My Secret Life

My Secret Life
Bab 67: Kemunculan dokter utama


__ADS_3

Dokter yang ntah siapa dan seperti apa tapi menurut mereka pasti lah dokter itu genius karena ke empat makhluk itu pun merasakan migran setelah melihat berkas kasus pasien kali ini. Jadi tidak mungkin salah satu di antara ke empat makhluk itu melakukan operasi tapi seperti nya wajah pemimpin mereka santai seperti menikmati pantai.


"Apa ada masalah? " tanya Abhi yang merasakan ketegangan dari atmosphere sekilingnya.


"Ayo mulai operasi nya." ucap seseorang dengan suara berat yang memasuki ruangan dan menutup ruangan langsung.


Semua menatap ke arah pintu masuk dan melihat rambut tergulung ke atas dan jas putih lengan panjang membalut tubuh mungil dan lihat lah sepatu sneakers boots hitam yang membuat sosok itu terlihat lebih tinggi. Tapi jantung para makhluk siap terlepas dari tempat nya begitu sosok itu berbalik dan tatapan mata tajam dengan wajah dingin kecuali Alvaro yang justru tersenyum dengan sangat manis.


"Asfa." gumam Abhi yang jelas mendengar suara istrinya.


"Ready queen." ucap Alvaro dan segera berdiri di sisi kanan brangkar dan Asfa di sisi kiri brangkar, sedangkan ke empat makhluk lain nya masih terdiam terpaku.


"Bius!" perintah Asfa dengan menunjukkan isyarat jari dosis bius yang akan digunakan.


Dan Alvaro dengan cekatan melakukan itu, terlihat Abhi berusaha mengatakan sesuatu tapi hal itu di urungkan ketika telinga nya mendengar sebuah bisikan lembut yang menarik kesadarannya ke alam bawah sadar. Sesaat setelah obat bius di suntikkan, terlihat Asfa memastikan obat nya bekerja dengan baik menunggu satu menit dari waktu penyuntikan.


"Jika kalian tidak ingin bekerja, silahkan keluar! " ucap Asfa tegas dan mulai menggunakan kaca mata khusus yang sudah di rancang oleh nya.


"Maaf, kami siap bertugas." ucap Leon dan segera mengambil tempat di posisi yang memang menjadi assistant kedua di sisi Asfa.


Sedangkan Alvaro menjadi wakil dokter utama dan sisa nya melakukan tugas yang sudah diberikan, operasi yang akan berjalan cukup lama. Pasti nya akan menguras tenaga dan juga fikiran mereka, alat-alat mulai dipasang, dari alat bantuan pernafasan hingga alat micro yang menempel di kedua sudut pelipis mata sebagai saluran kontrol ke layar virtual yang ada di atas tubuh pasien.


Selama empat jam operasi besar di lakukan dan beberapa kali team Alvaro melakukan kesalahan namun Asfa bisa mengatasi nya dengan tenang dan cekatan, hingga operasi selesai terlihat wajah gadis itu masih dingin dan tajam.


"Istirahatlah kalian. Aku akan melakukan yang terakhir bersama Duke." perintah Asfa setelah melepaskan sarung tangan putihnya yang ke sepuluh.


"Bukankah operasi nya sudah selesai? " tanya Leon dengan menatap pasien yang kini terlihat lemah namun masih stabil.


"Lakukan perintah queen, tapi jika kalian ingin melihat. Diam dan tenang! " ucap Alvaro yang kini berjalan memutari brangkar dan menghampiri Asfa.

__ADS_1


"Beri kami ruangan." perintah Alvaro dengan menggeser tubuh Leon dan mengambil sebuah alat terakhir.


Terlihat dua makhluk itu saling pandang dan mengangguk sebagai tanda sudah waktu nya, kedua nya bekerja sama untuk memasangkan sebuah alat penyangga untuk kedua kaki dan tangan yang baru selesai menjalankan operasi. Jika di lihat kedua nya seperti sudah terbiasa melakukan kerjasama dan itu di buktikan dengan kekompakan kedua nya, ada satu wajah yang masih saja belum mempercayai pemandangan malam ini.


Sedangkan ketiga wajah lain nampak kagum dan terkejut, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk pemasangan alat dan terlihat kedua dokter itu berbalik memandang dokter lain yang memiliki ekpresi berbeda.


"Ada apa dengan wajah kalian? Apa ada hantu? " sindir Alvaro dengan melepaskan jas putihnya.


"Aal jelaskan siapa dia? " tanya Andira dengan mata berbinar dan terkejut.


"Bukankah kamu melihat nya sendiri? " tanya balik Alvaro.


"Bagaimana bisa? Bahkan kami menyerah dengan kasus kali ini." gumam wanita yang kepala nya bersandar di dinding.


"Aal bisakah bicara to the point seperti biasanya." ucap Askaa yang kali ini terlihat lebih serius dari biasanya.


