My Secret Life

My Secret Life
Bab 119: Identitas Rania


__ADS_3

"Ayo bunda, antar Abhi ke kamar." tukas Abhi mencoba mengalihkan fikiran bunda Aliya yang pasti tengah travelling.


"Ayo nak." balas bunda Aliya.


Sedangkan di mansion Asfa, di dalam kamar yang gelap langsung berubah menjadi terang benderang dan kamar yang sudah seperti kapal pecah menyambut kedatangannya. Dengan langkah pelan menyusuri bola-bola kertas yang berserakan di segala arah.


Dengan sekali putaran knop pintu kamar mandi terbuka, harum aroma therapy bunga lavender menyeruak masuk ke hidungnya.


"Aku tidak akan memaksa mu untuk melakukan permintaan ku, tapi fikirkan sekali lagi. Semua keputusan ada di tangan mu Varo." ucap tuan besar yang langsung memasuki telinga Alvaro yang tengah menenggelamkan tubuhnya di dalam bath tub.


Tidak aja jawaban ataupun pergerakan dari Alvaro, membuat Tuan Besar memilih meninggalkan kamar putranya dan melanjutkan tugasnya melihat keadaan calon menantu dadakannya.


Apakah ada yang berfikir tentang keputusan Tuan Besar, memilih seorang remaja seperti Rania untuk menjadi bagian keluarga Luxifer? Padahal banyak relasi perusahaannya yang pasti memiliki wajah dan kedudukan setara, namun menjodohkan putra yang usianya sudah matang dengan gadis remaja seperti Rania pasti membutuhkan pemikiran yang matang.


Flashback


"Nak, apa maksudmu? Menikahkan kakakmu dengan gadis labil itu?" cecar Tuan Luxifer dengan mata tajam menatap putri tercintanya.


"Papa sungguh tidak tahu siapa Rania?" tukas Asfa dengan menaikkan satu alis kanannya.


Hening...


"Kenapa papa dan kakak selalu melupakan, jika darahku juga sama seperti kalian? Aku juga putri papa dan mama Naura! Apa kalian meragukan ku?" dengan lembut Asfa menyindir Tuan Luxifer yang langsung memejamkan matanya.


Benar ucapan Asfa ketika dirinya dan Alvaro lebih memilih melakukan banyak hal secara diam dan membiarkan hidup putri raja mereka dalam keadaan damai, dan setiap orang yang memasuki naungan Mafia Phoenix pasti akan jelas asal-usulnya meskipun kenyataannya orang itu hanyalah gelandangan tanpa nama.Begitu pula dengan identitas Rania yang diketahui oleh Tuan Luxifer sejak awal, tapi sungguh tujuannya hanya melindungi Rania dari orang-orang yang mengincar remaja itu.


"Keputusan di tangan papa, aku hanya ingin Rania menjadi istri kakak terhebatku. Dan aku percaya Rania mampu mendampingi ka Varo meskipun badai menerpa keluarga kita, Rania akan menjadi belahan jiwa ka Varo." jelas Asfa dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu siapa Rania?" tanya Tuan Luxifer dengan serius.


Wajah tegang Tuan Luxifer membuat Asfa menggelengkan kepalanya, baru kali ini papanya itu memiliki rasa ragu akan sesuatu. Dengan tenangnya Asfa merengkuh tangan Tuan Luxifer dan menatap papanya dengan penuh kasih sayang, hanya sebuah kebenaran yang ingin menemukannya jalannya.


"Rania Carlotte, putri tante Aliska. Seorang wanita yang terdampar dalam ilusi cinta, tapi aku percaya papa hanya mencintai mama Naura." tutur Asfa dengan mengusap tangan Tuan Luxifer dengan ketegasan atas rasa percaya pada sosok pahlawan pertamanya itu.


"Apa Diego?" gumam Tuan Luxifer.


"No! Aku tahu papa memiliki bayangan tapi papa lupa tentang gadis ber-IQ sempurna. Bukankah papa menciptakan gadis yang sempurna?" bantah Asfa dengan memberikan pertanyaan yang membuat Tuan Luxifer bungkam.


