My Secret Life

My Secret Life
Bab 42: Menantu ajaib


__ADS_3

Kepergian mertua nya membuat sebuah senyuman devil terbit di bibir gadis itu, Justin yang menyadari itu harus menelan saliva nya dengan susah payah. Terbiasa yah memang sudah terbiasa tapi rasa dejavu akan senyuman iblis itu yang tidak pernah menjadi biasa untuk nya meskipun dirinya juga kejam jika menyangkut seorang pemain curang.


"Siapkan kejutan untuk boneka ku! Sudah waktu nya aku bermain." perintah Asfa dengan lembut namun menghanyutkan.


Tanpa menjawab, satu benda pipih di saku nya diraih dengan mendial sebuah number. Terdengar beberapa saat percakapan yang membuat pria itu bertindak layaknya seorang pemimpin, percakapan selesai dan menatap queen nya yang masih setia duduk dengan kaki nya menyilang di atas sofa.


"Done.(Selesai.)" ucap Justin singkat dan dibalas senyuman iblis sekali lagi.


Sedangkan di dalam sebuah mobil van hitam dengan kaca anti peluru terdengar berondongan pertanyaan yang di ajukan pasangan suami istri kepada assisten putra nya, kepala assisten itu hampir saja meledak jika tidak terbiasa menangani masalah klien yang terkadang banyak maunya.


"Tuan dan Nyonya, sungguh saya seperti kalian yang terkejut dengan berita hari ini bukankah kalian melihat saya juga pingsan karena tuan pemaksa itu." jawab Leo yang masih setengah konsentrasi dengan menyetir mobil.


"Benar sih pa, sudahlah pa kita bahas saja dirumah dan kamu Leo tolong jaga Abhi untuk sementara." ucap Bunda Aliya dan menenangkan suaminya.


Setelah mobil memasuki sebuah gerbang dengan rumah mewah berlantai tiga yang masih minim penjagaan dan keamanan, kecuali dua satpam yang menjadi bagian dari pintu masuk.


"Bi apa tuan muda masih istirahat? " tanya bunda Aliya setelah memasuki kediamannya.


"Masih Nyonya, belum ada panggilan dari tuan sejak pagi." jawab seorang pelayan yang membukakan pintu.


"Astaga kalian ini! " gerutu bunda Aliya yang langsung berlari menuju lift untuk ke kamar putra tunggalnya di ikuti suaminya yang juga ikut panik.


Kedua nya terlihat cemas, karena keadaan putra nya saat ini cukup tidak baik namun tidak ada seorang pun yang menemani putra nya. Hingga lift berhenti di lantai tiga dimana di lantai teratas itu hanya ada tiga kamar utama, yaitu kamar mendiang Tuan besar, kamar putra pertama tuan besar dan terakhir kamar cucu tuan besar yaitu Abhi.

__ADS_1


Kedua langkah pasangan itu semakin terburu-buru hingga di putarnya knop pintu yang sengaja di bebaskan dari kunci password semenjak putra nya kembali untuk memudahkan pelayan membantu menjaga putra mereka. Ada rasa syukur yang terbit di hati kedua pasangan itu ketika melihat putra mereka masih terlelap dengan tenang, ada terpaan angin yang berhembus membuat bunda Aliya memalingkan wajahnya ke arah jendela yang ternyata terbuka lebar.


Di dekati nya jendela kamar putra nya yang menghadap ke arah samping rumah dimana di luar sana berbatasan dengan dinding adalah jalan umum untuk manusia Komplek perumahan elite, namun mata nya melihat ada jejak kaki dengan tanah yang terlihat keluar masuk ke dalam kamar putra nya. Di lihatlah seluruh kamar putra nya namun tidak ada yang mencurigakan selain jejak tanah itu, perasaan nya mengatakan ada yang tidak beres tapi di urungkan nya untuk memberitahu suaminya.


"Biarkan Abhi istirahat pa, kita biarkan Leo menjaga Abhi." ajak bunda Aliya setelah menutup jendela kamar putra nya.


"Ayo bund, kita juga harus menyelesaikan masalah kita." jawab Papa Mahardika dengan meraih pinggul istri nya untuk meninggalkan kamar putra mereka.


"Leo jaga Abhi! " perintah Papa Mahardika yang melihat pemuda itu sudah stand by di depan pintu.


