My Secret Life

My Secret Life
Bab 139: Best wedding with surprise day


__ADS_3

Asfa kembali membenamkan wajahnya, menikmati usapan tangan sang papa di atas kepalanya. Sedangkan di dalam villa, Abhi menjadi patung dengan tatapan selidik dari 2 orang beda generasi.


"Jadi? Apa kamu tahu siapa itu Asfa?" sindir Alvaro dengan menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.


Abhi merasakan hawa panas menyelimuti sekitarnya, memangkas oksigen untuk di hirup. Bukan hanya tatapan Alvaro yang siap memangsa, tapi tatapan nenek Ara pun lebih tajam dan diam seribu bahasa.


Bagaimana aku tahu siapa Asfa? Bahkan kalian semua seperti puzzle tanpa potongan gambar lengkap.~ batin Abhi menelan saliva.


"Aku hanya ingin menikah ulang, dan memulai hubungan baru dengan cara yang benar. Apakah itu salah?" tutur Abhi dengan menatap Alvaro.


Satu senyuman smirk terbit. Abhi bisa melihat betapa senyuman Alvaro memiliki arti tersembunyi. Ada rasa was-was menyergap hati Abhi, ternyata hobi keluarga Asfa membuat dirinya terkena skot jantung. "Malam ini adalah malam special Asfa, lakukan apapun agar senyuman diwajah my doll terbit. Ingat, senyuman asli bukan senyuman palsu!"


"Apa? Senyuman asli? Senyuman palsu?" ucap ulang Abhi dengan alis terangkat.


Apa arti ucapan Alvaro, sungguh membuat Abhi memiliki tanda tanya besar. Selama ini yang tersaji adalah senyuman manis Asfa, itulah yang Abhi tahu. Tapi tidak dengan Alvaro dan keluarganya. Dimana mereka tahu senyuman Asfa sama seperti topeng identitas gadis itu, bermain ekspresi adalah keahlian Asfa.


Hening…


"Siapkan dirimu malam ini!" Nenek Ara menyudahi rasa penasaran Abhi dan memberikan kode pada Alvaro untuk pergi.


"Tapi apa…"


Nenek Ara meletakkan jemari didepan bibir, menatap Abhi dengan serius. "Asfa tidak menyukai pria cerewet! Ikuti aku!"


Tanpa menunggu jawaban. Nenek Ara melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tamu. Abhi hanya mengekor dengan fikiran terbang tanpa tujuan, pertanyaan demi pertanyaan semakin menumpuk. Bahkan dokumen perusahaan lebih mudah dari kerumitan sang istri.


Bug…


"Fokus boy! Musuh keluarga kami tak kenal tempat, pastikan fokus dimanapun kamu berada." tutur Nenek Ara yang baru saja ditabrak Abhi dari belakang.


Abhi menunduk, merasa malu dengan tindakan cerobohnya. Keduanya berhenti didepan sebuah lift khusus. Nenek Ara menekan tombol lift untuk ke lantai atas.


Tiiing..


Nenek Ara melambaikan tangan agar Abhi ikut masuk, keduanya menuju ke tempat tertinggi dari villa. Lift terbuka setelah 3 menit, hembusan angin menyambut kedatangan nenek Ara dan Abhi. Mata Abhi membulat sempurna, rasa takjubnya tergambar jelas dari binar mata biru miliknya. "Ini…"


"Desain seperti impian mu. Buatlah kenangan kalian di tempat ini. Rhey kemari!" ucap nenek Ara dan memanggil seorang pria paruh baya dengan pakaian jadul.


Rhey dengan sigap memenuhi panggilan nyonya besarnya. Dengan mata menunduk dan membuat Abhi penasaran berapa usia Rhey, karena wajah pria itu terlihat awet muda. "Berapa umur anda?"


Sontak nenek Ara mendelik, membuat Abhi kikuk. Sedangkan Rhey hanya tersenyum simpul, menunggu perintah nyonya Ara.


"Ini Abhi calon suami Nona muda. Jelaskan tentang hari esok. Dan bantu Abhi menyiapkan acara untuk malam ini! Pastikan satu gelas, jangan berfikir menambah!" jelas nenek Ara dengan tegas.


Rhey mengangguk tanpa bantahan, satu kalimat terakhir menjelaskan arti perintah yang sebenarnya. Perintah dimana dirinya harus tutup mulut meskipun boom pertanyaan akan di utarakan dari sosok pemuda di depannya itu. "Mari."


"Pergilah, ingatlah permintaan Alvaro. Dan pastikan jangan ceroboh." ucap nenek Ara dan meninggalkan Abhi bersama Rhey diatas Villa.


