
"Pindahkan dia ke ruang B7!" titah Justin tepat bersamaan dengan penjaga khusus berhenti di sebelahnya.
"Siap, Tuan." jawab penjaga khusus serempak.
Pintu ruangan tawanan terbuka otomatis, membuat Justin berjalan meninggalkan lorong rahasia membiarkan anak buahnya bekerja. Sementara di rumah sakit utama. Para dokter sudah berkumpul. Keempat dokter yang akan menangani operasi besar dengan konsekuensi nyawa masing-masing. Kenapa begitu? Tentu saja karena operasi yang akan dilakukan adalah operasi cucu sekaligus putri keluarga Phoenix. Bisa dibayangkan. Bagaimana akhirnya jika terjadi kecerobohannya?
Suara pintu terbuka mengalihkan ketegangan para dokter. Kehadiran wanita cantik dengan pakaian khusus menandakan operasi akan segera dimulai. Langkahnya diikuti dua pria tampan dengan tampang kulkas dua puluh pintu. Jangan berpikir untuk menatap mata mereka. Bisa-bisa pingsan saat itu juga.
"Ka, bisa jelaskan tugas mereka semua! Aku harus memeriksa Rose sekali lagi sebelum melakukan operasi." Asfa berjalan menghampiri brankar pasien dimana bayi mungilnya terlelap dalam pengaruh obat bius.
Vans mengikuti langkah Asfa, sedangkan Varo mendekati para dokter dan menjelaskan tugas masing-masing. Hari yang tidak pernah diharapkan, tetap saja terjadi. "Kalian, dengarkan aku!"
"Dokter Wina, dan Dokter Asley, lakukan setiap perintah dari Dokter Vans! Dokter Ilham dan Dokter Cici, lakukan perintah dariku! Tugas kita hanya membantu. Jangan bersuara! Jangan panik! Stay calm down! Kalian mengerti?" jelas Varo.
"Mengerti, Tuan Muda." jawab keempatnya serempak, sedangkan Asfa mengusap wajah Rose dengan tatapan seorang ibu.
__ADS_1
"Nak, bertahanlah! Mommy membutuhkanmu untuk selalu menjadi pelita hidupku. Ayo, kita berjuang bersama. Demi masa depan, mommy untuk Rose, dan Rose untuk mommy." ucap Asfa, lalu memberikan kecupan hangat di kening putrinya.
Vans memegang pundak kiri Asfa. "Sudah waktunya. Semua normal, kita bisa lakukan operasi hari ini, kuatkan hatimu. Rose pasti bertahan."
Ucapan Vans cukup menenangkan hati seorang ibu. Emosi yang membludak di dalam hatinya harus tersingkirkan. Kini saatnya untuk fokus menjadi seorang dokter. Tugas menyelamatkan pasien tidak bisa diganggu gugat. Sesaat Asfa mengatur nafas agar relax dengan memejamkan mata.
Tangan kanannya terulur. "Obat bius!"
Vans memberikan kode jari agar para dokter berjaga di posisi masing-masing. Kemudian, ia mengambil sebuah suntikan dengan jarum terkecil seraya menyambar sebotol obat bius. Suntikan ditarik agar obat dari dalam botol tersedot. Barulah diberikan ke Asfa. Wanita itu bahkan tidak gemetar di saat memberikan obat bius ke lengan mungil putrinya sendiri.
Perintah demi perintah dilakukan step by step. Lampu operasi sudah menyala sejak perintah pertama. Wilayah yang menjadi tempat operasi benar-benar dijaga ketat. Semua itu terlihat dari barisan bodyguard sepanjang lorong rumah sakit lantai teratas. Tidak ada yang berani berbisik. Justru semua orang di dalam rumah sakit utama berdoa demi keselamatan calon pewaris tahta.
Satu jam kemudian, sebuah mobil memasuki parkiran rumah sakit utama. Mobil van hitam yang berhenti tanpa memarkirkan mobil dengan benar, membuat si pengemudi bergegas keluar. Kemudian berlari memasuki pintu rumah sakit. Tidak seorangpun berani menghentikan langkah orang itu. Justru semua orang membungkuk sebagai penghormatan.
Lift yang biasanya jarang digunakan. Hari ini menjadi jalan pengikis waktu. Hanya hitungan detik. Ia sampai di tempat tujuan. Tatapan menunduk para bodyguard dibiarkan karena tujuannya hanyalah ruang operasi. Lorong sepanjang dua puluh meter terlihat begitu panjang. Tidak seperti biasanya, atau hanya firasatnya saja.
__ADS_1
Tap!
Tap!
Tap!
Deru nafas memburu tak dipedulikan. Keringatnya membanjiri kaos yang ia kenakan. Tatapan mata tertuju pada lampu merah yang menyala di atas pintu ruangan operasi. Rasa cemas semakin melanda. Setiap detik yang berlalu semakin menambah rasa takutnya.
"Bertahanlah, Nak."
Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu operasi. Satu kali, dua kali, lima kali. Namun, operasi masih berjalan. Hingga lampu merah padam setelah menanti selama setengah jam. Tidak ada rasa sabar yang tersisa. Maka lebih baik masuk langsung saja ke dalam ruangan operasi.
Ceklek!
"Bagaimana?"
__ADS_1