My Secret Life

My Secret Life
Bab 212: Menantu Pertama


__ADS_3

Ceklek!


Tatapan matanya mencari sosok Justin.


"Itu dia," Rania berlari di dalam ruangan utama mansion tanpa mempedulikan tatapan para bodyguard.


Justin yang menuju pintu utama mansion, harus berhenti ketika tangannya di hadang saat ingin membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Justin datar.


Rania membuka pintu, lalu memberikan isyarat agar Justin keluar terlebih dulu. Pria itu hanya mengikuti tanpa kata, dan membiarkan Rania melakukan apapun.


Rania menutup pintu setelah keluar dari mansion. Kini keduanya berdiri di depan pintu utama mansion.


"Apa dia menghubungimu?" tanya Rania to the poin.


Justin mengerutkan kedua alisnya.


Apa anak ini tahu, jika Queen yang menghubungi ku? Tidak, tidak semudah itu memahami cara kerja queen. Lalu, siapa yang dimaksud anak ini?~batin Justin.


Rania menepuk lengan Justin, membuat pria itu berdehem.

__ADS_1


"Dia siapa?" tanya Justin berpura-pura bingung.


Rania mencebikkan bibirnya. "Apa aku harus menyebutkan namanya? Kamu mau, papa dan hubby ku tahu tentang misi diammu ini?!"


Sindiran Rania, membuat Justin menahan senyumannya. Ternyata dari semua orang, anak satu itu sangat cepat belajar memahami orang disekitarnya. Meskipun begitu, tetap saja misi penyerangan perbatasan bukan hal baik untuk Rania yang selalu bekerja di depan layar virtual.


"Masuklah! Jika kamu mengenal dia, maka kamu tahu apa yang menyulut emosinya. Benar bukan?" sindir balik Justin, dan sukses membungkam Rania.


Hentakkan kaki Rania tak membuat Justin goyah, pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Awasi menantu pertama Tuan besar! Aku ingin malam ini, Rania tetap di dalam mansion kecuali keluar bersama Tuan Muda atau Tuan besar sendiri.''


Perintah Justin pada seseorang melalui telepon, membuat Rania membulatkan mata seraya menahan rasa kesal di dalam hatinya.


Melihat Rania tidak menjawab, apalagi mengeluh. Justin memilih meninggalkan istri Varo dan menghampiri mobil jeep nya yang terparkir tak jauh dari pintu utama mansion.


Rania membiarkan Justin pergi tanpa dirinya. Setelah memastikan Justin keluar dari pintu gerbang mansion, langkahnya kembali masuk ke dalam mansion.


Kekesalan di wajah menantu pertama, membuat wajah seorang wanita paruh baya penasaran. Saat Rania berjalan melewati dirinya begitu saja. Itu adalah hal yang tidak biasanya terjadi.


"Non?!" panggil wanita paruh baya, sontak membuat Rania membalikkan tubuhnya.


Mata merah, bibir manyun, dan tangan mengepal.

__ADS_1


"Ada apa, Non?" tanya wanita paruh baya seraya berjalan mendekati Rania, lalu mengusap pipi menantu pertama dengan penuh kasih.


"Aku ingin ikut misi bersama queen." jawab Rania tegas.


Wanita paruh baya menatap Rania dengan tatapan serius, "Queen?"


Rania mengangguk membenarkan apa yang di dengar wanita paruh baya di depannya itu.


"Sebaiknya kita bicarakan ini ditempat lain. Ayo!'' ajak wanita paruh baya menarik tangan Rania meninggalkan ruang tamu mansion menuju ke arah kolam renang.


Para bodyguard hanya memperhatikan tanpa mendengarkan. Peraturan masih sama meskipun tanpa queen mereka. Keduanya berpindah tempat dimana hanya ada kesunyian dan ketenangan di temani birunya air kolam renang.


Wanita paruh baya membimbing Rania untuk duduk di kursi santai pinggir kolam renang. "Apakah queen sudah kembali?"


"Seorang Justin tidak mungkin meninggalkan tuan besar, jika bukan karena satu alasan dirinya berada di mafia Phoenix. Benar 'kan?" ucap Rania.


"Benar, dan alasan itu hanyalah Queen. Apa yang Justin katakan?" tanya wanita paruh baya menatap Rania.


Rania mendengus sebal mengingat bagaimana Justin membungkam dirinya dengan panggilan pengawasan. Bungkamnya menantu pertama. Jelas pasti ada yang tidak beres, tapi apa?


"Rania!" panggil wanita paruh baya seraya tangannya memegang kedua bahu menantu pertama.

__ADS_1


__ADS_2