Kepergian nenek Ara, membuat Abhi terbebas dari rasa sesak. Rasanya beban dipundak terlepas begitu saja. Rhey melihat wajah Abhi yang lega. "Jangan pernah bermain dengan keluarga Phoenix, nak. Darimana kamu berasal? Pastikan jangan menyakiti nona muda."


"Sebenarnya siapa keluarga Phoenix itu? Aku sungguh seperti manusia planet lain, ku fikir istriku seorang pelayan. Tapi disini, aku menemukan keluarga utuh istriku. Kenapa rumit sekali." keluh Abhi tanpa ada saringan.


"Hehehe kamu ini lucu." Rhey merasa geli dengan keluhan Abhi, tangan Rhey masih memberikan isyarat pada para pelayan untuk mengerjakan ini dan itu.


"Apakah aku bodoh? Atau memang aku terlalu sibuk bekerja." tukas Abhi tanpa mempedulikan kekehan Rhey.


Rhey menghentikan langkah kakinya. Menatap Abhi dengan keseriusan. Abhi membalas tatapan Rhey tanpa kedipan. "Phoenix adalah mafia terkuat dari mafia lainnya. Baik di kota ini, ataupun dibelahan negara lain. Keluarga Phoenix adalah satu tanaman kokoh dengan akar kuat. Jangan memandang mereka dengan niat jahat, apalagi mencoba memotong salah satu cabang. Karena kemarahan satu anggota Phoenix bisa membakar keluarga mu hidup-hidup. Jujur saja, aku salut dengan mu. Berdiri di sisi nona muda kami. Bertahanlah jika kamu mampu bertahan."


Kata mafia Phoenix, membuat Abhi mengingat sesuatu. Sesuatu yang sangat tak asing, tapi pukulan pelan di bahu. Membuat Abhi tersadar, bukan saatnya memikirkan seperti apa itu mafia Phoenix. "Apa maksud dari hari special Asfa?"


Tangan Rhey menunjuk ke sudut teras. Dimana dinding kaca dengan panjang 4 meter terbentang, disana ada sebuah tulisan. Abhi mengucek kedua matanya. "Artinya malam ini akan menjadi hari terpenting Asfa. Baiklah. Ayo bantu aku membuat hari Asfa penuh warna."


Rhey hanya tersenyum simpul, melihat semangat Abhi yang berkobar. Jelas terlihat cinta di mata Abhi, dengan riangnya Abhi menjelaskan rencana untuk malam nanti. Para pelayan yang mengikuti breafing, dibuat melongo. Cara Abhi menjelaskan terlalu rinci, bahkan terkesan perfctionist. Rhey bahkan sampai menggelengkan kepalanya.


Semua bahu membahu menciptakan impian seorang Abhi demi nona muda mereka. Setiap satu senyuman Asfa akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penghuni Villa, terlebih hari ini adalah hari pertama nona muda mereka berkunjung.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, hingga Abhi turun dari atas untuk beristirahat sejenak. setelah proses panjang membuat maha karya cinta untuk pertama kalinya. Villa terbilang sepi dan sunyi.


Ceklek…


Kamar tak terkunci, membuat Abhi menatap ke arah kasur king size dengan sprei hitam. Satu sosok terlihat terbalut selimut tebal merah maroon. Abhi mendekati sosok itu, wajah mungil dengan bibir menggoda terlelap tanpa dengkuran. Tangan Abhi terulur, mengusap lembut pipi istrinya.


Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi, biarlah aku tetap bersamamu. Mata mu selalu menjadi magnet, dengan senyuman termanis mu. Ketakutan ku lenyap, setiap kali kamu bersamaku. Asfa, aku siap menjadi apapun yang kamu mau. ~ batin Abhi dengan terbitnya senyuman diwajahnya itu.


Rasa lelah membuat Abhi memilih sofa sebagai tempat istirahatnya. Masih ada jarak yang tak ingin di rengguk secara paksa, satu hal pasti yang Abhi pahami. Asfa bukan gadis penurut, dan sikap bar-bar yang beberapa kali terjadi membuat Abhi menjaga tindakannya.


Beberapa jam kemudian…


"Eeeuuumhh."


Mata Abhi terbuka, namun tidak ada sosok mungil di atas tempat tidur. Yang ada justru sosok pria kekar dengan usia seperti papanya. "Anda.."


"Sudah bangun? Duduklah!" titah tuan Luxifer dengan serius dan menghampiri Abhi.


Dua pria itu saling duduk berhadapan. Abhi merasakan aura dingin, aura yang sama seperti saat dirinya bersama Asfa. Penekanan atmosfer seakan menjadi hobi keluarga Asfa dan pria di depannya itu, bahkan masih terdiam dengan tatapan selidik ke arahnya. "Apa kamu siap mengorbankan nyawa, untuk putriku?!"