"Selamat malam untuk kalian." ucap Asfa yang memilih pergi dan kembali ke kamar pribadinya.


"Kita bicara di ruangan lain." ucap Alvaro berjalan meninggalkan ruangan dan terpaksa di ikuti oleh seluruh team nya.


Kelima orang itu berjalan menuju sebuah ruangan yang menjadi ruangan keluarga, ada kursi sofa berwarna maroon dan putih yang saling berhadapan dan melingkar. Alvaro lebih memilih sofa single hitam yang memang berbeda dari sofa lain nya, sedangkan dua wanita di sofa maroon sebelah kanan dan dua pria di sofa putih sebelah kiri.


"Apa yang ingin kalian tahu? " tanya Alvaro dan kali ini wajah nya dingin dan serius.


Aura yang berbeda dari biasanya semakin terasa merayap memenuhi atmosphere di ruangan itu, dan itu membuat team nya menghela nafas secara berjamaah. Sesaat hanya ada keheningan yang membuat suasana semakin mencekam, hingga suara berat memulai percakapan yang menjadi titik masalah.


"Siapa queen sebenarnya? Jika dia dokter utama, kenapa masih membutuhkan kami? " tanya Leon dengan memandang Alvaro.


"Apa pertanyaan kalian? " ucap Alvaro memandang ke anggota lain nya.

__ADS_1


"Aal, sedikit saja jelaskan apa alasan kami kemari? " ucap Askaa.


"Aku tidak memiliki pertanyaan, tapi satu kesempatan dari mu tidak bisa ku abaikan. Apakah dia kekasih mu Aal? " tanya Andira dengan wajah serius namun sudut mata nya menahan sesuatu yang perlahan mulai terbendung.


"Kamu? " tanya Alvaro menatap anggota terakhir nya.


"Ntah lah, semua pemikiran burukku terpatahkan dengan bukti nyata. Bahkan semua pengalaman ku seperti hanya satu suap nasi yang baru ku rasakan jika melihat keahlian dan kecerdasan nya. " ucap Gabrielle dengan menatap kosong udara.


Sebuah senyuman samar terbit di bibir Alvaro mendengar jawaban dari Gabrielle, tapi kini ada tiga pertanyaan yang harus di jawab oleh nya. Tentu nya jawaban yang akan membuat semua nya diam tanpa menjatuhkan pertanyaan lagi, dan sedari awal dirinya sudah menyiapkan semua nya dengan baik setelah memutuskan membawa team nya ke mansion tempat tinggalnya.


"Dia adalah queen, jantung dari dunia penolong kita. Dia salah satu makhluk yang di berkati kecerdasan setelah mengalami koma saat kecil, dia lah Putri dari tuan besar Luxifer dan kalian tahu siapa itu tuan besar Luxifer. Alasan kalian disini adalah aku, aku yang mengajukan syarat untuk melakukan operasi dengan team ku sendiri dan siapa queen. Hanya dia yang tahu siapa dirinya , bahkan pemikiran kita tidak akan mencapai pada tujuan nya." ucap Alvaro dengan jelas.


"Aal, kenapa tidak mengatakan sejak awal jika dia putri tuan besar? " ucap Askaa yang cukup khawatir.


"Why? " tanya balik Alvaro dengan alis terangkat.


"Kita semua berutang budi Aal, apa kamu mau melihat kami di panggang? Astaga Aal." jawab Askaa dengan frustasi.


"Relax boy, tanggungjawab kalian ada di tangganku. Apapun kesalahan kalian hanya aku yang akan menerima akibatnya. Pergilah istirahat. Aku harus melakukan pekerjaan lain." ucap Alvaro dan bangkit dari duduk nya.


"Aal." panggil Andira lirih namun terlihat pria itu sudah berjalan menjauh.


"Ella bawa Andira ke kamar mu, semua akan baik." ucap Leon dan meninggalkan ruang keluarga dan disusul oleh yang lain nya.


Sedangkan di depan sebuah pintu berdiri seorang pria dengan pakaian yang rapi namun terlihat ketegangan di wajah pria itu, Alvaro yang melihat pria itu setia berdiri di depan pintu kamar pribadi Asfa segera dihampiri oleh nya.


"Masih belum keluar? " tanya Alvaro dan membuat pria itu menoleh ke arah nya.


Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban tapi wajah pria itu seperti belum di setrika selama sebulan saja karena saking kusut nya, tapi bukan itu yang menyambangi fikiran Alvaro. Melainkan kemana adiknya jika tidak ada di kamar pribadi nya, tanpa permisi Alvaro membuka kunci kamar pribadi Asfa dengan retina mata nya dan itu membuat pria dengan wajah kusut terkejut.

__ADS_1


"Diam disini dan tunggu." perintah Alvaro dan memasuki kamar yang langsung di tutup kembali pintu nya.


__ADS_2