My Secret Life

My Secret Life
Bab 237: MAAF - SEMUA TELAH BERAKHIR


__ADS_3

"Maafkan, Aku. Kamu boleh menamparku, atau memberikan hukuman apapun. Ku mohon, maafkan aku." Abhi menatap Asfa dengan sorot mata penyesalan begitu dalam, membuat wanita itu semakin membeku. "Kenapa diam?! Apa aku harus tersambar petir dulu untuk mendapatkan maafmu?"


Ctaaaar!


Plaaak!


Petir yang menyambar hanya melewati kedua insan itu, tapi tidak dengan sentuhan keras yang menyapa pipi Abhi. Tubuh pria itu terhuyung dan terjengkang kebelakang.


"Sudah, atau mau tambah lagi?" tanya Asfa dengan tangan kanan yang berdenyut panas setelah menampar pipi Abhi dengan keras agar pria itu sadar dari ketidakberdayaan yang hanya dipenuhi keegoisan.


"Apa pertanyaanmu tidak terlambat? Apa kamu pikir, disini yang terluka hanya dirimu?" Asfa menyibakkan rambut yang menghalangi pandangan matanya. "Sejak awal sudah ku peringatkan untuk mencari tahu, apapun yang kamu dengar dan lihat sebelum membuat keputusan, tapi TIDAK. Emosimu yang utama. Why? Bibirmu tanpa beban menjatuhkan talak, dan pergi tanpa menengok kebelakang."


"Aku tidak memiliki tempat dalam hidupmu, right? Kenapa kamu bersedih? Lupakan saja soal kebenaran yang kamu tahu, apa kamu akan minta maaf tanpa mengetahui kebenarannya? Tidak. Bagimu, aku seorang pembunuh. Pergilah! Aku tidak ingin mengingat masa lalu diantara kita."


Semua ucapan Asfa bagaikan peluru yang mengenai tepat sasaran. Tidak ada yang salah karena semua itu benar adanya. Jika bukan karena mengetahui kebenaran akan kejahatan sang papa. Mana mungkin kini dirinya berdiri dibawah derasnya hujan hanya untuk memohon ampunan. Sudah pasti benteng kebencian menguasai hati, dan menghalangi kata maaf terucap.

__ADS_1


"Asfa....,"


"NO! Kata TALAK dari mu bukan hanya mengharamkan kamu menyentuh diriku, tetapi juga menghancurkan kepercayaan, rasa hormat dan belas kasihku." Asfa membiarkan luka yang selama ini terpendam terkuak menjadi air mata yang tak lagi mampu ditahan. "Tidak ada Abhi dalam hidup Asfa, dan tidak ada Asfa dalam hidup Abhi. Semua telah berakhir, hubungan dan kisah kita tidak ada yang tersisa."


"Ku mohon, maafkan aku." pinta Abhi menatap nanar Asfa, dimana wanita itu memilih memalingkan wajahnya dengan mendongak menatap langit. "Aku tahu perbuatanku tidak termaafkan, tapi kuharap masih ada pintu maaf untuk ku. Jika mungkin, berikan aku satu kesempatan saja."


Apapun yang Abhi katakan, Asfa masih terdiam. Tidak ada jawaban ataupun membalas tatapan mata penyesalan dari pria itu, hujan yang mengguyur semakin deras. Rasa dingin yang mulai dirasakan, tetap saja keduanya enggan berpindah tempat. Meski hanya untuk sekedar berteduh. Hingga sorot lampu dengan suara deru mesin terdengar mengalihkan perhatian Queen.


Mobil yang datang berhenti, lalu pintu depan terbuka dengan sebuah payung dibuka. Seseorang keluar seraya menutup pintu mobil. Langkah kaki nya berjalan menghampiri wanita yang kini basah kuyup dengan wajah memucat. Tatapan sinis sekilas terarah pada Abhi.


"Done?!" tanyanya setelah berhenti di samping Asfa dengan tatapan tanya.


"Hmmm." jawab Asfa mengangguk, tapi tatapan mata birunya melirik ke arah Abhi.


Ada sisa rasa yang tak mungkin diabaikan, akan tetapi tidak mungkin ditunjukkan. Tak ingin mengikuti kata hati, membuat Asfa memilih melangkah meninggalkan tempatnya berdiri menuju mobil dengan payung yang menghalangi hujan membasahi raganya. Sebelum membuka pintu, sesaat tarikan nafas dalam dengan menoleh ke belakang.

__ADS_1


Tatapan Abhi bahkan tak lepas menatap dirinya. Hal itu semakin melemahkan sisi wanitanya. "Ka, bawa dia ke mobil!"


"Are you serious?" tanya Varo terperangah dengan permintaan sang adik.


"Anggaplah sebagai perpisahan. Tidak ada salahnya membantu sesama manusia, aku masuk." jawab Asfa membuka pintu samping, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.


Apapun yang ia lakukan hanya ingin menenangkan badai di dalam hatinya. Badai yang selama ini terpendam. Meskipun hubungan pernikahannya hanya sesaat, tetap saja bukti dari ikatan suci itu kini bernafas menyinari kehidupan gelapnya.


Ntah apa yang Varo katakan, sehingga dalam waktu singkat kembali masuk ke mobil bersama Abhi yang harus duduk di bangku belakang. Tak ingin mendengarkan banyak pertanyaan, Asfa memilih memejamkan mata.


"Kemana aku harus mengirim mu?" celetuk Varo dengan nada kesal, sedangkan yang ditanya justru terpatri menatap Asfa dari kaca spion tengah. "Ekhem!"


"Ka! Biarkan aku tidur." Ucap Asfa memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Helaan nafas sang kakak terdengar jelas, membuatnya merasa bersalah. Selama ini semua keputusan tidak pernah dibantah, atau dipertanyakan, tapi setiap kali dalam situasi mendesak. Justru kakaknya harus mengalah.

__ADS_1


Maafkan, adikmu ini Ka. Aku hanya ingin melepaskan semua masa lalu tanpa membuat luka yang baru. Aku tahu, kakak tidak tahan dengan keberadaan Abhi. Suatu saat nanti kakak akan paham dengan semua keputusanku.~batin Asfa menahan duka hatinya.


__ADS_2