"Aku siap! Anda bisa mengujiku, seperti Asfa mengujiku." jawab Abhi dengan jujur dan tegas.


"Hehehe. Bahkan kamu tidak tahu siapa putri ku! Jangan terlena boy. Dia bukan gadis dengan fashion tanpa arti. Apa kamu ingat rapat terakhir?" cecar tuan Luxifer dengan kekehan sinis.


Rapat terakhir dengan tamu delegasi asing, rapat itu justru Asfa yang menghandle. Bahkan dirinya tidak ingat apa yang terjadi, karena terlalu sibuk melamun. "Sudahlah. Bersiaplah. Hafalkan ini."


Dengan secarik kertas di atas meja. Tuan Luxifer meninggalkan Abhi tenggelam dalam lamunan. Yah dirinya hanya datang untuk memberikan kertas dengan tulisan untuk ikrar suci putrinya. Abhi membuka kertas putih dengan tinta merah. "Saya Terima nikah dan kawinnya Queen Asfa Luxifer binti Luxifer dengan...."


Queen Asfa Luxifer binti Luxifer? Artinya selama hampir dua bulan, aku dan Asfa bukanlah suami istri! Lalu, kenapa Asfa tetap merawatku? Bahkan tidak keberatan menemani masa terburuk dalam hidupku? Asfa siapa kamu sebenarnya? Kenapa semakin banyak pertanyaan tanpa jawaban! Ketegaran mu membuatku malu. Rasa curiga didalam hatiku, membuat ku tak pantas untukmu.~ batin Abhi dan tanpa sadar cairan bening merosot jatuh tanpa izin.


Dua jam kemudian....


Villa disulap menjadi istana bunga dengan lampion gantung di seluruh penjuru villa. Tak ada suasana gelap dan temaram, semua orang bergembira. Riuh dengan suara heli hilir mudik. Mendadak villa di wilayah terlarang menjadi ramai, keriuhan itu berbanding terbalik dari dalam kamar mewah dengan nuansa gelap. Gadis yang akan menjadi pusat perhatian masih menikmati mimpi indahnya.


Rania bahkan ikut mengoyangkan tubuh Asfa. Tapi Asfa masih menikmati waktu istirahatnya. Hingga usapan lembut menyentuh keningnya. "Finally you come!(Akhirnya kamu datang!)"


Alvaro melambaikan tangannya, membuat nenek Ara mendengus sebal. Cucu bungsunya itu benar-benar tak menganggap dirinya ada, sudah pasti ultimatum itu tengah berlaku. "Pastikan tepat waktu."


Alvaro mengangguk paham dan melirik Rania yang masih diam di tempat. Kepergian nenek Ara, membuat Asfa membuka mata. "Semua beres ka?"


"Don't worry doll. Everything done.(Jangan khawatir doll. Semua selesai.)" jawab Alvaro mengedipkan matanya.


Rania tidak paham arah pembicaraan kedua kakak adik itu. Meskipun Alvaro dan Asfa tidak menggunakan bahasa isyarat. "Kalian membahas apa? Aku tidak paham."


"Aku bersiap dulu. Kalian bicaralah." pamit Asfa dan melarikan diri kedalam kamar mandi.


Persiapan Asfa dibantu oleh Alvaro dan Rania. Sedangkan persiapan Abhi dibantu Rhey dan juga Leo yang ternyata sudah di angkut ke villa.


"Waah nikah dua kali. Bagaimana rasanya boss?" tanya Leo yang kini tak lagi memakai kacamata.


Puk...


"Auw. Kenapa dipukul! Aku..."


Abhi mendelik tajam, Leo sungguh semakin tak tahu tempat. Dulu Leo terkesan kalem dan pemalu, sekarang menjadi over ekspresi. Ntah belajar dari mana assistantnya itu. "Aku lupa tentang maharnya. Bagaimana ini?"


Leo mengambil tas jinjingnya dan memberikan ke Abhi. "Ambillah! Kuharap ini sesuai selera Tuan Abhishek Alka Bagaskara."


Sreeet... (Abhi membuka resleting tas jinjing)


Sejenak mengecek apa yang dibawa Leo. Mata Abhi berbinar dengan senyuman puas. Leo sangat memahami bagaimana karakter dan seleranya. "Perfect."


"Pastinya. Aku sahabat anda juga tuan." tukas Leo mengedipkan mata yang langsung membuat Abhi memutar bola matanya.


"Ekhem! Ayo sudah waktunya." Rhey mencoba mengingatkan waktu yang akan segera berlalu.

