My Secret Life

My Secret Life
Bab 222: SIAPA??


__ADS_3

Dirga bertahanlah? Aku akan datang membantumu.~batin Wina mulai mengendap-endap berjalan jongkok di antara pepohonan yang tidak begitu rindang, tapi cukup untuk menjadi penyamarannya saat ini.


"Itu....,"


Satu jari terangkat, dan langsung membungkam bayangan itu. "Periksa mobil itu!"


Seperti perintah Queen. Justin meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghampiri mobil pick up yang terparkir di tepi hutan. Sedangkan Asfa memilih maju mengikuti wanita yang mengendap-endap di depan sana. Langkah kakinya terlalu ringan tanpa suara, membuat Wina tidak menyadari tengah diawasi dari belakang.


Setelah mengendap-endap selama sepuluh menit. Akhirnya Wina berhenti di depan batu besar seraya mengintip ke atas dimana menara pengawas terlihat jelas dari tempatnya.


"Empat penjaga, dan aku memiliki enam peluru di senapan ku. Jika ku lepaskan empat peluru untuk membidik para penjaga menara. Tersisa dua peluru, tapi di dalam sana sudah pasti banyak penjaga yang harus ku lawan. Bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi anggota polisi yang lain?" Wina mempertimbangkan langkah penyerangan demi menyelamatkan rekan kerjanya.


"Apa polisi akan membantumu?" tanya Asfa dengan santainya, membuat Wina terkejut sontak berbalik dengan todongan pistol tepat di depan wajah Asfa.


Asfa menurunkan senjata milik Wina, lalu menatap mata wanita di depannya dengan tajam. "Satu peluru mu akan terbuang sia-sia. Apa kamu tidak membutuhkannya?"


"Siapa kamu? Kenapa disini? Pergilah! Tempat ini bukan tempat bermain." ceramah Wina hanya dianggap angin lalu oleh Asfa.


"Markas mafia Dark Cobra. Pemimpinnya Tuan Mahendra, pekerjaan penyelundupan barang ilegal. Senjata, obat terlarang, dan juga menyewakan pembunuh bayaran." Asfa menunjuk ke arah menara barat. "Satu penjaga di setiap menara. Perlindungan badan lengkap. Tembak saja kepala penjaga itu, maka semua penjaga akan mendapatkan alarm penyerangan."


Wina ternganga mendengar penuturan wanita bertopeng di depannya. Sekali lagi, dirinya menatap Asfa dari atas hingga ujung kaki. Sungguh tidak dapat di sangka wanita bertubuh tinggi, tapi terkesan seperti anak remaja itu menjelaskan tentang mafia Dark Cobra tanpa kesalahan sedikitpun.

__ADS_1


"Queen!" panggil Justin dari belakang, membuat Wina memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


Wajah tampan Justin seperti model kaos di mall pusat. Tampan dengan wajah dingin berotot kekar. Pria itu mendekati queen, lalu menyodorkan ponsel pribadinya. Asfa menerima, dan langsung memeriksa apa yang asistennya dapatkan. Senyuman tipis terbit di balik topeng. Aura yang terpancar menambah hembusan dingin.


"Kalian ini siapa?" tanya Wina dengan menatap Asfa dan Justin secara bergantian.


"Kamu sendiri siapa? Untuk apa nekat mendekati markas Dark Cobra tanpa bantuan siapapun." tanya balik Justin seakan tidak tahu identitas wanita di depannya itu, membuat Asfa melirik sang asisten.


Aku tidak tahu mereka berdua ini musuh, atau kawan. Haruskah aku jujur tentang identitasku? ~batin Wina memasuki dunia lamunan.


Asfa mengembalikan ponsel ke Justin. Setelah membaca identitas wanita di depannya, dan apa alasan wanita itu berada di tempat berbahaya. Tiba-tiba saja satu ide muncul dari dalam benaknya. Sedangkan Justin mengawasi Asfa yang terdiam, karena di balik topeng hitam itu. Pasti ada rencana besar yang bisa menggemparkan dunia.


"Apa kamu ingin menyelamatkan rekan kerjamu?" tanya Asfa memudarkan lamunan Wina.


Asfa memberikan kode jari pada Justin. Agar asistennya itu memberikan ponsel yang berisi tentang identitas dan misi seorang anggota detective kriminal di depannya. Justin membuka kunci layar ponsel, lalu menyerahkan ke Wina. "Baca!"


Ada keraguan di hati untuk menerima ponsel dari pria di depannya, tapi sikap tak biasa dua orang asing itu tidak memberikan sinyal berbahaya. Setelah beberapa saat menimbang, akhirnya ponsel di ambil. Asfa dan Justin membiarkan Wina membaca dengan tenang.


"Kalian ini siapa? Kenapa misi yang ku rancang selama setahun langsung ketahuan." tanya Wina terkejut dengan menyandarkan tubuhnya ke batu, membuat Asfa berjongkok dengan satu kaki bersimpuh sebagai penopang.


"Duke, katakan pada semua pasukan. Penyerangan lima menit lagi! Tinggalkan kami berdua." titah Asfa.

__ADS_1


Justin membungkukkan setengah badan, dan melakukan perintah Asfa tanpa bantahan. Hal itu membuat Wina sadar. Jika siapapun wanita di depannya bukanlah orang sembarangan. Apalagi sosok anak kecil yang tidak tahu tempat untuk bermain.


"Mari tukar posisi." ajak Asfa to the point.


"Apa maksudnya, kamu? Aku tidak ada waktu untuk bermain drama." tukas Wina ngegas.


Asfa mengangkat tangannya, lalu melepaskan topeng yang menutupi wajah manisnya. Saat wajah dengan pahatan sempurna bak dewi langit bermata biru dengan bibir mungil semerah cherry ditunjukkan, membuat Wina terperangah hingga mulutnya menganga kagum.


"Cantik sekali. Apa aku tidak salah lihat?" Wina mengulurkan tangannya. "Cubit aku, tolong."


Asfa memakai topengnya lagi. Lalu menjabat tangan Wina yang terulur. "Jadilah aku, dan aku janji akan bawa rekan mu keluar dari markas itu. Bagaimana?"


Tidak ada jawaban selain anggukan kecil. Aura intimidasi Asfa seperti bius yang memikat wanita itu, dan seperti biasanya. Rencana seorang queen tidak akan pernah gagal. Pasti ada yang berpikir, kenapa Asfa harus menunjukkan identitasnya? Tentu saja setelah mengamati keadaan yang ada, dan melihat setiap perubahan ekspresi Wina. Maka rencana apapun pasti memiliki solusinya sendiri.


Lima menit kemudian.


"Queen! Semua sudah siap. Satu perintah Anda menjadi awal kehancuran pria laknat itu." lapor Justin menghampiri wanita yang bersandar dengan kedua tangannya bersembunyi di balik saku jaket.


Hening.


"Duke! Start!"

__ADS_1


Justin tak paham kenapa suara familiar justru menghampiri earphones di telinganya. Sebenarnya pa yang terjadi selama lima menit?


__ADS_2