"Tentu tuan." jawab Leo menunduk dan masuk ke kamar boss nya.


Dilihat nya keadaan pria yang selama ini menjadi atasannya, meskipun pucat dan lemah tapi tidak mengurangi ketampanannya. Hanya saja dirinya masih tidak paham kenapa istri boss nya itu masih belum menampakkan diri di hadapan boss nya yang kini kondisinya tengah tidak baik, tanpa di sadari dirinya jika sosok yang tengah di bicarakan di dalam hati nya itu bisa melihat dan mendengar tanpa harus berada disamping suaminya.


"Tiga proposal dalam satu tanda tangan, sehebat apa istri putra kita ini? Aku seorang pembisnis dari muda saja masih tercengang dengan proposal menantu kita." ucap tuan Mahardika memijat pangkal hidung nya untuk mengurangi rasa pusing yang menerjang kepalanya.


"Ntahlah pa, bunda saja tidak paham dengan bisnis langsung bisa ikut tercengang dengan proposal ajaib ini." jawab bunda Aliya menyadarkan kepala nya pada dada bidang suaminya.


"Lalu bagaimana sekarang? Tidak ada yang salah dengan proposal menantu kita, tapi apa sebagai orang tua, kita tidak berdosa terhadap putra kita? " tanya tanya bunda Aliya yang memejamkan matanya.


"Mungkin ini resiko kita bund memiliki menantu yang misterius, dan kamu benar pasti menantu kita itu sudah tahu segala resiko dengan membuka jati dirinya di depan kita. Ayo kita dukung menantu kita, papa percaya Abhi akan memahami semuanya suatu saat nanti." jawab papa Mahardika dengan mengelus rambut istrinya, dihirupnya harum shampoo coklat yang menjadi favorit istri nya menenangkan.


"Bunda adalah istri yang akan mensupport semua keputusan suaminya selama itu demi kebaikan keluarga kita." ucap bunda Aliya memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


Dengan pasti di bukanya kembali map hitam itu dan satu bulpoint istimewa yang selama ini menemani tugas nya sekali lagi digunakan untuk membuat perjanjian meskipun bukan perjanjian bisnis melainkan perjanjian istimewa dengan segala resiko yang masih belum terlihat, diberikannya bulpoint itu di jemari istrinya.


"Giliran mu bund." ucap lembut tuan Mahardika.


"Sudah pa, kapan papa akan menyerahkan ini? " tanya bunda Aliya setelah ikut menandatangani map hitam itu.


"Besok atau nanti papa tanya saja Leo atau Justin biar jelas." jawab papa Mahardika.


Namun sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam benda pipih yang sudah tergeletak di atas meja didepannya, dengan santai di bukanya dengan sidik jari tangannya. Terlihat sebuah nomer baru dengan pesan yang terlihat menarik untuk dibuka, satu tekan pesan itu terbuka dan kini kepala nya hanya menggeleng karena harus menerima sebuah kenyataan, dimana sang pengirim pesan sangatlah pintar melebihi keluarga nya.


"Pa? " tanya bunda Aliya yang langsung disodorkan benda pipih oleh suaminya.


[Welcome to My Family, Daddy Mahardika with Mommy Aliya.] ~[Selamat Datang dalam Keluarga Ku, Ayah Mahardika dengan Ibu Aliya. ]


"Astaga sebaiknya bunda pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan sebelum semua berlanjut, kenapa menantu ku berubah menjadi ajaib." gumam nya lirih yang masih terdengar oleh suaminya.


Di usap nya bahu istrinya agar tenang dan sabar menerima kenyataan, meskipun dirinya juga sama terkejut nya. Namun istrinya lebih membutuhkan ketenangan agar bisa terbiasa dengan taktik dan cara berfikir seorang pembisnis di dalam diri menantu mereka.


...................


"**Pulaang! " satu perintah dari seberang telfon membuat satu pasang mata mengerjap.


"Kalian bereskan ini! Jangan ada jejak." ucap nya dan meninggalkan kekacauan yang baru saja di buatnya.

__ADS_1


Mendengar satu ucapan dari pimpinan mereka, membuat para otot itu mengangguk serempak dan membiarkan pemimpin mereka pergi begitu saja**.


__ADS_2