__ADS_1


Abhi ditemani Leo dan Rhey keluar kamar dan menuju tempat pelaminan. Dimana aula disulap menjadi tempat romantis yang sungguh menakjubkan, bunga bertebaran dengan lampu gantung.


"Ayo duduk! Kita mulai pernikahannya." titah pak penghulu menggunakan microfon, membuat Abhi terserang penyakit gugup.


Rhey mengusap pundak Abhi dan menuntun pria kekar itu ke tempat sakral. Dengan tenang, Rhey membantu Abhi duduk di tempat seharusnya. Tuan Luxifer bahkan sudah siap tanpa keraguan. "Mari pak di mulai."


"Baik pak. Tolong katakan bagaimana dengan maharnya?" tanya pak penghulu menatap Abhi.


Leo bergegas memberikan tas jinjingnya. "Ini mahar boss saya. Silahkan pak penghulu."


"Baik, kita mulai..."


Panjaran doa dan puji syukur memulai acara sakral, Abhi mendapatkan ketenangan ketika do'a dibacakan. Tangan tuan Luxifer terulur dan mendapatkan sambutan tangan Abhi. Kedua pria itu seakan sepakat saling memandang tanpa kedipan.


"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Abhi bin Mahendra Alka Bagasakara dengan putri kandung saya Queen Asfa Luxifer binti Luxifer dengan mas kawin 50 persen saham ABF Company dibayar tunai!" ucap Tuan Luxifer dan menghentakkan tangannya.


Satu tarikan nafas, membuat Abhi fokus. "Saya Terima nikah dan kawinnya Queen Asfa Luxifer binti Luxifer dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu dengan menatap para tamu undangan.


"Saah...." jawab para tamu undangan.


"Alhamdulillah..." balas pak penghulu dengan berdoa kembali.


Keringat dingin Abhi seakan terbayarkan dengan status nyata yang membuat hatinya berdebar tak karuan. Matanya menatap ke arah tangga berulang kali, namun wajah yang di nanti seakan enggan menampakkan diri. Leo menyenggol lengan Abhi dengan lirikan mata tepat sorot lampu mengarah tangga.


Tak... tak... tak...


Suara langkah kaki dengan heels mengambil seluruh perhatian semua orang. Balutan gaun putih dengan desain elegant, bunga ditangan dengan rambut tergerai. Riasan tipis diwajah mungil itu semakin meningkatkan kecantikan Asfa. Semua mata mengikuti setiap langkah kaki Asfa, bisikan atas kekaguman terdengar jelas.


Abhi hanya bisa terdiam nengekori pergerakan Asfa dengan mata birunya. Tangan Leo menahan tubuhnya berpindah, membuat tuan Luxifer menghampiri putri rajanya. Tangan pria itu terulur dan Asfa menyambut tangan sang papa dengan senyuman terbaiknya.


"Papa berharap ini yang terbaik." bisik tuan Luxifer dan mampu di dengar Asfa.


Tidak ada jawaban selain tatapannya terpaku pada Abhi. Kini status istri sudah sah disandang oleh Asfa. Status itu menjadi langkah pertama Asfa mencapai tujuannya. Asfa mengulurkan tangan ketika langkah kakinya berhenti didepan tempat sakral


Abhi berdiri dan menyambut uluran tangan Asfa. Tanpa menunggu ucapan pak penghulu, Abhi mendekati Asfa dan memberikan kecupan pertama dikening Asfa. Kecupan lama dengan rasa syukurnya. "Terimakasih sudah memilihku."


"Nikmati waktu kalian berdua! Abhi bawa Asfa ke tempat impianmu." tutur tuan Luxifer dengan senyuman penuh Arti.


Asfa melirik bagaimana ekspresi sang papa. Pasti ada hal yang akan menyulitkan dirinya. Terlebih Abhi langsung menarik pinggangnya dengan posesif. "Terimakasih tuan."


"Panggil papa! Pergilah. Have fun queen." tukas tuan Luxifer dan mengajak pak penghulu pergi menemui para tamu undangan.


Abhi membawa Asfa pergi, dengan lift khusus keduanya menuju tempat istimewa.


Tiiing...


"Ayo. Ini hanya untukmu." bisik Abhi dengan hembusan nafas hangat.


Gelap...


Tidak ada apapun, meskipun terlihat samar beberapa benda memenuhi tempat dimana kakinya berdiri. Abhi masih terdiam dengan melirik jam di pergelangan tangannya.


Three.....


Two.....


One.....


Kliiik...


"Surprise My wife."


Kegelapan itu berganti dengan sesuatu di luar imaginasi Asfa, mata birunya mengerjap. Ada perasaan haru dan bahagia dengan apa yang dilihatnya. "Semua ini?"

__ADS_1


__ADS_2