Gadis sempurna yang harus jatuh bangun dalam memperlajari semua ilmu pengetahuan umum, bisnis, IT dan lainnya tanpa mengenal waktu dan tempat. Gadis sempurna itu adalah putrinya sendiri, diam dan bertindak itulah prinsip yang menjadi warisannya.


"Rania mampu menanggung beban menjadi menantu keluarga Luxifer. Sang menantu mafia Phoenix, dan tugas kita untuk mempersiapkan gadis itu." tanpa melepaskan usapan tangannya, Asfa masih saja menyampaikan sudut pandangnya.


"Akan papa fikirkan, pergi lah." pengusiran halus Tuan Luxifer yang membutuhkan waktu untuk berfikir dengan ucapan putrinya namun masih berat sebelah, dimana fikirannya tertuju pada putranya.


"Papa akan memikirkan saranmu, tapi bisa jawab satu pertanyaan papa padamu?" cetus Tuan Luxifer.


"Bagaimana jika Aliska kembali? Kamu tahu apa akibatnya? Apa kamu sanggup.." tegas Tuan Luxifer dengan menyelami mata biru putrinya.


"Aku siap." sela Asfa dengan tegas dan mantap tanpa menunggu ucapan Tuan Luxifer selesai.


"Kamu tahu kan nak, jika Aliska kembali maka kakakmu akan mengalami masalah!" tegas Tuan Luxifer berbalik menggenggam tangan Asfa.


"Tante Aliska tidak akan melukai Rania terlebih melukai ka Varo, percaya lah pa." balas Asfa dengan mantap.


"Apa yang kamu lakukan?" selidik Tuan Luxifer yang merasakan ketidakseimbangan emosi Asfa.

__ADS_1


"Hehe pertanyaan papa lucu. Telfon saja bayangan papa itu, pasti tante Aliska masih bersamanya." jawab Asfa sembari menyodorkan ponsel pintarnya ke Tuan Luxifer.


"Papa percaya kamu nak, papa tidak membutuhkan pembuktian." cegah Tuan Luxifer yang merasakan sebuah ujian dari putrinya.


Mata biru itu jelas tajam dengan pedang yang siap menerjang, kebiasaan putrinya yang terbaik dan tersulit adalah disaat seorang Asfa melakukan seluruh rencana seorang diri. Maka tidak akan ada pengkhianatan.


"Jika papa ragu, papa pasti menemukan solusinya untuk menumpas keraguan itu." ucap Asfa dengan santainya.


"Ternyata putri papa sudah besar, bagaimana dengan pernikahan mu nak?" tanya Tuan Luxifer dengan lembut.


"Aku akan memulai plan B, sudah waktunya melepaskan tanggungjawab ku." jawab Asfa dengan lembut.


"Apa ini tidak buru-buru?" seolah ingin tahu seberapa jauh rencana anaknya, Tuan Luxifer memberikan pertanyaan ulang.


"Just believe me, dad. We can do that.(Percayalah, Ayah. Kita bisa melakukan itu.)" jawab Asfa dengan lembut namun berat.


"Always believe you Queen.(Selalu percaya kamu Queen.)" balas Tuan Luxifer dengan senyuman yang manis.


Yah itu lah percakapan di antara dirinya dan juga putrinya, setelah berfikir selama dua jam akhirnya keputusan mutlak di ambil olehnya. Namun dengan alasan yang tak masuk akal tentu Rania akan protes, alhasil dirinya membuat surat perintah untuk pemindahan kontrak kerjasama.


Dengan menarik kelemahan Rania yang memiliki cita-cita untuk menjadi sang IT Queen, maka dengan itu kontrak kerjasama akan memberatkan pilihan hidup Rania. Cita--cita gadis itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri tapi untuk Tuan Luxifer menjadi berkah tersendiri, tidak sulit membuat Rania untuk menjadi menantunya meskipun dengan cara licik.


Klik...


"Apa aku boleh masuk?"


Bukan jawaban yang di dapat tapi sebuah senyuman di sela isak tangisnya, aneh tapi nyata gadis dengan rambut kuncir satu itu justru tersenyum manis setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Apa kamu terpaksa menerima kontrak kerjasama baru?"


__ADS_2