" ucap Tuan Luxifer.
"Maaf, kondisinya juga tak begitu baik. Baby masih dalam inkubator...."
Tuan Luxifer memejamkan mata. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pikirannya terasa terikat begitu kencang dengan sesak di dalam hati. Ketenangan keluarganya baru dirasakan selama beberapa bulan, tapi hari ini rasa takut kehilangan kembali hadir. Bukan hanya mengkhawatirkan sang putri saja karena cucu pertamanya juga harus menderita sejak di dalam kandungan.
"Kalian selamatkan Queen, Aku akan menjenguk baby." ucap Tuan Luxifer setelah membuka matanya.
"Fokus dan lakukan yang terbaik, jangan lupa baby membutuhkan mommynya."
Ceklek...
"Titip salam untuk baby, Pa." ucap Varo dengan mata penuh harap.
Tuan Luxifer mengacungkan jempol sebelum menutup pintu. Kepergian tuan besar, membuat Vans mendekati Varo dan memberikan selembar kertas yang sedari awal di sembunyikan. Gelagat aneh dokter pelindung sang adik mengundang tanda tanya di dalam benak Varo. Selembar kertas diterima lalu dengan cermat dibaca dari atas.
Wajah cemas Vans menulari wajah Varo, pria yang awalnya memiliki harapan tinggi itu seketika tubuhnya bergetar. Wajahnya pucat pasi tanpa sari, kertas di tangan terlepas begitu saja dengan tubuh terhuyung mencari sandaran.
Greeb
__ADS_1
Tanpa permisi Vans memeluk Varo dan memberikan tepukan ringan agar hati pria dingin itu tenang untuk menerima kenyataan pahit. Setelah beberapa saat menenangkan, Vans melepaskan pelukan dan mengambil kertas yang terjatuh ke lantai.
"Kita bisa melakukan operasi, tapi kamu tahu resikonya." ucap Vans dengan menatap selembar kertas yang berisikan laporan kesehatan Asfa sebelum melakukan operasi caesar.
Varo memejamkan mata dan menguatkan hati. Sejenak membiarkan otaknya berpikir jernih untuk membuat keputusan di dalam hidup sang adik. Setiap waktu yang menjadi kenangan berputar seperti roll film. Tiba-tiba satu permintaan yang menjadi harapan adiknya melintas dengan suara lembut disertai senyuman manis dari bibir tipis semerah cherry di bawah guyuran air hujan.
"Mari kita lakukan." ucap Varo tanpa ragu setelah membuka mata.
Bukan hanya terkejut, Vans membulatkan mata dengan tatapan tanda tanya. Namun, Varo tak ingin menjelaskan apapun saat ini. Pria itu justru membalikkan badannya lalu meraih tangan Asfa dengan penuh kasih sayang. Kecupan lembut dengan usapan layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
"Sayapmu tidak akan pernah patah, apalagi terbakar. Aku siap menjadi sayapmu. Seperti janji kakak di malam purnama di bawah guyuran hujan. Penguasa dunia adalah senyuman manis boneka ku. Adik tercinta ku," ucap Varo lirih yang masih cukup terdengar di telinga Vans.
Tanpa sadar, cairan bening luruh begitu saja dari sudut matanya. Ketulusan Alvaro sangat terasa di setiap kata-kata yang keluar dari bibir pria itu. Vans terharu dengan cinta seorang kakak terhadap adiknya.
"Kita tunggu keadaan stabil, obat penawar merah delima baru saja diberikan. Efeknya akan hilang setelah lima jam. Bukankah seperti itu?" Vans memegang pundak Varo dengan perasaan.
"Hmmm. Pastikan saja hanya kita berdua yang tahu soal operasi ini!" titah Varo menekankan perintahnya.
Permintaan yang diubah menjadi perintah, membuat Vans sadar. Jika Varo tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi. Terlebih jika anggota keluarga yang lain mengetahui rencana operasi yang akan dilakukan keduanya.
"Seperti keinginanmu, Aku akan mempersiapkan operasi ja...."
Ceklek
"Apa yang kalian rencanakan?"
...****************...
***Hay READER'S, 🥰
__ADS_1
Othoor tak tahu akan dobel up apa sekali up aja hari ini, 👉👈
Menurut kalian gimna***?